Sabtu, 11 Februari 2012

Sejarah Kaleng, Pucang, Brangkal, Kabupaten Roma (Jatinegara), Kruwed, dan Kabupaten Karanganyar: Perspektif Kebangkitan Nasional 1825-1900


Kantor Pos Gombong tahun 1920
Kantor Pos Gombong tahun 1920 (kitv Belanda)

Embrio Kabupaten Roma
Kabupaten Roma merupakan hasil Blengketan (fusi) dari Kabupaten Pucang dan Kabupaten Kaleng (pesisir Selatan). Fusi ini merupakan keputusan Sultan Pajang pada tahun 1543. Kabupaten ini beribukota di Sidayu (Utara Gombong).
Sebelum difusikan, Bupati Pucang dijabat oleh Kyai Adipati Jannah yang sebelum menjabat bernama Kyai Bojogati (makam di Gunung Grenggeng; timur Panembahan Grenggeng). Sedangkan Bupati Kaleng dijabat oleh Kyai Adipati Banyakgumarang, keturunan Adipati Pasir (Purwokerto) yang bernama Raden Kamandaka/Lutung Kasarung, keturunan dari Raja Pajajaran.
Sebagai Bupati Roma pertama diangkatlah Kertiwicana I. Sedangkan putra dari Bupati Kaleng diberi jabatan Ngabei (setingkat Wedana) di Kaleng dengan gelar Kyai Ngabei Wirokerti. Kertiwicana I wafat (dimakamkan di Sampang) dan digantikan oleh putranya yang bergelar Kertiwicana II (makam di Sampang) yang setelah wafatnya digantikan oleh putranya yang bergelar Kertanegara I. Pada masa pemerintahan Kertanegara I inilah ibukota kabupaten Roma dipindah di Jatinegara.

Asal – Usul Nama Wagerglagah/Wagirglagah
Setelah Kabupaten Kaleng dan kabupaten Pucang difusikan oleh Sultan pajang, Kyai Banyakgumarang menekuni dunia kapanditan (mbegawan) dengan belajar dan memperdalam agama Islam kepada Panembahan Grenggeng. Setelah dirasa memiliki bekal yang cukup, Banyakgumarang bertapa di gunung Pletuk, desa Kedungwringin, utara Gombong. Bertahun – tahun ia bersila tanpa bergerak, sampai tempat bersila dan badannya ditumbuhi alang – alang dan rumput glagah. Utusan Kanjeng Panembahan Grenggeng yang diperintahkan untuk memanggil Banyakgumarang pun mengalami kesulitan saat menemukannya. Setelah membabati glagah dan ilalang, barulah Banyakgumarang ditemukan dalam kondisi hidup dan segar badannya. Sejak saat itulah Banyakgumarang disebut Kyai Wagerglagah. Setelah wafat, jenazahnya dimakamkan di bawah pertapaannya di desa kedungwaringin/Kedungwringin.

Kyai Muhammad Syafi’i Penasehat Diponegoro
Salah satu keturunan Kyai Wagerglagah adalah Kyai Muhammad Safi’i. Ia adalah putra darri Kyai Muhammad Jafar (makam di Brangkal) bin Kyai Nuryadin/Nur Muhammad (makam di Jungkemureb Alang – alang Amba Karanganyar) bin Kyai Jubari (makam di Kedungbulus, utara Gombong) bin Kyai Wirokerti Ngabehi Kaleng (makam di Kaleng) bin Kyai Wagerglagah.
Kyai Muhammad Syafi’i diambil menantu oleh Kyai Muhammad Ngisa Krandegan (Puring) (?). Ia kemudian menuntut ilmu di Dongkelan Yogyakarta mengikuti Kyai Syahabudin (kakeknya; ayah dari Ibunya).
Pada suatu ketika, Sultan Hamengku Buwana II (Sinuwun Banguntapa) memerintahkan Kyai Syahabudin untuk menulis Quran. Berhubung ia sudah tua, pekerjaan itu ia serahkan kepada Kyai Muhammad Syafi’i cucunya. Alhasil Sultan Hamengku Buwana II puas sekali dengan karyanya tersebut. Kyai Muhammad Syafi’i pun dipanggil menghadap dan ditanya berbagai macam hal. Selanjutnya, atas kepercayaan Sultan Hamengku Buwana II, Kyai Muhammad Syafi’i dinikahkan dengan salah satu cucu Sultan yang bernama BRA Maryam, (putri Sultan Hamengku Buwana III/ Sinuwun Raja), adik Pangeran Dipanegara. Dengan kata lain, Kyai Muhammad Syafi’i menjadi adik ipar Pangeran Dipanegara.
Kyai Muhammad Syafi’i  yang meminta izin untuk kembali tinggal di kabupaten Roma diberi tanah lungguh (bengkok) di desa Brangkal dan diberi jabatan Mufti oleh Sultan Hemengku Buwana II. Ia juga diberi wewenang menikahkan orang dari desa Brangkal, Setanakunci, Kedunglo, Pucang, Prapag, Klapagada, Pekuncen, Kedungbulus, Kedungwringin, Pejaten dan Pohkumbang.
Kyai Muhammad Safi’i mengajarkan agama Islam di Brangkal dan mendirikan Masjid pada 1813. Brangkal masuk dalam wilayah Kabupaten Roma yang pada saat itu telah beribukota di Jatinegara utara Gombong.

Transisi Kepemerintahan di Kabupaten Roma
Kyai Kertanegara I diangkat menjadi Patih Kartasura bergelar Kanjeng Raden Adipati Mangunpraja, sehingga jabatan Bupati Roma kemudian digantikan oleh putranya yang bergelar Raden Tumenggung Kertanegara II.
Setelah Adipati Mangunpraja wafat (dimakamkan di Pekuncen, utara Gombong), Tumenggung Kertanegara II ditarik ke Solo (pada saat itu kraton telah dipindahkan dari Kartasura ke Solo). Di sana Kertanegara II dijadikan Bupati Nayaka (makam di Laweyan Solo). Kedudukan Bupati Roma kemudian digantikan oleh adik Kertanegara II yang saat itu telah menjabat sebagai Bupati Anom di Ayah bergelar Raden Tumenggung Kertanegara III.
Setelah Kertanegara III wafat (makam di Pekuncen), Bupati Roma selanjutnya digantikan oleh cucu RT. Kertanegara II jalur laki – laki yang bernama Raden Panji Indrajit, kemudian bergelar Kertanegara IV.

Dukungan Kabupaten Roma terhadap Dipanegara
Pada saat terjadinya perang Dipanegara, Raden Tumenggung Kertanegara IV selaku bupati Roma saat itu bersama warganya mendukung Pangeran Dipanegara. Kertanegara IV kemudian diberi gelar Senopati Banyakwide oleh Pangeran Dipanegara.
Peristiwa Perang Dipanegara
Pada saat terjadinya perang Dipanegara, Kyai Muhammad Syafi’i Brangkal yang merupakan adik ipar Dipanegara juga ikut aktif membantu dalam peperangan bersama RM. Arya Mangunprawira (adik Pangeran Dipanegara) dan RM. Jayaprana (adik sepupu Pangeran Dipanegara; putra Pangeran Arya Murdaningrat). Kyai Muhammad Syafi’i menjadi penesehat Pangeran Dipanegara menggantikan Kyai Maja. Pangeran Dipanegara bersama pasukannya bermarkas di Brangkal ketika melakukan penyerangan terhadap Belanda di Wilayah Roma (sekarang masuk dukuh di desa Kalibeji Kec. Sempor).

Pertempuran Candi
Pada tanggal 18 April 1829 Tumenggung Banyakwide (Tumenggung Kartanegara IV) tertangkap oleh Mayor Buschkens di Kemit. Meskipun Bupati Roma IV ini tertangkap Belanda, perlawanan rakyat Roma terus berlangsung. Bahkan pasukan Belanda secara sekonyong-konyong diserang oleh pasukan rakyat di desa Candi. Penyerangan mendadak ini mengakibatkan jatuhnya korban dipihak Belanda, sehingga desa Candi pun kemudian dibumihanguskan Belanda sebagai wujud kemarahan mereka, sekaligus untuk memberi peringatan pada rakyat yang mendukung Dipanegara.
Pertemuan Pertama Pihak Belanda dengan Pangeran Dipanegara
Pada tanggal 16 Februari 1830, terjadilah petemuan yang pertama antara Pangeran Dipanegara dan wakil tentara Belanda yakni Kolonel Cleerens (mewakili Jenderal de Kock yang sedang berada di Batavia) di desa Roma Kamal, di sebelah utara Roma Jatinegara. Setelah pertemuan ini, diadakan pertemuan lanjutan di desa Kejawang dan kemudian di Magelang yang berakhir dengan penangkapan Pangeran Dipanegara.
Pasca Penangkapan Pangeran Dipanegara
Pasca penangkapan Pangeran Dipanegara, RM. Arya Mangunprawira dan RM. Arya Jayaprana juga tertangkap di desa Brangkal. Setelah dianggap tidak membahayakan lagi, RM. Arya Mangunprawira diangkat sebagai Pembantu Kolektur di Muntilan sedangkan RM Arya Jayaprana dijadikan pegawai pengadilan di Purworejo. Selanjutnya RM. Arya Mangunprawira diangkat menjadi Kolektur (setingkat Ka Dis Pemda) di Kebumen dan diawasi oleh Adipati Arungbinang IV Bupati kebumen, sedangkan RM. Arya Jayaprana diangkat menjadi Beskal (suatu jabatan di Pengadilan Belanda) di Purworejo.

