Kamis, 14 Mei 2015

BPJS di Desaku


Apa itu BPJS Kesehatan ? saat ini Orang masih sedikit bingung, termasuk saya. Informasi awal mengenai Program Kesehatan oleh pemerintah yang resmi beroperasi per 1 Januari 2014. JKN atau Jaminan Kesehatan Nasional adalah program pemerintah pusat mengenai pemberian hak-hak pelayanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia, sedangkan BPJS (Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial) adalah penyelenggara program tersebut. Ada dua (2) macam penyelenggaran JKN, yakni BPJS Kesehatan yang diperuntukkan untuk masyarakat umum dan BPJS Ketenagakerjaan untuk perusahaan yang mengikutsertakan karyawannya dalam program JKN. BPJS Ketenagakerjaan dulu bernama Jamsostek.
Untuk dapat tercatat sebagai anggota, kita harus mendaftar melalui kantor BPJS Kesehatan dengan membawa kartu identitas (KTP) serta pasfoto. Setelah mengisi formulir pendaftaran dan membayar iuran lewat bank (BRI, BNI dan Mandiri), calon anggota akan mendapat kartu BPJS Kesehatan yang bisa langsung digunakan untuk mendapat pelayanan kesehatan.

Iuran yang dibayarkan ke bank disesuaikan dengan  jenis kepesertaan, yang diantaranya adalah:

  • Anggota yang terdaftar sebagai penerima bantuan iuran (PBI), (adalah anggota pekerja penerima upah dan bukan penerima upah, dan ada pula bukan pekerja), jumlahnya sudah ditetapkan oleh pemerintah sebanyak 86,4juta orang dengan iuran Rp19.225 per orang dalam satu bulan.
  • Peserta penerima upah seperti pekerja perusahaan swasta,  membayar jumlah iuran sebesar 4,5 % dari upah satu bulan dan ditanggung oleh pemberi kerja 4 persen dan 5% ditanggung pekerja. Sedangkan PNS dan pensiunan PNS membayar iuran sebesar 5  %, sebanyak 3 % ditanggung pemerintah dan 2 % ditanggung pekerja.
  • Untuk peserta bukan penerima upah seperti pekerja sektor informal besaran iuran yang harus dibayarkan, sesuai dengan jenis kelas perawatan yang diambil. Untuk ruang perawatan kelas III Rp 25.500, kelas II Rp 42.500 dan kelas I Rp59.500.
Dengan adanya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh BPJS bertujuan untuk memberikan perlindungan kesehatan agar setiap peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan . Pengertian definisi jaminan kesehatan, dengan prinsip asuransi social berdasarkan:
  • Kegotongroyongan antara masyarakat kaya dan miskin, yang sehat dan sakit, yang tua dan muda, dan yang beresiko tinggi dan rendah.
  • Anggota yang bersifat wajib dan tidak selektif.
  • Iuran yang dibayarkan per bulan berdasarkan persentase upah / penghasilan.
  • Jaminan Kesehatan Nasional Bersifat nirlaba.
Sedangkan yang dimaksud dengan prinsip ekuitas adalah kesamaan anggota dalam memperoleh pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis yang terikat dengan besaran iuran yang dibayarkan. Dan ini adalah bagian dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang masuk dalam program kesehatan Pemerintah Indonesia pada tahun 2014 oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) nantinya.

Jenis Pelayanan Kesehatan
Ada 3 jenis / tingkat pelayanan kesehatan yang ditetapkan untuk kepesertaan BPJS pekerja bukan penerima upah dan bukan pekerja (umum) sesuai dengan iuran yang harus dibayarkan, yakni :

  1. Pelayanan di ruang perawatan kelas III dengan iuran sebesar Rp.25.500,- (dua puluh lima ribu lima ratus rupiah) per orang per bulan.
  2. Pelayanan di ruang perawatan kelas II dengan iuran sebesarRp.42.500 (empat puluh dua ribu lima ratus rupiah) 
per orang per bulan.
  3. Pelayanan di ruang perawatan kelas I dengan iuran sebesar Rp.59.500,- (lima puluh sembilan ribu lima ratus rupiah) 
per orang per bulan.
Iuran dibayarkan setiap bulan satu kali, bersatu untuk satu anggota keluarga. Jadi, jika anggota keluarga anda yang didaftarkan 4 orang, dengan memilih perawatan kelas III, maka tiap bulannya iuran yang dibayarkan adalah 4 orang dikali Rp. 25.500, yakni Rp. 102.000,-/perbulan. 

Sebelum mendaftarkan diri di Kantor BPJS, siapkan terlebih dahulu dokumen yang dibutuhkan yakni :
- Fotocopy Kartu Keluarga (KK)
- Fotocopy KTP anggota keluarga yang akan didaftarkan
- Pasfoto warna 3x4 masing-masing 1 lembar
Catatan :
* Untuk anak dibawah umur yang belum memiliki KTP, bisa dengan Akta Lahir
* Anggota keluarga yang akan didaftarkan harus sudah tercantum di KK
* Jangan lupa bawa dokumen asli (bukan fotocopy) pada saat mendaftar 
Anda juga bisa mendaftarkan kepesertaan BPJS secara online melalui layanan di website resmi BPJS Kesehatan :www.bpjs-kesehatan.go.id  

Dengan demikian BPJS adalah :
  • BPJS Kesehatan adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang dibentuk pemerintah untuk memberikan Jaminan Kesehatan untuk Masyarakat,
  • Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan program kesehatan untuk mewujudkan masyarakat dengan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis.
Bagi sedulur sedoyo monggo untuk memanfaatkan program pemerintah ini apabila kurang jelas dengan program ini coba mintalah informasi ke kepala desa atau puskesmas di kelurahan Mangunharjo...

Sabtu, 11 April 2015

Sungai Irigasi Desa Mangunharjo

Di jembatan sungai ketek desa Pecangkringan Mangunharjo
Siang itu matahari sangat cerah dan udara sangat panas hingga terasa menyengat kulit, yah begitulah ketika musim kemarau. Karena rasa bangga dan cinta terhadap kampung halamanku semua itu tidak menjadi alasan untuk sekedar berkeliling desa hingga ke desa tetangga. Motor yang kunaiki sengaja tidak terlalu kencang agar setiap sudut jalan yang ku lewati tidak lepas dari pandanganku.

Saya mengitari seluruh desa yang masuk wilayah kelurahan Mangunharjo dari mulai desa Duduhan terus ke desa Caruban, Kemujan hingga ke desa Pecangkringan. Di desa Pecangkringan saya berhenti di jembatan yang kebetulan airnya sangat sedikit karena memang sedang musim kemarau, saya lama berhenti sambil melihat sekeliling sungai dan tak lupa mengabadikanya dengan ponselku. 
Jembatan sungai Ketek desa Pecangkringan Mangunharjo
Wilayah kelurahan Mangunharjo memang diapit oleh dua sungai yaitu sebelah barat sungai ketek dan sebelah timurnya adalah sungai balo. Dengan adanya kedua sungai tersebut diharapkan dapat mengairi area persawahan di kelurahan Mangunharjo, tetapi kenyataanya pada saat musim kemarau sungai tersebut tidak bermanfaat sama sekali. Sumber air yang datang dari waduk sempor dan wadaslintang tidak mengalir sampai ke desa saya. Mungkin akibat salah urus kali yah...????
Jembatan Karangkambang pecangkringan
Maka tidak mengherankan ketika musim kemarau tiba kelurahan Mangunharjo sangat tandus tidak ada kegiatan bercocok tanam. Terus bagaimana bisa, Indonesia swasembada beras? seperti cita-cita pemerintah. Tidak bisa dipungkiri sumber air adalah sangat penting untuk irigasi. Mengingat Indonesia adalah Negara agraris dengan tanaman dan makanan utama penduduknya adalah beras, maka peran irigasi sebagai penghasil utama beras menduduki posisi penting. Irigasi memerlukan investasi yang besar untuk pembangunan sarana dan prasarana, pengoperasian dan pemeliharaan. Oleh karena itu perlu dilakukan pengelolaan yang baik, benar, dan tepat sehingga pemakaian air untuk irigasi dapat seoptimal mungkin.
Sungai Ketek desa Pecangkringan Mangunharjo
Tak terasa dua jam sudah saya berdiri di pinggir sungai ketek, ku lanjutkan perjalanan keliling desa. Tujuan berikutnya adalah menuju desa Karangkambang lagi-lagi saya berhenti di sebuah jembatan, yang dulu pada saat saya kecil banyak sekali ikan-ikan disini. Jembatan ini merupakan faforit para remaja untuk sekedar duduk-duduk diwaktu sore sambil sesekali menggoda para gadis-gadis yang baru pulang dari sekolah. Karena perut sudah terasa laper ku putuskan untuk kembali ke rumah dengan tetap mengendarai sepeda motor dengan kecepatan rendah, dan tetap mataku clingak clinguk ke kanan dan kekiri menikmati pemandangan persawahan dan pohon jati yang tertanam rapi dipinggir jalan antara desa Pecangkringan dan Bulupayung.