Pemerintahan Kabupaten Roma Pasca Perang Dipanegara
Setelah perang Dipanegara berakhir, Bupati Roma dijabat oleh Raden Tumenggung Sindunegara, Bupati Nayaka dari kraton Yogyakarta. Bupati Roma ini diberi pangkat Mayor oleh Belanda dan bertempat tinggal di Gombong.
Warga Kabupaten Roma yang memihak Dipanegara dapat ditumpas Belanda dengan mengerahkan pasukan yang terbagi dalam empat kelompok besar yang dipusatkan di Kenteng Kemit, Petanahan, dan dua wilayah lainnya. Pasukan ini sengaja dikerahkan untuk membantu Tumenggung Mayor Sindunegara yang bekerjasama dengan Belanda. Benteng pertahanan Belanda saat itu bernama Fort General Cochius. Raden Tumenggung Kusumareja (Bupati Anom) didatangkan dari Yogyakarta untuk membantu Raden Tumenggung Mayor Sindunegara mengatur kembali desa – desa yang rusak akibat pertempuran serta mengatur masalah pajak.
Pada tahun 1838 warga kabupaten Roma dan Ambal berontak kembali melawan Kasultanan Yogyakarta yang pada saat itu pro kepada Belanda.  Pemberontakan dipimpin oleh para bekas pengikut Dipanegara. Pemberontakan tersebut mengakibatkan kedua bupati dari masing – masing kabupaten itu mengungsi.  Di kabupaten Roma, pemberontakan dipimpin oleh Kyai Kramaleksana dari Kuwaru (putra Pangeran Purwadiningrat yang ikut bergabung dengan Dipanegara). Pemberontakan itu berakhir dengan pejanjian bersyarat dari Kyai Kramaleksana dimana pemerintah Roma dikemudian hari tidak boleh memperlakukan anak cucu dan keturunannya dengan sewenang – wenang.
Setelah pemberontakan dapat diredakan, RM. Arya Mangunprawira diangkat menjadi wakil Bupati Ambal, sedangkan RM. Arya Jayaprana dijadikan wakil Bupati Roma dan bertempat tinggal di dusun Kruwed desa Jatinegara (sebelah barat pasar Gombong sekarang). Kedua Wakil Bupati tersebut kemudian diangkat menjadi Bupati di masing – masing kabupatennya. RM. Arya Mangunprawira memakai gelar Purbanegara sebagai Bupati Ambal dengan ibukota tetap di Ambal, sedangkan RM. Arya Jayaprana bergelar Jayadiningrat.
RM. Arya Jayaprana bersedia dijadikan Bupati Roma dengan syarat Belanda tidak boleh secara langsung memerintah rakyat, melainkan hanya sebagai penasehat. Semua perintah kepada rakyat harus atas persetujuan dan melalui RM Arya Jayaprana. Pangkat Bupati Jayaprana tidak di bawah Residen, melainkan sederajat. Syarat – syarat tersebut disetujui Belanda asal kabupaten Roma menjadi tenteram.
Jayaprana bergelar Adipati, payungnya berwarna kuning kemilauan (warna keseluruhan payung kuning, sama dengan payung Residen). Ia juga membuat ketentuan bahwa yang diperbolehkan naik kendaraan/kereta/andong sampai ke tratag rambat hanya Residen. Asisten Residen dan pejabat yang lebih rendah harus turun dari kendaraan di paseban di alun – alun dan untuk sampai di pendopo harus bejalan kaki. Jayaprana kemudian bergelar Kanjeng Raden Adipati Jayadiningrat.
Atas pertimbangan kurang strategis dan luasnya kompleks Kabupaten, maka pada tahun 1841 ibukota kabupaten Roma dipindahkan dari Gombong ke tempat yang baru dan kemudian dinamakan Karanganyar. Kabupaten Roma kemudian berubah menjadi Kabupaten Karanganyar.
Pada tahun 1868 Belanda telah berhasil menundukkan semua kabupaten di sekitar Karanganyar. Sikap Adipati Jayaningrat yang memegang teguh perjanjian Roma mengakibatkan orang – orang yang setia terhadap Adipati dipindah dan diganti dengan orang – orang yang setia kepada Belanda. Jayadiningrat dicari – cari kesalahannya. Orang – orang pedesaan dihasut dan dibujuk agar membenci Bupatinya. Taktik Belanda ini sampai berakibat adanya unjuk rasa yang diatur oleh para pejabat yang setia kepada Belanda.

Sumber Buku:
  1. M.D, Sagimun, Pahlawan Dipanegara Berjuang (Bara Api Kemerdekaan Nan Tak Kunjung Padam), 1956, Jogjakarta, Tjabang Bagian Bahasa, Djawatan Kebudajaan Kementerian P.P. dan K. Jogjakarta MCMLVII.
  2. Soenarto, HR, Sejarah Brangkal, Kabupaten Roma (Jatinegara/Kruwed) dan Kabupaten Karanganyar.

Tim Penggalian dan Penulisan Sejarah :
  1. Kapten Suko Wardoyo                    Kanminvetcad Kabupaten Kebumen
  2. Bambang Priyambodo, S. Sos      PPM Macab Kebumen
  3. Ravie Ananda, S. Pd                      Pemerhati Sejarah
  4. Serka Marjuki                                   KODIM 0709 Kebumen
  5. Pelda Sudarsin                                KODIM 0709 Kebumen

Harkitnas 20 Mei 2012
Kabupaten Kebumen

Sumber :  http://kebumen2013.com/sejarah-kaleng-pucang-brangkal-kabupaten-roma-jatinegara-kruwed-dan-kabupaten-karanganyar-perspektif-kebangkitan-nasional-1825-1900/

Sabtu, 04 Februari 2012

Kyai Kramaleksana dalam Sejarah Nama Sebuah Jalan


Jalan Krama Leksana nama jalan kecil di wilayah Panjer dan Selang - Kebumen
Jalan Krama Leksana Nama jalan kecil di wilayah Panjer dan Selang Kebumen.

Meski telah diabadikan sebagai nama sebuah jalan di wilayah Panjer dan Selang, sosok dan sejarah Kyai Kramaleksana masih asing dalam pengetahuan generasi muda Kebumen khususnya. Kramaleksana dan Mbah Banyumudal yang merupakan tokoh besar dari daerah setempat tertutup oleh tokoh Ibrahim Asmoro Kondi yang secara logika historis sangat lemah keberadaannya di wilayah tersebut terlebih sejarahnya baru dimunculkan pada sekitar awal tahun 2000 an dalam rangka geliat politik lokal pada masa itu. Hal ini tentunya sangat disayangkan terlebih ketika pemahaman akan sejarah cikal bakal menjadi satu hal pokok penentu hidupnya kearifan budaya lokal yang sangat mempengaruhi pembentukan karakter generasi sebuah daerah.

Desa Selang berbatasan dengan desa Panjer di sebelah Barat. Di desa yang kini telah menjadi kelurahan ini, jauh sebelum berdirinya kraton Yogyakarta pada tahun 1755 telah memiliki tokoh penting yang ikut andil dalam perjalanan sejarah Raja – raja Jawa khususnya Mataram Islam. Salah satu diantaranya adalah Kramaleksana. Sosok Kramaleksana hidup pada masa Sultan Amangkurat I hingga Hamengku Buwana I (1600 – 1700 an). Pada masa perang Mangkubumi  (1746 – 1775) Kramaleksana ikut membantu Pangeran Mangkubumi yang pada masa itu memusatkan pertahannya di tanah Panjer (termasuk di dalamnya adalah wilayah Sruni, Selang, Kalijirek, Kutowinangun dsb) yang kemudian berubah menjadi Kabupaten Kebumen pasca pembumihangusan Pendopo Agung kotaraja Panjer (kini area Pabrik Minyak Nabatiasa/Sarinabati) pada tahun 1832. Menurut beberapa sumber data berupa babad antara lain: Babad Sruni, Babad Giyanti (karya R. Ngabehi yasadipura I /kakek R. Ngabehi Ranggawarsita), Babad Banyumas, maupun silsilah Raja – Raja Jawa (Serat Sarasilah) dapat diketahui sebagai berikut:

Sosok Kramaleksana muncul setelah bertahtanya Amangkurat II menggantikan Amangkurat I. dikisahkan bahwa atas jasanya menghalau Trunajaya beserta pasukannya yang mengejar Amangkurat I hingga di tanah Panjer, maka Kertinegara Sruni (sebelum peristiwa pemberontakan Trunajaya, Kertinegara telah melakukan pemberontakan terhadap Amangkurat I dan kemudian bertaubat) diangkat sebagai Wedana Bupati Brang Kulon dengan gelar Tumenggung Kertinegara oleh Amangkurat II. Dalam acara Tasyakuran atas pemberian anugerah tersebut, Kertinegara menikahkan putrinya yang bernama Rara Inten (anak bungsu Kertinegara dengan istri pertamanya)dengan Ki Kramaleksana anak Ki Kramayuda Sruni. Acara berlangsung tiga hari tiga malam dan sangat meriah. Selang dua bulan dari acara tersebut, Tumenggung Kertinegara bersama Ki Demang Sutawijaya dan Ki Kramaleksana (menantunya) menghadap ke Kraton baru di Kartasura dalam rangka menyerahkan upeti tanah Panjer. Selain itu Kertinegara juga mengabdikan menantunya yakni Kramaleksana. Atas kemurahan Amangkurat II Kramaleksana diterima dan diangkat menjadi Mantri Pamajegan di Klegenkilang (kini berubah nama menjadi Selang) dengan gelar Ngabei Kramaleksana. Setelah beberapa hari di Kartasura, mereka pun kembali ke Sruni. Kemudian Kramaleksana segera berpindah kediaman di Klegenkilang guna menjalankan tugasnya.