Itulah gambaran sedikit desaku desa yang selalu kurindukan setiap saat, tapi apapun kondisimu aku tetap akan merindukanmu dimanapun saya berada. Majulah desaku.

Minggu, 15 Maret 2015

Membangun Desa

Kegiatan kerja bakti di desa Bulupayung
Orang-orang sering mengatakan masyarakat Desa punya banyak permasalahan terutama kemiskinan. Hampir semua data dan laporan menuliskan, angka keluarga miskin mencapai 75 % dari jumlah keluarga yang ada.  Padahal kalau dilihat dari realita di lapangan,  sebenarnya angka yang dilaporkan itu terlalu jauh dari kenyataan. Mungkin karena pengaruh penentuan kriteria tingkat kesejahteraan oleh berbagai dinas/instansi dalam memberikan paket bantuan sehingga menyebabkan banyak orang yang menyatakan dirinya miskin.

Sebenarnya masyarakat desa itu memiliki banyak potensi seperti tersedianya lahan pertanian, ternak dan hasil bumi atau hasil laut yang melimpah.. Apabila dimanfaatkan dengan baik, tentu potensi desa ini akan dapat memperbaiki ekonomi mereka.

Memang ada beberapa kelemahan yang tidak dapat kita pungkiri. Misalnya pola konsumtif yang cukup tinggi, serta lebih mengedepankan hal-hal yang praktis saja tetapi itu tidak bisa jadi acuan. Ini bisa terjadi karena sudah terlalu terbiasa dengan berbagai bantuan dari proyek pemerintah maupun dari pihak lain. 

Untuk membangun wilayah mereka agar tidak selalu ketegantungan dengan pihak lain sangat diperlukan proses membangun daya kritis mereka. Selain mengetahui apa yang jadi kelemahan, mereka juga perlu disadarkan bahwa mereka memiliki kekuatan. Kekuatan dalam diri  mereka maupun yang berada disekitar mereka. Mereka memiliki lahan pekarangan. Ini dapat mereka manfaatkan dengan tanaman sayuran baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk dijual. Begitu juga dengan ternak. Mereka bisa gunakan untuk pengolahan lahan, maupun sebagai bahan pembuatan pupuk organik..

Cara yang dilakukan adalah melibatkan mereka dalam proses monitoring dan evaluasi karena ini menjadi bagian penting untuk memperbaiki pelaksanaan kegiatan. Pendekatan yang dilakukan lagi adalah pendekatan pada keberhasilan yang sudah ada, bukan pada pendekatan masalah sehingga dapat diketahui  kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat yang bisa mendukung kearah pemanfaatan potensi yang ada. Kekuatan yang dibangun dari masyarakat akan terus dijaga dan ini akan mendorong lahirnya satu komitmen untuk berubah mencapai kemajuan, mengatasi  ketidakberdayaan, mengejar keterbelakangan dan melawan ketidakadilan.

Desa Bulupayung terus membangun
Dengan demikian jelas tergambar bahwa masyarakat desa sebenarnya memiliki kekuatan. Mereka dapat membangun daya kritisnya sehingga dapat mewujudkan kehidupan yang lebih baik, segala kebutuhan bisa dipenuhi, dan semua masyarakat akan sejahtera.

Jika kondisi tersebut dapat diwujudkan, maka hampir semua rumah tangga tidak ada lagi yang kekurangan pangan. Mereka dapat memperolehnya dari produksi pemanfaatan lahan pertanian maupun membeli dari perolehan usaha sampingannya, sehingga kebutuhan gizi anak dapat dipenuhi. Mereka pun dapat menggunakan layanan kesehatan untuk mengobati anak-anak mereka jika sakit. Mimpi “mewujudkan kehidupan anak Indonesia yang lebih baik” benar-benar menjadi satu kebanggaan tersendiri.

Selanjutnya kita tidak akan berhenti pada pemenuhan kebutuhan, tetapi kita akan berbicara pada jangka waktu yang panjang. Jika suatu masyarakat sudah sejahtera maka sifatnya akan menggenerasi sehingga tidak ada lagi istilah miskin karena keturunan karena hal itu sudah dikubur dalam-dalam. Inovasi dan pikiran-pikiran kritis  akan jadi bagian dari kehidupan mereka.

Untuk mengarahkan masyarakat desa pada “perubahan” jelas diperlukan komitmen berbagai pihak yang merasa prihatin dengan masyarakat desa., agar beberapa proses pemberdayaan betul-betul dilakukan. Jangan malah sebaliknya membuat mereka tidak berdaya dan masyarakat ditipu. Transparansi dan menanamkan nilai-nilai kejujuran serta keadilan menjadi hal penting untuk ditempatkan pada posisi yang paling tinggi. Ini pun akan menjadi teropong yang akan mengarahkan jalannya kegiatan menjadi lebih baik 

Rabu, 04 Februari 2015

Napak Tilas Tempat Bermain di Bulupayung

Jalan antara rumah Bp.Turiman dan Bp.Adi dilihat dari arah selatan
Kalau kita membayangkan masa kecil di kampung dulu, tentunya banyak hal yang indah dan mengharukan. Karena disitulah berbagai macam kenangan akan muncul terutama saat bermain bersama teman-teman. Permainan tempo dulu yang merupakan permainan tradisional yang merupakan warisan turun temurun. Kita mungkin sudah melupakan maupun tidak mengajarkan kepada generasi kita maupun anak kita, namun seiring kemajuan teknologi, saat ini anak-anak cenderung bermain dengan jenis permainan elektronik dan internet, apalagi dengan maraknya jejaring sosial dan BBM yang tidak menutup kemungkinan seusia anak-anak sudah menikmatinya.Banyak sekali permainan tradisional yang mungkin selama ini terlewatkan begitu saja seperti Main Kelereng, Petek Umpet, Bekel, Gobak Sodor, Main Engklek dll. 

Begitu pula dengan tempat dan sarana, tidak usah diragukan lagi untuk jaman sekarang tempat bermain, bisa di dalam gedung yang megah atau tempat-tempat yang butuh biaya sewa mahal. Beda saat jaman saya dulu waktu dikampung Bulupayung yang begitu menawan hatiku. Tempat bermain bisa dimana saja karena memang desaku banyak tempat yang cocok untuk bermain tanpa harus sewa ataupun ijin empunya. 