Menurut beberapa sumber, Kramaleksana mempunyai istri dua orang. Isteri pertama adalah anak dari Tumenggung Kertinegara Sruni, sedangkan isteri kedua adalah anak dari Raden Tumenggung Wiraguna kartasura. Dari keduanya Kramaleksana memiliki lima belas (15) orang anak yaitu :
  1. Ngabehi Wiryakrama, mantri Gunung ing Tlagagapitan; (salah satu putrinya dijadikan isteri kelangenan dari Sultan Hamengku Buwana II dan bergelar Bandara Raden Ayu Nilaresmi, kemudian menurunkan Gusti Raden Ayu Pringgadirja).
  2. Mbok Mas Dipayuda.
  3. Ngabehi Kramadirja, Mantri Nangkil Ngayogyakarta. Setelah selesai bertugas, ia kemudian kembali ke Selang dan berganti nama menjadi Ki Kramasentika, akan tetapi oleh masyarakat setempat kemudian lebih dikenal sebagai Ki Kramareja.
  4. Mbak Mas Rara Ketul, kemudian menjadi isteri Kelangenan Hamengku Buwana I dan bergelar Bandara Raden Ayu Handayahasmara, kemudian menurunkan : Bandara Pangeran Harya Hadikusuma, Bandara Raden Ayu Juru, dan Bandara Pangeran Harya Balitar.
  5. Mbok Mas Kramayuda.
  6. Ki Secawijaya, setelah menjadi Mantri Nangkil ing Ngyogyakarta menggantikan saudara laki lakinya kemudian bergelar Ngabehi Kramadirja.
  7. Ki Kramadiwirya.
  8. Ngabehi Resadirja, menikah dengan cicit/buyut Mangkunegaran Sambernyawa Surakarta.
  9. Ngabehi Kramataruna.
  10. Ki Kramatirta.
  11. Ki Resadiwirya
  12. MBok Mas Wiryayuda (Setrareja).
  13. Mbok Mas Resapraja (Kramasentika).
  14. Ki Honggawijaya, setelah menjadi Mantri bergelar Ngabehi Kramayuda, isterinya dari Surakarta, dan menurunkan salah satunya Ngabehi Jayapranata yang di kemudian hari menjadi Patih Mangkunegaran. Anak perempuan Ngabehi Jayapranata dijadikan isteri kelangenan Pangeran Mangkunagara III dan bergelar Mas Ajeng Handayaresmi, menurunkan dua orang yakni Raden Mas Suryahandaka dan Raden Ajeng Kuning (menikah dengan Pangeran Harya Gandahatmaja anak dari Pangeran Adipati Mangkunagara IV Surakarta).
  15. Mbok Mas Jawidenta.
Anak – anak Kramaleksana tersebut di atas, mulai dari nomor 1 hingga 5 dilahirkan dari isteri pertamanya (Puteri Tumenggung Kertinegara Sruni), sedangkan anak nomor 6 hingga 15 dilahirkan dari isteri kedua (Puteri Tumenggung Wiraguna Kartasura).
Ada yang mengisahkan bahwa Kramaleksana memiliki tiga orang istri dimana yang ke tiga berasal dari Yogyakarta. Namun pernyataan ini sangat lemah sebab dari data yang ada yakni babad Sruni yang memuat silsilah singkat disebutkan bahwa isteri Kramaleksana hanya dua orang dan dari keduanya menurunkan 15 orang anak. Sedangkan pada silsilah induk milik Kanjeng Raden Harya Adipati Danureja V Yogyakarta yang kemudian bergelar Kanjeng Pangeran Juru, tidak disebutkan jumlah isteri dari Kramaleksana. Hanya disebutkan jumlah anak sebanyak 12 orang sehingga ada selisih kekurangan 3 orang jika dibanding dengan silsilah yang ada di babad Sruni. Adapun kekurangannya adalah :
  1. Mbok Mas Dipayuda (anak nomor 2).
  2. Mbok Mas Resapraja/Kramasentika (anak nomor 13).
  3. Mbok Mas Jawidenta, (anak nomor 15).
Dari data di atas maka dapat diketahui bahwa keturunan Kramaleksana yang kemudian menurunkan darah Kraton Yogyakarta ada dua orang dan darah Mangkunegaran satu orang yakni:
  1. Anak ke 4 menjadi isteri kelangenan Hamengku Buwana I
  2. Cucu Kramaleksana (anak dari Wiryakrama) menjadi isteri kelangenan Hamengku Buwana II
  3. Cicit/Buyut Kramaleksana menjadi isteri kelangenan Kanjeng Gusti Pangeran Harya Mangkunagara III Surakarta.
Selain anaknya, ternyata saudara perempuan Kramaleksana juga menjadi isteri kelangenan Hamengku Buwana I dan bergelar Bandara Raden Ayu Turunsih, yang menurunkan 2 orang anak yakni :
  1. Bandara Pangeran Harya Mangkukusuma
  2. Bandara Raden Ayu Tumenggung Danunagara. Adapun Raden Tumenggung Danunagara adalah anak dari Kanjeng Raden Hadipati Danureja I Patih Yogyakarta (Danureja I sebelumnya menjabat sebagai Bupati Banyumas IX dengan gelar Adipati Yudanegara III).
Asal mula anak Kramaleksana diperisteri Hamengku Buwana I
Ketika Pangeran Mangkubumi (RM. Soedjono) berperang di tanah Panjer ia melihat seorang anak perempuan yang menggunakan pinjung/kain berusia sekitar 11 tahun. Anak tersebut sangat suka melihat prajurit yang tengah berperang di sekitar rumahnya tanpa merasa takut. Pangeran Mangkubumi memperhatikan semua gerak dan tingkah anak tersebut dengan keheranan dan kagum. Ia kemudian mengutus seorang abdinya untuk bertanya kepada anak tersebut. Setelah ditanya, anak tersebut pun menjawab bahwa ia bernama Mas Rara Ketul, anak dari Ki Kramaleksana, seraya menunjukkan ayahnya yang tengah berlari ke arah barat menggunakan ikat wulung dan menghunus keris mengejar musuh. Abdi tersebut kemudian melaporkan kepada Pangeran Mangkubumi apa yang dikatakan oleh Rara Ketul. Hal itu membuat senang hati Pangeran Mangkubumi, terlebih setelah mengetahui bahwa ia anak dari Ki Kramaleksana yang telah banyak berjasa selama pasukan Mangkubumi berada di tanah Panjer. Pangeran Mangkubumi pun berpesan kepada Ki Kramaleksana agar kelak ketika dewasa anak tersebut diserahkan kepadanya untuk dijadikan isteri. Dengan rasa bangga dan senang hati Kramaleksana menyanggupi. Setelah Pangeran Mangkubumi memenangkan peperangan dengan perjanjian Giyanti dan menjadi Raja pertama Yogyakarta dengan gelar Hamengku Buwana I, Rara Ketul yang telah beranjak dewasa pun diserahkan kepada Sultan dan kemudian dijadikan Isteri dengan gelar Bandara Raden Ayu Handayahasmara. Nama tersebut didasarkan pada kekaguman Sang Sultan akan keberanian  Rara Ketul, meskipun masih anak – anak berani mengikuti ayahnya di medan peperangan. Pada umumnya, laki – laki sekalipun jika ia bukan prajurit pasti akan takut dan meninggalkan rumahnya ketika didekatnya menjadi medan peperangan.