Tempat bermainku dulu sekarang sudah dibangun rumah.
Beberapa tempat favorit bermain tempo dulu didesakau antara lain yaitu jalan antara rumah Bapak Turiman dan Bapak Adi, dulu tempat itu adalah pelataran samping rumah Mbah Silah almarhum, tempat itu tiap sore selalu rame oleh anak-anak seusia SD. dari mulai tempat tongkrongan hingga main kelereng, karet gelang, gambar wayang dos-dosan, petak umpet, sulamanda, sepeda onthel dll. Tak jauh dari tempat itu masih satu area sedikit lebih kearah selatan yang sekarang menjadi rumah Bapak Yanto dulu adalah rumah Uwa Sindon dan samping rumah Bapak Jono yang sekarang menjadi rumah yang ditempati Bapak Salimun juga tak kalah meriahnya. Ditempat ini bahkan sering dijadikan tempat bermain sepak bola.

Perempatan jalan tengah desa yaitu depan rumah Bapak Sarjono (mas Jalu) dan Bapak Roso, disitu dulu juga rame, bahkan merupakan salah satu tempat yang sangat favorit dari mulai anak kecil, remaja, dewasa hingga orang tua, hanya sekedar duduk-duduk sambil ngobrol dari bermain karet gelang hingga petak umpet baik siang atau malam. Bahkan tempat itu sebagai tolak ukur keramaian desa Bulupayung.

Kalau kita bergeser sedikit kearah timur dari jalan peempatan tersebut dari mulai halaman rumah Bapak Sarjono (mas Jalu) hingga rumah Bapak Karto Saikan almarhum (Bapak Gondar) bahkan hingga sampai pinggir desa sebelah timur ditempat itulah tempat-tempat bermain yang sangat mengasikan jangankan saat musim kemarau saat musim hujanpun tempat itu selalu ramai oleh anak-anak untuk bermain. luar biasa..

Jalan setapak didepan dan samping rumah Bp.Somakaryo
Tak jauh dari tempat itu tepatnya depan rumah bapak Sutimin hingga samping rumah bapak Sumokaryo sampai halaman rumah bapak Nasimin, itu juga tempat bermain anak-anak seusiaku dulu saat masih kecil. Banyak jenis permainnan yang bisa dimainkan di tempat tersebut. Terus kalau kita lanjutkan lagi tidak jauh dari tempat bapak Nasimin tinggal bergeser sedikit kearah utara, ada tanah lapang tak jauh dari tempat pemakaman yang tidak begitu padat. Disitu dulu juga ajang bermain anak-anak kecil hingga orang dewasa karena dahulu ditempat itu ada lapangan volly ball yang rutin dipergunakan tiap sorenya, bahkan tidak sedikit untuk ajang pertandingan volly antar desa.

Masih banyak tempat-tempat yang sering digunakan untuk bermain seperti pelataran rumah mbah Wijaya, pelataran rumah bapak Kasijo dan masih banyak lagi. Begitulah indahnya masa kecilku yang begitu mudahnya mencari tempat bermain tanpa harus berebut hanya untuk sekedar bermain. Beruntung kita hidup dan besar di desa setiap jengkal tanah kosong selalu jadi ajang bermain. Coba kita lihat cerita-cerita orang yang hidup di kota besar hanya sekedar mencari tempat bermain saja sulitnya minta ampun, kadang harus berebut dengan pihak lain atau bermain dengan menantang bahaya... Alhamdulillah .... kita harus tetap bersyukur.....

Kamis, 15 Januari 2015

Tempat Tongkrongan Favorit di Bulupayung

Jembatan kecil di ujung selatan desa Bulupayung
Keindahan desa Bulupayung di kelurahan Mangunharjo kecamatan Adimulnyo kabupaten Kebumen, buat saya tidak pernah hilang dari ingatan. Desa yang tidak begitu luas, penduduknyapun tidak terlalu banyak. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mengelilingi semua penjuru desa. 