Leluhur dari Kramaleksana dan Bandara Raden Ayu Turunsih.
Alur leluhur Kramaleksana diketahui berasal dari Kyai Aden. Ada perbedaan pendapat mengenai sosok Kyai Aden. Dalam Babad Sruni, Kyai Aden ditulis sebagai anak dari Jaka Lancing (Mbah Lancing). Sedangkan menurut Sarasilah (silsilah Raja – raja Jawa) halaman 40 diketahui bahwa Kyai Aden adalah guru dari Raden Jaka Lancing. Raden Jaka Lancing/Raden Banyak Patra/Harya Surengbala/Panembahan Madiretna adalah anak ke 50 dari Brawijaya V (Raden Alit) yang lahir dari isteri selir dan sengaja diserahkan kepada Kyai Aden Gesikan untuk dididik.
  • Kyai Aden Gesikan, berputra;
  • Kyai Sutamenggala (Sruni), berputra;
  • Kyai Sutapraja (Sruni), berputra;
  • Kyai Kramayuda (Sruni), berputra (diantaranya);
  • Kyai Kramaleksana dan Bandara Raden Ayu Turunsih.
Leluhur dari Nyai Kramaleksana (isteri pertama)
Dari Babad Sruni diketahui bahwa Nyai Kramaleksana yang merupakan anak dari Tumenggung Kertinegara Sruni memiliki alur Majapahit sebagai berikut:
  • Prabu Brawijaya terakhir menurunkan;
  • Raden Jaka Pekik/Harya Jaranpanolih Sumenep (Saudara Jaka Lancing), berputra;
  • Harya Leka (Sumenep), berputra;
  • Jambaleka (Sumenep), berputra;
  • Ki Mas Manca/Harya Mancanagara (Patih Pajang), berputra;
  • Ki Mas Tumenggung Pramonca (Sruni), berputra;
  • Raden Tumenggung Kertinegara I (Sruni), berputra;
  • Kertileksana, Kertisentika, Rara Rinten (dari isteri pertama), dan Rara Ranti (dari isteri kedua). Rara Rinten kemudian dinikahkan dengan Kramaleksana dan menurunkan Bandara Raden Ayu Handayasmara.
Beberapa Versi Makam Kramaleksana
Ada tiga pendapat mengenai letak makam Kramaleksana yakni; 1. di Banyumudal di jalan Kyai Kramaleksana (Perbatasan Selang dan Panjer; kini makam tersebut diganti nama menjadi makam Ibrahim Asmoro Kondi), 2. Di Pemakaman Sijago Selang, 3. Di Desa Kaliwarak (utara Masjid Kaliwarak). Dari ketiga pendapat tersebut makam Banyumudal (terletak di Jalan Kyai Kramaleksana) yang kini dinamakan Ibrahim Asmoro Kondi adalah makam yang paling dikenal warga sebagai makam Kramaleksana.
Meski Kramaleksana semakin hilang dalam ingatan dan pengetahuan masyarakat Selang dan Panjer yang kini lebih familier dengan tokoh Ibrahim Asmoro Kondi, namanya tetap terpatri dan lestari menjadi sebuah nama jalan kecil di wilayah Panjer dan Selang yang kini lebih dikenal dengan nama “Kecepit” tepat di samping pintu rel kereta api.

Persaudaraan Mas Manca dengan Jaka Tingkir (Hadiwijaya)
Dalam Babad Tanah Jawa disebutkan mengenai persaudaraan antara Mas Manca yang kemudian menjadi Patih Pajang dengan Jaka Tingkir (Hadiwijaya) sebagai Raja Pajang sebagai berikut:
Jaka Leka adalah seorang pertapa yang berdiam di dukuh Cal Pitu di kaki gunung Lawu (mungkin ini yang disebut dengan Jambaleka di dalam silsilah babad Sruni; perbedaannya jika di babad Sruni dikatakan dari Sumenep, dalam Babad Tanah Jawa disebutkan dari kaki Gunung Lawu. Dimungkinkan juga ia berasal dari Sumenep dan menjadi pertapa di kaki gunung Lawu). Ia masih keturunan dari Majapahit. Anak laki – lakinya yang bernama Mas Manca pergi dari padukuhannya dan berniat bertapa di pesisir laut selatan. Dalam perjalanannya ia berhenti di daerah Banyu Biru dan kemudian dijadikan anak oleh Ki Buyut Banyu Biru. Mas Manca sangat disayang dan diberi kebebasan segala tingkah lakunya serta diajari segala ilmu kesaktian. Ia juga diperintahkan untuk bertapa agar memperoleh derajat. Ki Buyut tahu bahwa Mas Manca akan menjadi pendamping raja. Ia berkata kepada Mas Manca bahwa Rajanya akan datang jika ia telah tinggal di Banyu Biru selama 3 bulan. Kelak kerajaannya berada di Pajang. Tepat 3 bulan keberadaan Mas Manca di Banyu Biru, datanglah Jaka Tingkir yang sengaja mencari tempat tersebut mengikuti wangsit dari suara gaib saat ia tidur di makam ayahnya di Pengging selama empat hari. Di Banyu Biru Jaka Tingkir diangkat anak pula oleh Ki Buyut Banyu Biru. Selain diajari segala ilmu yang dimiliki oleh Ki Buyut, Jaka Tingkir juga diberi amanah agar di mana pun ia berada harus selalu bersama – sama saudara seperguruannya tersebut yakni Mas Manca, Ki Wuragil (adik Ki Buyut), dan Ki Wila (keponakan Ki Buyut). Sejak saat itu mereka selalu bersama – sama dan ketika Jaka Tingkir menjadi Raja Pajang, Mas Manca dijadikan Patihnya. Sementara Ki Wuragil dan Ki Wila dijadikan Bupati.
Dari data tersebut dimungkinkan keberadaan Tumenggung Pramonca di Sruni (ayah dari Tumenggung Kertinegara Sruni) sebagai anak dari Mas Manca/Patih Pajang dikarenakan tugas kerajaan mengingat pada waktu itu Kerajaan/Negara Panjer dengan gelar pimpinan Kuwu (Yang Mulia/yang ditinggikan) telah berubah menjadi Kadipaten Panjer yang dipimpin oleh seorang adipati dan secara resmi menjadi wilayah di bawah kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah.

Kebumen, Sabtu Wage 11 Oktober 2013
Oleh Ravie Ananda

 Sumber : http://kebumen2013.com/kyai-kramaleksana-dalam-sejarah-nama-sebuah-jalan/

Senin, 30 Januari 2012

‘Joko Sangkrib’ Asal Muasal Kebumen

http://kebumennews.com/wp-content/uploads/2014/03/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_straat_met_woningen_van_het_personeel_van_fabriek_Keboemen_van_de_N.V_1.jpg 

Kebumen berasal dari kata Ki Bumi. Nama ini diambil dari Ki Bumidirjo, paman Amangkurat IV yang memilih meninggalkan istana (keraton) Mataram karena tidak sepaham dengan Amangkurat yang membela kompeni. Nama asli Ki Bumi adalah Pangeran Bumidirjo. Ia memilih menjadi petani biasa dan membangun basis tani di daerah Kebumen. Pelan tapi pasti tokoh yang melahirkan perlawanan damai di Kebumen melawan kompeni mendapat dukungan dari para petani dan masyarakat yang tinggal di sekitar sungai Lukulo. 

Kemenakannya Joko Sangkriblah yang meneruskan perjuangannnya mendirikan Desa Kebumen dan melahirkan toponim di setiap desa yang dilaluinya. Desa Kebejen, Pesalakan, Tunjungseto, Kawedusan, Kembaran, Panjer, Kuwarisan, Pejagoan, Kewayuhan, dan Kedawung adalah beberapa desa yang diberikan nama atas topo kemayingan yang dilakukan Joko Sangkrib. Joko Sangkrib menjadi bupati pertama Kebumen bergelar Aroembinang.

Joko Sangkrib atas ajaran Ki Bumi melawan penjajahan Kompeni dan berhasil mendirikan Kadipaten di Kutowinangun, Karena serangan Belanda Pusat kota dipindah ke Ambal, sehingga terkenal dengan nama Kadipaten Ambal. Seberang sungai Lukulo terdapat Kadipaten Karanganyar yang dikuasai Kompeni. Pada tahun 1942 Kadipaten Karanganyar akhirnya berhasil direbut kembali oleh pejuang dengan damai, dan mendeklarasikan bergabung dengan kadipaten Kutowinangun dan berpusat di Kebumen sampai hari ini. Tahun itu menjadi penentuan hari lahir Kebumen berdasar atas peraturan Bupati Kebumen tahun 1995.

Saat ini marak tuntutan untuk menelisik sejarah Kebumen bukan sekedar penggabungan Karanganyar dengan Kutowinangun (versi lain) Panjer, tetapi sejarah yang lebih tua dirunut dari proses masuknya pangeran Bumidirja ke Kebumen bahkan lebih tua lagi sejak masa atlantis purba (versi Dr. Fajar).
Menurut Dr. Fajar, dosen UIN Yogyakarta Kebumen dulunya adalah ibukota Negara Atlantis Purba. Terbukti dengan nama-nama yang identik dengan simbol-simbol yang ditemukan pada manuskrip Plato tentang Atlantis yang diungkap oleh peneliti Aryso Santos. Dalam Buku Nagara karya Dr. Fajar di sini (Kebumen) terdapat sungai Lukulo yang sebenarnya adalah sungai langit, yang bersumber dari Karangsambung (batu karang laut yang saling tersambung). Kata Nagara sendiri adalah Naga : Ulo dan Ra adalah dewa Api yang bersembunyi di gunung Karangsambung.

Perlu dikemukakan batuan di wilayah Karangsambung adalah batuan tertua di dunia yang muncul ke permukaan. Batu Rijang adalah batu yang hanya terdapat di dasar laut karena terbentuk dari endapan lumpur dan garam jutaan tahun yang lalu. Selain itu bentuk-bentuk batuan di Karangsambung menunjukkan dunia purba dengan ditemukannya fosil-fosil pohon, dan kepala ikan, serta gerabah.
Saat ini Kebumen adalah Kabupaten yang memiliki dua puluh enam (26) kecamatan dan empat ratus lima puluh desa (450). Adapun nama-nama kecamatan di wilayah Kebumen adalah sebagai berikut. Kecamatan Adimulyo, Kecamatan Alian, Kecamatan Ambal, Kecamatan Ayah, Kecamatan Bonorowo, Kecamatan Buayan, Kecamatan Buluspesantren, Kecamatan Gombong, Kecamatan Karanganyar, Kecamatan Karanggayam, Kecamatan Karangsambung, Kecamatan Kebumen, Kecamatan Klirong, Kecamatan Kutowinangun, Kecamatan Kuwarasan, Kecamatan Mirit, Kecamatan Padureso, Kecamatan Pejagoan, Kecamatan Petanahan, Kecamatan Poncowarno, Kecamatan Prembun, Kecamatan Puring, Kecamatan Rowokele, Kecamatan Sadang, Kecamatan Sempor, Kecamatan Sruweng.

Sumber :  http://kebumennews.com/toponimi-joko-sangkrib-asal-muasal-kebumen/

Senin, 23 Januari 2012

Sejarah Cikal Bakal Kabupaten Kebumen


foto arungbinang bupati kebumen
                                             
Foto  Arungbinang bupati kebumen, dan Putri bungsunya

Panjer adalah nama sebuah Desa/ Kelurahan yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah. Nama Panjer sendiri telah lama dikenal, jauh sebelum nama Kebumen itu ada, tepatnya sejak masa Pra Islam. Satu hal yang sangat disayangkan adalah “ Nyaris hilangnya riwayat Panjer Kuno baik dalam masyarakat di wilayah tersebut maupun dalam pengetahuan masyarakat Kabupaten Kebumen pada umumnya ”. Kurangnya perhatian dan pemeliharaan terhadap situs bangunan peninggalan bersejarah dan budaya masa lampau yang terdapat di daerah itu tentunya sangat memprihatinkan, mengingat Panjer adalah cikal bakal berdirinya Kabupaten Kebumen yang telah dikenal sejak 1000 tahun yang lalu sebagai salah satu wilayah yang diperhitungkan dalam ranah nasional. Beberapa Raja dan Tokoh Besar Nusantara pun menggunakan tempat ini sebagai pengungsian, penyepian, basis pertahanan militer bahkan Pamoksan mereka (Maha Patih Gajah Mada Moksha di tempat ini). Sebagai desa yang kini berbentuk kelurahan, Panjer tetap khas dengan rasa dan suasana masa lampaunya.

Panjer dari Masa ke Masa
A. Panjer zaman Kerajaan Kediri
 
Wilayah Panjer sebagai sebuah kadipaten/ Kerajaan telah dikenal dalam ranah nasional pada masa kerajaaan Kediri. Dalam Kitab “Babad Kedhiri“, disebutkan:
Babagan kadipaten Panjer dicritakake nalika Adipati Panjer sepisanan mrentah ing Panjer, duwe kekareman adu pitik. Sawijining dina nalika rame-ramene kalangan adu pitik ing pendhapa kadipaten, ana salah sijine pasarta sing jenenge Gendam Asmarandana, asale saka Desa Jalas. Gendam Asmarandana sing pancen bagus rupane kuwi wusana ndadekake para wanita kayungyun, kalebu Nyai Adipati Panjer. Nyai Adipati sing weruh baguse Gendam Asmarandana uga melu-melu kayungyun. Kuwi ndadekake nesune Adipati Panjer. Nalika Adipati Panjer sing nesu kuwi arep merjaya Gendam Asmarandana kanthi kerise, Gendam Asmarandana kasil endha lan suwalike kasil nyabetake pedhange ngenani bangkekane Adipati Panjer. Adipati Panjer sing kelaran banjur mlayu tumuju Sendhang Kalasan sing duwe kasiyat bisa nambani kabeh lelara. Nanging durung nganti tekan sendhang kasil disusul dening Gendam Asmarandana lan wusana mati. Gendam Asmarandana sing weruh Adipati Panjer mati banjur mlayu tumuju omahe nanging dioyak dening wong akeh. Gendam Asmarandana sing keweden banjur njegur ing Sendhang Kalasan. Wong-wong sing padha melu njegur ing sendhang, kepara ana sing nyilem barang, tetep ora kasil nyekel Gendam Asmarandana. Wong-wong ngira yen Gendam Asmarandana wus malih dadi danyang sing manggon ing sendhang kuwi. Sabanjure kanggo ngeling-eling kedadeyan kuwi digawe pepethan saka watu sing ditengeri kanthi aran Smaradana, mapan ing Desa Panjer.
B. Panjer sebagai Tempat Mokhsanya Maha Patih Gajah Mada.
 
Maha Patih Gajah Mada adalah salah satu tokoh termasyhur pada zaman Kerajaan Majapahit yang telah berhasil menyatukan Nusantara dengan Sumpah Palapanya. Dari berbagai literatur yang ada belum pernah didapati mengenai riwayat lengkap mengenai kelahirannya, keluarga dan kematiannya. Sosok Gajah Mada hingga kini menjadi suatu misteri bagi sejarah Nusantara. Akhir – akhir ini banyak bermunculan klaim terhadap lokasi kelahiran dari Maha Patih Gajah Mada, akan tetapi mengenai Pamokshannya ( tempat bertapanya Beliau hingga hilang dengan raganya seperti tradisi tokoh – tokoh besar Jawa jaman dahulu ) tidak pernah diketahui. Satu – satunya situs Pamokshan Gajah Mada yang sejak dahulu telah diketahui masyarakat pada zaman Mataram Islam adalah di Kabupaten Panjer. Situs tersebut kemudian dihilangkan bersama kompleks makam kuno yang ada di sana oleh Belanda dengan mengubahnya menjadi pabrik minyak kelapa Sari Nabati. Hal ini senasib dengan situs kerajaan Kediri yang kemudian diubah Belanda menjadi pabrik gula Mamenang Kediri. Pernah muncul klaim mengenai pamokshan Gajah Mada di suatu gua di balik sebuah air terjun di Jawa Timur. Klaim tersebut berdasar pada pemahaman sekelompok orang terhadap Gajah Mada yang disamakan dengan Patih Udara alias Patih Tunggul Maniq ( Patih Majapahit sebelum Gajah Mada ). Tentunya dasar landasan tersebut sangat tidak tepat jika mengacu pada literatur Dr. J. Brandes yang diturun dari kitab – kitab babad Jawa yang berhasil ditemukan oleh pemerintah Belanda pada waktu itu. Literatur Dr. J. Brandes menyebutkan sebagai berikut :
Kyai Patih Udara als kluizenaar Tunggulmaniq op den berg Mahameru; zijne 2 plichtkinderer : Ki Tanpa Una en Ni ( of Dewi ) Tanpa Uni de door Siung Wanara in de Karawang rivier geworpen vorst en vorstin van Pajajaran. Rijksbestuurdeerna Patih Udara vertrek : Patih Logender, diens broer, gehuwd met eene dochter van den Adipati van Gending……
Brawijaya – Patih Wirun
Bra Kumara – Patih Wahas ( zoon van Wirun ) en daarna Ujungsabata.
Ardiwijaya – Patih Jayasena ( zoon van Wahas, dipati van Kadiri)
Adaningkung of Kala Amisani – Patih Udara
Kencana Wungu – Patih Logender
Mertawijaya – Patih Gajah Mada
Angkawijaya – Patih Gajah Mada
………
Dari uraian di atas sangat jelas bahwa Gajah Mada bukanlah Tunggul Maniq, sehingga Pamoksan Tunggul Maniq yang diklaim di Jawa Timur tersebut bukanlah Pamokshan Gajah Mada. Semakin kuat kiranya situs Pamoksan Gajah Mada yang berada di desa Panjer sebagai situs asli mengingat desa tersebut sejak jaman dahulu selalu menjadi tempat tokoh – tokoh besar Jawa mengungsi, bersemadhi, bersembunyi dan sebagai basis kekuatan militer serta pemerintahan darurat ketika kraton asli direbut oleh pemberontak.
 