Setiap pulang kampung saya selalu menyempatkan mengelilingi kampung dengan sepeda onthel, sambil mengingat berbagai tempat dulu dimana saya dan teman-teman sering duduk-duduk ngobrol (nongkrong). Dari mulai ujung desa sampai ujung berikutnya selalu ada tempat favorit seperti jembatan kecil. Karena memang desaku setiap ujung desa selalu ada jembatannya. Jembatan tersebutlah dulu dimana saya dan teman-teman sebayaku duduk-duduk (nongkrong) ngobrol ngalor ngidul ga jelas.

Jalan simpang empat di ujung utara desa Bulupayung

Jalan perempatan ujung desa Bulupayung sebelah utara
Hampir setiap sore sehabis ashar hingga menjelang mahgrib jembatan itu selalu ramai oleh anak remaja, apalagi kalau kebetulan musim main layangan atau musim tanam padi, jembatan yang di ujung desa itu selalu ramai. Atau sambil menunggu anak pulang sekolah yang masuk siang, apalagi bagi anak prianya selalu mensortir anak gadis yang sekiranya mempunyai paras ayu tidak akan terlewatkan untuk menggodanya. Wajar dimanapun seorang laki-laki kalau melihat wanita cantik pasti akan tergoda. 

Bukan di pinggir sudut desa saja, dipusat desa seperti jembatan kecil di dekat rumah Bapak Sarjono (Mas Jalu) selalu menjadi tempat favorit. Mungkin tempat itu akan sepi bila penghuni desa lagi sibuk semua. dari mulai pagi, siang, sore hingga malam tempat itu selalu ramai oleh candaan anak kecil hingga orang dewasa. Karena memang tempatnya yang strategis juga sangat nyaman untuk sekedar nongkrong. Sampai sekarangpun tempat itu masih menjadi tempat favorit para remaja.. 
Jalan perempatan pusat desa Bulupayung
Begitulah desaku desa yang sangat kurindukan dimanapun dan kapanpun saya berada, Saya selalu berusaha mengingat dan melihatnya jangan sampai hilang dari ingatanku, paling tidak minimal setahun sekali.
Begitulah keindahan desaku yang luar biasa buat saya...

Rabu, 31 Desember 2014

Catatan Akhir Tahun Desaku

Wajah desaku yang bikin kangen
Desaku Bulupayung itulah nama desaku tempat saya dilahirkan dan dibesarkan, nama yang aneh di telinga tetapi itulah adanya, Desa yang terletak di kecamatan Adimulyo Kabupaten Kebumen Jawa Tengah adalah desa kecil kurang lebih 6 km dari jalan utama jalur selatan jawa. Jumlah penduduknya tak lebih dari 100 KK, 99,99 %  beragama muslim. Sebagaian besar masyarakat desaku bermata pencaharian sebagai petani, sawah adalah sumber pokoknya. 

Masih terbayang dalam ingatanku desaku ketika masa-masa kecilku, begitu banyak menyisakan kenangan. Akhir tahun 1993 saya meninggalkan desa itu untuk mencari pengalaman baru di tempat lain untuk belajar berbenah diri dan menemukan jati diri yang sesungguhnya. Kini dipenghujung tahun 2014 tersirat pertanyaan di benaku, Kapan saya bisa pulang ke desa untuk menghabiskan sisa umurku disana ?. Sering terbayang wajah suasana desaku ketika mengalami kesemerawutan di perantauan apalagi semacam kota besar seperti ibukota ini. Ingin rasanya sebulan sekali saya bisa jalan-jalan keliling desaku, dengan keramahan penduduknya, tapi itu tidak mudah bisa diwujudkan.

Didesa itu dulu saat mandi di sungai, bermain layang-layang, main kelereng, main petak umpet dan masih banyak lagi, itu semua yang menimbulkan rasa rindu yang amat sangat. Belum lagi cerita lain ketika menginjak remaja ada saja yang perlu disesali dan tentu ada pula yang patut di syukuri, namun tetap saja indah bila dikenang. Apalagi jika melihat sudut-sudut desa yang masih saja serupa dulu, inilah desaku, tak banyak yang berubah. Entah, saya tidak bisa mengukur dan menggabarkan seberapa dalam dan besar rasa cinta saya pada desaku Bulupayung. 