C. Panjer Zaman Mataram Islam.
 
Mataram Islam adalah Kerajaan Mataram periode ke dua yang pada mulanya merupakan sebuah hutan lebat yang dikenal sebagai Alas Mentaok, wujud hadiah dari Hadiwijaya (Sultan Demak terakhir) kepada Ki Ageng Pemanahan atas jasanya dalam membunuh Arya Penangsang yang merupakan saingan besar Hadiwijaya dalam perebutan tahta Kerajaan Demak. Ki Ageng Pemanahan kemudian membabad hutan lebat tersebut dan menjadikannya sebuah desa yang diberinya nama Mataram. Alas Mentaok itu sendiri sebenarnya adalah bekas kerajaan Mataram Kuno yang runtuh sekitar tahun 929 M yang kemudian tidak terurus dan akhirnya dipenuhi oleh pepohonan lebat hingga menjadi sebuah hutan. Alas Mentaok mulai dibabad oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani sekitar tahun 1556 M. Ki Ageng Pemanahan memimpin desa Mataram hingga Ia wafat pada tahun 1584 M dan dimakamkan di Kotagedhe. Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan, sebagai pengganti dipilihlah putranya yang bernama Sutawijaya/ Panembahan Senopati (Raja Mataram Islam pertama, dimakamkan di Kotagedhe).
Panembahan Senopati memerintah tahun 1587 – 1601 M. Ia digantikan oleh putranya yang bernama Raden Mas Jolang/ Sultan Agung Hanyakrawati (wafat tahun 1613 M dimakamkan di Kotagedhe). Sultan Agung Hanyakrawati digantikan putranya yang bernama Raden Mas Rangsang yang kemudian dikenal sebagai Sultan Agung Hanyakrakusuma (memerintah tahun 1613 – 1646 M). Sultan Agung Hanyakrakusuma digantikan oleh Putranya yang bernama Sultan Amangkurat Agung (Amangkurat I memerintah pada tahun 1646 – 1677 M).
Di dalam “Kidung Kejayaan Mataram Bait 04″ (terjemahan Bahasa Indonesia) disebutkan secara Implisit mengenai keberadaan Panjer.
Demikianlah maka pada suatu hari yang penuh berkat
berangkatlah rombongan Ki Gedhe ke Alas Mataram
di situ ada di antaranya: Nyi Ageng Ngenis, Nyi Gedhe Pemanahan
Ki Juru Mertani, Sutawijaya, Putri Kalinyamat, dan pengikut dari Sesela
Ketika itu adalah hari Kamis Pon, tanggal Tiga Rabiulakir
yaitu pada tahun Jemawal yang penuh mengandung makna
Setibanya di Pengging rombongan berhenti selama dua minggu
Sementara Ki Gedhe bertirakat di makam Ki Ageng Pengging
Lalu meneruskan perjalanan hingga ke tepi sungai Opak
Dimana rombongan dijamu oleh Ki Gedhe Karang Lo
Setelah itu berjalan lagi demi memenuhi panggilan takdir
hingga tiba di suatu tempat, di sana mendirikan Kota Gedhe
Ki Gedhe Karang Lo yang dimaksud dalam bait di atas adalah pemimpin daerah Karang Lo (kini masuk dalam wilayah Kecamatan Karanggayam). Ini artinya sebelum berdirinya Kerajaan Mataram Islam pun, Karang Lo yang dahulunya merupakan bagian wilayah dari Kadipaten/ Kabupaten Panjer telah dikenal dan diperhitungkan dalam ranah pemerintahan kerajaan pada waktu itu (Demak dan Pajang).
Teritorial Panjer Masa Lampau
Kerajaan Mataram Islam mengenal sistem pembagian wilayah berdasarkan jauh – dekat dan tinggi – rendahnya suatu tempat, sehingga pada saat itu dikenallah beberapa pembagian wilayah kerajaan yakni:
1. Negara Agung
2. Kuta Negara
3. Manca Negara
4. Daerah Brang/ Sabrang Wetan
5. Daerah Brang/ Sabrang Kulon.
Masa Pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah masa keemasan Mataram. Ia memerintah dengan bijaksana, adil dan penuh wibawa, sehingga rakyat pada masa itu merasakan ketentraman dan kemakmuran. Menurut catatan perjalanan Rijklof Van Goens (Ia mengunjungi Mataram lima kali pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma) disebutkan bahwa:
Mataram di bawah Sultan Agung bagaikan sebuah Imperium Jawa yang besar dengan rajanya yang berwibawa. Istana kerajaan yang besar dijaga prajurit yang kuat, kereta sudah ramai, rumah penduduk jumlahnya banyak dan teratur rapi, pasarnya hidup, penduduknya hidup makmur dan tenteram. Kraton juga punya penjara, tempat orang – orang jahat pelanggar hukum dan tawanan untuk orang Belanda yang kalah perang di Jepara. Pada masa Sultan Agung inilah dikenal secara resmi adanya sebuah daerah lumbung pangan (padi) di Panjer dengan bupatinya bernama Ki Suwarno.
Panjer termasuk dalam katagori daerah Mancanegara Bang/ Brang/ Sabrang Kulon. Jauh sebelum nama Kebumen itu ada, tepatnya di daerah Karang Lo/ wilayah Panjer Gunung (kini masuk dalam wilayah kecamatan Karanggayam), sudah terdapat penguasa kademangan di bawah Mataram (masa pemerintahan Panembahan Senopati sekitar tahun 1587 M). Di daerah tersebut, cucu Panembahan Senopati yang bernama Ki Maduseno (putra dari Kanjeng Ratu Pembayun (salah satu putri Panembahan Senopati) dengan Ki Ageng Mangir VI) dibesarkan. Ki Maduseno menikah dengan Dewi Majati dan kemudian berputra Ki Bagus Badranala (Bodronolo; makam di desa Karangkembang; dahulu masuk dalam wilayah Panjer Gunung). Ki Badranala adalah murid Sunan Geseng dari Gunung Geyong (Sadang Kebumen). Ia mempunyai peran yang besar dalam membantu perjuangan Mataram melawan Batavia pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Ki Badranala yang mempunyai jiwa nasionalis tinggi, membantu Sultan Agung dengan menyediakan lokasi untuk lumbung dan persediaan pangan dengan cara membelinya dari rakyat desa. Pada tahun 1627 M prajurit Mataram di bawah pimpinan Ki Suwarno mencari daerah lumbung padi untuk kepentingan logistik. Pasukan Mataram berdatangan ke lumbung padi milik Ki Badranala dan selanjutnya daerah tersebut secara resmi dijadikan Kabupaten Panjer di bawah kekuasaan Mataram. Sebagai Bupati Panjer, diangkatlah Ki Suwarno, dimana tugasnya mengurusi semua kepentingan logistik bagi prajurit Mataram. Karier militer Ki Badranala sendiri dimulai dengan menjadi prajurit pengawal pangan dan selanjutnya Ia diangkat menjadi Senopati dalam penyerangan ke Batavia.

Dibakarnya Lumbung Padi Panjer
 
Sejarah nasional menyebutkan bahwa kekalahan Sultan Agung Hanyakrakusuma disebabkan oleh dibakarnya lumbung – lumbung padi Mataram oleh Belanda, dimana lumbung terbesar pada saat itu adalah lumbung yang berada di Panjer (lokasi tersebut berada di dalam kompleks daerah yang kini menjadi Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati yang mempunyai luas sekitar 4 Ha). Peristiwa ini terjadi pada penyerangan Mataram yang ke tiga dan sekaligus menjadi peperangan terakhir Sultan Agung Hanyakrakusuma. Beliau wafat pada awal tahun 1645 M dan dimakamkan di Imogiri. Selanjutnya, pada masa Sultan Amangkurat I, Panjer berubah menjadi sebuah desa yang tidak sesibuk ketika masih dijadikan pusat lumbung padi Mataram pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma.
 