Sudut Desaku
Mungkin benar kata orang, bahwa salah satu ikatan emosional yang paling mendasar dalam diri manusia adalah kenangan terhadap tempat dan lingkungan dimana dia dilahirkan dan dibesarkan. Seperti halnya peristiwa mudik. Seolah mempunyai kekutan tersendiri orang berlomba sekuat tenaga dengan berbagai cara agar bisa pulang kampung di hari raya lebaran. Jawabanya adalah "ingin kembali ke kampung halaman, tempat ia dilahirkan. Disitulah tersimpan segala kenangan manis masa kecil bersama orang tua, saudara2, dan teman2 sepermainan, dengan rumah dimana dia dilahirkan, dengan lingkungan yang akrab dia kenal sehari-hari. Pada dasarnya ia ingin kembali, ketempat dia lahir, seakan ada kekuatan yang luar biasa.

Itu juga yang berlaku pada diri saya. Walaupun telah meninggalkan rumah tempat kelahiran saya hampir 21 tahun. Namun ikatan emosional saya dengan tempat itu tidak pernah berkurang, bahkan dengan makin tambahnya umur terasa makin kuat. Begitu banyak kenangan manis yang tidak mungkin terlupakan yang terkait dengan rumah dan ligkungan tempat saya dilahirkan.

Tahun 2014 beberapa saat lagi akan berakhir, semoga ditahun berikutnya desaku yang kucinta akan lebih baik, maju dan makmur serta sejahtera...
.

Senin, 01 Desember 2014

Asal Mula Nama Desa Bulupayung

Desa Bulupayung
Desa Bulupayung adalah sebuah desa di kelurahan Mangunharjo kecamatan Adimulnyo kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Desa kecil berpenduduk sekitar 90-an KK, desa yang diapit oleh hamparan sawah yang luas. Dari kota Kebumen dapat ditempuh sekitar 17 km, hanya sekitar 10 km dari pantai selatan (Petanahan). Untuk menuju desa ini dari jalur selatan dari arah Purwokerto setelah Gombong akan menjumpai kota kecil Karanganyar, setelah sampai pasar karanganyar belok kanan menyusuri jalan kaleng sekitar 6 km sampailah di desa Bulupayung.

Bagi penduduk sekitarnya desa Bulupayung ditempo dulu terkenal dengan angker/seram, karena untuk menuju desa tersebut harus melalui jalan yang dikeramatkan, terutama yang dari arah timur, utara dan barat. Dari arah tersebutlah terdapat makam tua yang dikeramatkan. Banyak kejadian-kejadian aneh yang dialami oleh pejalan kaki atau pengendara yang melalu jalan tersebut.

Menurut cerita yang saya dapat dari para orang tua dan nenek moyang saya yang sudah lama mendiami desa tersebut, desa Bulupayung mempunyai kisah yang sedikit agak miris. Itu ditandai dengan adanya makam tua di sisi utara desa yang semuanya berjumlah tiga. Makam tersebut masih merupakan satu keluarga. Makam yang disisi utara sebelah tengah ada dua makam di sisi kanannya adalah makam P. Trenggono dan Nyai Maduretno sedang di sisi kirinya adalah makam anaknya Siti Sundari dan yang satu lagi di ujung timur sebelah utara adalah anak lelakinya P. Joyo Kusumo.
Jalan menuju makam sebelah timur desa
Awal kisahnya dahulu ada pasukan Pangeran Diponegoro yang habis bertempur melawan Belanda di daerah Gombong, mereka mengalami kekalahan dan melarikan diri ke arah tenggara yang bermaksud kembali ke markasnya di Gua Selarong Jogjakarta.  Karena sebagian pasukanya mengalami luka-luka mereka mencari tempat untuk beristirahat sambil mengobati lukanya. Berhentilah di suatu tempat yang banyak di tumbuhi pohon-pohon besar, mereka mendirikan peristirahatan semacam perkemahan.