Pembagian Wilayah Panjer
 
Panjer masa lalu dibagi dalam dua wilayah yaitu Panjer Roma (Panjer Lembah) dan Panjer Gunung. Ki Badranala diangkat menjadi Ki Gedhe Panjer Roma I atas jasanya menangkal serangan Belanda yang mendarat di pantai Petanahan. Putra tertua Ki Badranala yang bernama Ki Kertasuta bertugas sebagai Demang di wilayah Panjer Gunung, sedangkan adiknya yang bernama Ki Hastrasuta membantu ayahnya (Ki Badranala) di Panjer Roma. Ki Kertasuta kemudian diangkat menjadi Patih Bupati Panjer, Ki Suwarno. Ia dinikahkan dengan adik ipar Ki Suwarno dan berputra Ki Kertadipa. Ki Badranala menyerahkan jabatan Ki Gedhe Panjer Roma kepada anaknya (Ki Hastrasuta) yang kemudian bergelar Ki Gedhe Panjer Roma II. Beliaulah yang kemudian berjasa memberikan tanah kepada Pangeran Bumidirja / Ki Bumi ( paman Amangkurat I yang mengungsi ke Panjer sebab tidak sepaham dengan Sultan Amangkurat I ). Tanah tersebut terletak di sebelah Timur Sungai Luk Ula dengan panjang kurang lebih 3 Pal ke arah Selatan dan lebar setengah ( ½ ) Pal ke arah Timur. Pangeran Bumidirja kemudian membuka tanah ( trukah ) yang masih berupa hutan tersebut dan menjadikannya desa. Desa inilah yang kemudian bernama Trukahan (berasal dari kata dasar Trukah yang berarti memulai). Seiring berjalannya waktu nama desa Trukahan kini hanya menjadi nama padukuhan saja (sekarang masuk dalam wilayah kelurahan Kebumen). Riwayat desa Trukahan yang kemudian berubah menjadi Kelurahan Kebumen pun kini nyaris hilang, meskipun Balai Desa / Kelurahan Kebumen hingga kini berada di daerah tersebut.
Kutipan dari “Babad Kebumen” menyebutkan:
Kanjeng Pangeran Bumidirdja murinani sanget sedanipun Pangeran Pekik, sirna kasabaranipun nggalih, punapadene mboten kekilapan bilih Negari Mataram badhe kadhatengan bebendu. Puntonipun nggalih, Kanjeng Pangeran Bumidirdja sumedya lolos saking praja sarta nglugas raga nilar kaluhuran, kawibawan tuwin kamulyan.
Tindakipun Sang Pangeran sekaliyan garwa, kaderekaken abdi tetiga ingkang kinasih. Gancaring cariyos tindakipun wau sampun dumugi tanah Panjer ing sacelaking lepen Luk Ula. Ing ngriku pasitenipun sae lan waradin, toyanipun tumumpang nanging taksih wujud wana tarabatan.
Wana tarabatan sacelaking lepen Luk Ula wau lajeng kabukak kadadosaken pasabinan lan pategilan sarta pakawisan ingkang badhe dipun degi padaleman…..
Kanjeng Pangeran Bumidirdja lajeng dhedhepok wonten ing ngriku sarta karsa mbucal asma lan sesebutanipun, lajeng gantos nama Kyai Bumi…..
Sarehning ingkang cikal bakal ing ngriku nama Kyai Bumi, mila ing ngriku lajeng kanamakaken dhusun Kabumen, lami – lami mingsed mungel Kebumen.
Dhusun Kebumen tutrukanipun Kyai Bumi wau ujuripun mangidul urut sapinggiring lepen Luk Ula udakawis sampun wonten 3 pal, dene alangipun mangetan udakawis wonten ½ pal.
Dalam Babad Kebumen memang tidak terdapat cerita mengenai desa Trukahan, akan tetapi jika dilihat dari segi Logika Historis yang dimaksud dengan Desa / Dhusun Kabumian adalah Trukahan. Hal ini dapat ditelusuri berdasarkan Logika Historis antara lain :
  1. Wilayah dan nama Trukahan sejak pra kemerdekaan hingga kini masih tetap ada, dimana Balai Desa / Kelurahan Kebumen dan Kecamatan Kebumen berada dalam wilayah tersebut ( sedangkan Pendopo Kabupaten masuk dalam wilayah Kutosari ).
  2. Makam / Petilasan Ki Singa Patra yang sebetulnya merupakan Pamokshan, sebagai situs yang hingga kini masih terawat dan diziarahi baik oleh warga setempat maupun dari luar Kebumen ( meskipun belum diperhatikan oleh Pemerintah baik Kelurahan maupun Kabupaten ) adalah makam tertua yang ada di kompleks pemakaman Desa Kebumen. Singa Patra adalah sosok tokoh yang nyaris hilang riwayatnya, meskipun namanya jauh lebih dikenal oleh warga Kelurahan Kebumen sejak jaman dahulu kala dan diyakini sebagai tokoh yang menjadi cikal bakal Desa Trukahan masa lampau ( bukan Ki Bumi ). Tokoh ini hidup lebih awal dibandingkan masa kedatangan Badranala, sebab Beliau ( Badranala ) yang hidup pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah pendatang di desa Panjer ( Lembah / Roma ). Beliau sendiri berasal dari daerah Karang Lo ( yang dahulu masuk dalam wilayah Panjer Gunung ). Sebagai seorang pendatang yang kemudian berdiam di Panjer Roma, Badranala memperistri Endang Patra Sari. Endang adalah sebutan kehormatan bagi perempuan Bangsawan. Hal ini bisa kita lihat pada situs pemakaman Ki Badranala di desa Karangkembang dimana terdapat beberapa makam yang menggunakan Klan / Marga Patra, dimulai dari Istri Badranala sendiri, hingga beberapa keturunannya.
  3. Hilangnya babad Trukahan dan riwayat Ki Singa Patra dimungkinkan adanya kepentingan politik penguasa waktu itu. Terlebih riwayat Babad Kebumen baru diterbitkan pada tahun 1953 di Praja Dalem Ngayogyakarta Hadiningrat oleh R. Soemodidjojo ( seorang keturunan KP. Harya Cakraningrat / Kanjeng Raden Harya Hadipati Danureja ingkang kaping VI, Pepatih Dalem ing Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ), yang notabene bukan warga asli bahkan mungkin tidak pernah sama sekali tinggal di Panjer ataupun Trukahan / Kebumen. Dengan kata lain, warga Kelurahan Kebumen baru mengenal sosok Bumidirdja semenjak diterbitkannya riwayat Babad Kebumen yang kini lebih populer dengan adanya media Internet.
  4. Kurun waktu Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma jelas lebih tua daripada Bumidirja. Sedangkan Ki Badranala yang kemudian bermukim di Panjer saat itu telah memperistri perempuan dari Klan Patra ( yang mengilhami nama sebuah Hotel di Kota Kebumen ).
  5. Menurut “ Sejarah Kebumen dalam Kerangka Sejarah Nasional “ yang ditulis oleh Dadiyono Yudoprayitno ( Mantan Bupati Kebumen ) disebutkan bahwa Pangeran Bumidirdja membuka tanah hasil pemberian Ki Gedhe Panjer Roma II / Ki Hastrosuto ( anak Ki Badranala ). Riwayat ini pun tidak disebutkan dalam Babad Kebumen. Riwayat yang lebih terkenal sampai saat ini adalah riwayat yang ditulis oleh R. Soemodidjojo yang notabene bukan warga asli dan bahkan mungkin belum pernah tinggal di Kebumen, dimana diceritakan bahwa Kebumen berasal dari kata Ki Bumi yang merupakan nama samaran dari Pangeran Bumidirja yang kemudian trukah di tepi sungai Luk Ula, sehingga kemudian tempat tersebut dinamakan Kebumian.
  6. Pasar Kebumen, pada awalnya berada di wilayah Trukahan, tepatnya di daerah yang kini menjadi kantor Kecamatan Kebumen hingga kemudian pindah ke daerah yang kini menjadi pasar Tumenggungan. Maka daerah di sekitar bekas pasar lama tersebut sampai sekarang masih bernama Pasar Pari dan Pasar Rabuk, karena memang lokasi pasar lama telah menggunakan sistem pengelompokan.
  7. Adanya pendatang setelah dibukanya tanah / trukah seperti yang disebutkan dalam Babad Kebumen yang kemudian bermukim, juga bisa diperkirakan mendiami daerah yang kini bernama Dukuh. Hal ini dimungkinkan dengan sebutan nama Dukuh yang telah ada sejak lama.