Diceritakan pohon tersebut memiliki ranting dengan dahan yang menjulur hampir menyentuh tanah dan sangat ridang, dari rantingnya memiliki cabang-cabang ranting kecil membentuk seperti daun pisang, andai hujan turun airnya tidak akan dapat menembus ranting tersebut. Kalau dilihat dari kejauhan nampak seperti payung yang sedang mengembang, dengan ranting daun yang menjulur menyerupai bulu ayam. Mungkin kalau digambarkan hampir mirip seperti pohon beringin, tetapi menurut orang-orang tua di desa itu, pohon itu bukan pohon beringin, terus pohon apaan ?. wis pikir deweklah....

Setelah dirasa pulih dan kuat untuk melanjutakan perjalanan pasukan P. Diponegoro melanjutkan perjalanan menuju markasnya di Jogjakarta. Salah satu prajuritnya yang bernama P. Trenggono ditinggalkan ditempat itu, tidak tau apa maksudnya dan apa pangkatnya (tumenggung, demang, senopati atau panglima). Dari situlah tempat itu makin banyak didatangi orang dan bahkan dijadikan tempat tinggal. Karena banyaknya orang yang mendiami maka seiring waktu si prajurit tersebut  memberi nama daerah itu dengan nama Bulupayung yang sampai saat ini menjadi sebuah desa masih dengan nama tersebut. 

Sedang kisah mirisnya terjadi pada anak perempuanya yang bernama Siti Sundari. Siti Sundari mempunyai paras yang cantik dengan rambut panjang hitam lebat hampir menyentuh tanah. Dari kecantikanya banyak pemuda yang terpesona dan jatuh cinta. Banyak raja, tumenggung dan pangeran yang ingin mempersuntingnya. diceritakan juga karena kulitnya sangat putih dan bersih sampai-sampai ketika minum aliran airnya terlihat dari tenggorokanya. Bisa dibayangkan seperti apa putihnya putri tersebut, silahkan boleh percaya boleh tidak ?.

Tragis nasib Si Gadis ini, Dia meninggal dengan cara bunuh diri. Dia galau dan risau karena banyak pemuda yang ingin mempersuntingnya tetapi Dia tidak bisa menentukan mau memilih pemuda yang mana. Mungkin pikir Dia daripada menyakiti salah satu dari pemuda tersebut lebih baik mengahiri hidupnya saja.. Whow...kaya crita sinotron baelah... Tetapi sebelum mengahiri hidupnya Dia sempat mengeluarkan kalimat semacam sumpah isinya  kira-kira seperti ini :

"Kelak di desa ini tidak akan ada wanita cantik yang rambutnya panjang dan lebat, kalaupun dia cantik rambutnya tidak akan panjang dan lebat, kalau ada wanita yang cantik dengan rambut panjang maka umurnya tidak akan lama"  

Semoga saja sumpah itu tidak berlaku lagi. Dan banyak saya liat di desa Bulupayung wanita-wanita cantik, Alhamdulillah mereka baik-baik saja atau memang juga yang cantik kebetulan tidak berambut panjang, paling cuma sebahu atau sepunggung belum ada yang panjangnya sampai lutut apalagi sampai menyentuh tanah. Entahlah....yang jelas jangan menjadikan kita Syirik....

Itulah sedikit cerita terbentuknya desa Bulupayung yang masih erat dengan keberadaan tiga makam tua di desa tersebut silahkan boleh percaya boleh tidak.... Tulisan ini hanya berdasarkan cerita dari orang-orang tua, belum ada penelitian secara ilmiah untuk mendukung cerita tersebut.
Yang jelas sebagai orang yang terlahir dan besar didesa Bulupayung saya sangat bangga menjadi salah satu bagianya.


Bulupayung - Kebumen ....
Paguyuban Bulupayung & Duduhan
Makam P. Trenggono dan Nyai Maduretno di Desa Bulupayung