Asal Mula Nama Tumenggung Kalapaking
 
Datangnya Pangeran Bumidirdja di Panjer, menimbulkan kekhawatiran Ki Gedhe Panjer Roma II dan Tumenggung Wangsanegara Panjer Gunung karena Pangeran Bumidirdja saat itu dinyatakan sebagai buronan Kerajaan. Akhirnya Ki Gedhe Panjer Roma II dan Tumenggung Wangsanegara memutuskan untuk meninggalkan Panjer dan tinggallah Ki Kertawangsa yang dipaksa untuk tetap tinggal dan taat pada Mataram. Ia diserahi dua kekuasaan Panjer dan kemudian bergelar Ki Gedhe panjer Roma III. Dua Kekuasaan Panjer (Panjer Roma dan Panjer Gunung) membuktikan bahwa Panjer saat itu sebagai sebuah wilayah berskala luas sehingga dikategorikan dalam daerah Mancanegara Brang Kulon.
Pada tanggal 2 Juli 1677 Trunajaya berhasil menduduki istana Mataram di Plered yang ketika itu diperintah oleh Sultan Amangkurat Agung (Amangkurat I). Sebelum Plered dikuasai oleh Trunajaya, Sultan Amangkurat Agung dan putranya yang bernama Raden Mas Rahmat berhasil melarikan diri ke arah Barat. Dalam pelarian tersebut, Sultan Amangkurat Agung jatuh sakit. Beliau kemudian singgah di Panjer (tepatnya pada tanggal 2 Juni 1677) yang pada waktu itu diperintah oleh Ki Gedhe Panjer III. Sultan Amangkurat I diobati oleh Ki Gedhe Panjer III dengan air Kelapa Tua (Aking) karena pada waktu itu sangat sulit mencari kelapa muda. Setelah diobati oleh Ki Gedhe Panjer III, kesehatan Sultan Amangkurat I berangsur membaik. Beliau kemudian menganugerahi gelar kepada Ki Gedhe Panjer III dengan pangkat Tumenggung Kalapa Aking I (Kolopaking I, sebagai jabatan Adipati Panjer I (1677 – 1710). Tumenggung Kalapaking I digantikan oleh putranya dan bergelar Tumenggung Kalapaking II (1710 – 1751), dilanjutkan oleh Tumenggung Kalapaking III (1751 – 1790) dan Tumenggung kalapaking IV (1790 – 1833 )). Setelah merasa pulih, Sultan Amangkurat Agung melanjutkan perjalannya menuju ke Barat, akan tetapi sakitnya ternyata kambuh kembali dan akhirnya Beliau wafat di desa Wanayasa (Kabupaten Banyumas) tepatnya pada tanggal 13 Juli 1677. Menurut Babad Tanah Jawi, kematian Sultan Amangurat Agung dipercepat oleh air kelapa beracun pemberian Raden Mas Rahmat (putranya sendiri yang menyertai Beliau dalam pelarian). Sesuai dengan wasiatnya, Beliau kemudian dimakamkan di daerah Tegal Arum (Tegal) yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Tegal Wangi. Sementara itu tampuk kepemimpinan Panjer periode Kolopaking hanya berlangsung hingga Kalapaking IV dikarenakan adanya suksesi di Panjer pada waktu itu antara Kalapaking IV dan Arungbinang IV yang berakhir dengan pembagian wilayah dimana Trah Kalapaking mendapat bagian di Karanganyar dan Banyumas, sedangkan Arungbinang tetap di Panjer. Suksesi inilah yang mengakibatkan kematian Kalapaking IV setelah peristiwa penyerbuan Kotaraja Panjer oleh Belanda yang bekerjasama dengan Arungbinang IV karena Kalapaking IV mendukung Pangeran Diponegoro yang sebelumnya sempat menyusun kekuatan pasukan di daerah tersebut. Sejak pemerintahan Arungbinang IV inilah Panjer Roma dan Panjer Gunung digabung menjadi satu dengan nama Kebumen. Untuk memantapkan kedudukan setelah kemenangannya atas peristiwa pembagian wilayah, Arungbinang IV mendirikan Pendopo Kabupaten baru yang kini menjadi Pendopo dan Rumah Dinas Bupati Kebumen lengkap dengan alun -alunnya. Adapun Pendopo Kabupaten lama / Kabupaten Panjer kemungkinan berada di lokasi Pabrik Minyak Sari Nabati Panjer, dengan memperhatikan tata kota yang masih ada ( seperti yang penulis paparkan dalam sub judul Metamorfosis Panjer ) dan luas wilayah Pabrik yang mencapai sekitar 4 Ha, serta adanya pohon – pohon Beringin tua yang dalam sistem Macapat digunakan sebagai simbol suatu pusat pemerintahan kota zaman kerajaan. Begitu juga dengan Tugu Lawet yang pada awalnya merupakan tempat berdirinya sebuah Pohon Beringin Kurung (yang kemudian ditebang dan dijadikan Tugu Lawet ), dimana di sebelah Utaranya adalah Kamar Bola (gedung olahraga, pertunjukan dan dansa bagi orang Belanda) serta lokasi pasar Kebumen lama yang pada awalnya berada di wilayah Trukahan ( pusat pasar rabuk berada di sebelah Timur Balai Desa Kebumen, pasar lama berada di sebelah Utara klenteng, sub pasar rabuk berada di sebelah Utara pasar lama, pasar pari / padi berada di sebelah Selatan klenteng dan pasar burung yang tadinya merupakan Gedung Bioskup Belanda sebelum dihancurkan dan kemudian didirikan gedung Bioskup Star lama di sebelah Timur Tugu Lawet ( sumber : wawancara tokoh sepuh desa Kebumen )), semakin menguatkan bahwa pusat pemerintahan Kabupaten Panjer / Kebumen tempo dulu adalah di desa Panjer dan Trukahan. Hal ini sesuai juga dengan kurun waktu berdirinya Masjid Agung Kauman Kebumen yang didirikan oleh KH. Imanadi pada masa pemerintahan Arungbinang IV (setelah masa Diponegoro) yang membuktikan bahwa berdirinya Pendopo Kabupaten Kebumen dan Masjid Agung Kauman di wilayah Kutosari merupakan pindahan dari pusat kota lama di Panjer.

D. Panjer sebagai Tempat Persembunyian, Bersemadhi dan Penyusunan Strategi Perang Pangeran Diponegoro
 
Pecahnya perang Diponegoro pada tanggal 20 juli 1825 meluas sampai ke wilayah Kedu, Bagelen, Banyumas, Tegal dan Pekalongan. Pada tanggal 21 Juli 1826 datanglah utusan Pangeran Diponegoro ke Kotaraja Kabupaten Panjer ( lokasi Kotaraja tersebut kini berada di kompleks eks pabrik minyak kelapa Sari Nabati Panjer, sedangkan lokasi Kodim 0709 Kebumen dahulunya dinamakan Kebun Raja atau Taman Raja karena disitulah taman/kebun Kabupaten Panjer berada). Utusan Pangeran Diponogoro tersebut bernama Senopati Sura Mataram dan Ki Kertodrono (Adipati Sigaluh Karanggayam). Kedatangan mereka di Panjer Roma disambut oleh Tumenggung Kalapaking IV, Senopati Somawijaya dan Banaspati Brata Jayamenggala (nama asli Mbah Jamenggala yang akhirnya dihukum gantung oleh Belanda di tengah alun – alun Kebumen karena mendukung Pangeran Diponegoro). Bersamaan dengan utusan tersebut, datang pula tamu dari Kradenan yaitu Ki Cakranegara. Mereka kemudian mengadakan perundingan dengan keputusan untuk membantu Perjuangan Pangeran Diponegoro yang sedang melawan Belanda. Adipati Panjer Roma ( Tumenggung Kalapaking IV ) bertugas menyediakan logistik pangan, dan persenjataan untuk para prajurit Panjer Roma yang dipimpin oleh Senopati Gamawijaya.
Pada tanggal 19 November 1826 terjadi perang besar di Purworejo antara Belanda melawan Pangeran Diponegoro yang pada saat itu dibantu oleh prajurit Banyumas. Dalam perang tersebut Pangeran Diponegoro jatuh sakit sehingga pasukan Banyumas mundur dan bersembunyi di benteng Sokawarna. Pangeran Diponegoro sendiri bersembunyi di sebuah gua selama beberapa hari hingga pulih. Setelah sembuh dari sakitnya, Pangeran Diponegoro segera berangkat ke Kotaraja Panjer untuk menyusun strategi dan kekuatan bersama Tumenggung Kalapaking IV. di sana pulalah Beliau selama 3 hari bersemadhi di kompleks makam kuno dan Pamokshan Maha Patih Gajah Mada yang dari dahulu telah menjadi salah satu tempat semadi para tokoh – tokoh Mataram ( Lokasi tempat pertemuan dan peristirahatan sementara Pangeran Diponegoro itu kini menjadi taman kanak – kanak PMK Sari Nabati. Di tempat itu pula lah kuda tunggangan Beliau beristirahat sementara Pangeran Diponegoro bersemadhi di Pamokshan Maha Patih Gajah Mada yang kini terbengkalai, bahkan dijadikan gudang kursi – kursi rongsokan oleh pengelolanya).
Keberadaan Pangeran Diponegoro di Kotaraja Panjer ternyata tercium juga oleh Belanda. Beliau berhasil meloloskan diri dari Kotaraja Panjer sebelum daerah tersebut diserbu oleh Belanda yang bekerjasama dengan Adipati Arungbinang IV. Penyerbuan terhadap Kotaraja Panjer itu sendiri dilakukan secara besar – besaran dari tiga jurusan ( dari arah timur, selatan, dan barat )yang mengakibatkan tewasnya Tumenggung Kalapaking IV akibat terluka cukup parah dalam pertempuran tersebut.
Metamorfosis Historis Panjer
Seiring berjalannya waktu dan berkuasanya Belanda di Indonesia, Panjer juga tidak luput dari kekuasaan Belanda. Panjer tetap dijadikan basis pemerintahan oleh Pemerintah Belanda karena lokasinya yang sangat strategis ( meskipun sejarah masa lalu itu telah hilang ). Hal ini dapat kita lihat dari sisi genetik historisnya dimana Panjer sampai saat ini adalah suatu desa / kelurahan yang lengkap dengan fasilitas – fasilitas yang dibangun oleh Belanda jauh sebelum kemerdekaan, seperti: Stasiun Kereta Api, Rumah Sakit ( dahulu dikenal dengan nama Sendeng; berasal dari kata Zending yang berarti politik penyebaran agama Pemerintah Kolonial Belanda dengan cara pertolongan kesehatan ), Gedung Pertunjukan, Pertahanan Militer, Perumahan Belanda yang lebih dikenal dengan nama KONGSEN ( berasal dari kata Kongsi ), Taman Kanak – Kanak yang dahulunya merupakan tempat pendidikan dan bermain bagi anak – anak para Pejabat Belanda yang tinggal di wilayah tersebut, serta Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati ( yang hingga kini menjadi milik Perusda Propinsi Jateng yang tutup sekitar tahun 1985 ). Pergantian kekuasaan sejak zaman Mataram Islam, Kolonial 
Belanda, hingga Pemerintahan NKRI ternyata tidak mempengaruhi perubahan desa Panjer dari segi Substansi dan Genetik Historis. Hal ini dapat kita lihat dengan sebuah pembanding sebagai berikut :
 Panjer Zaman Kediri
Pada saat itu Panjer telah dikenal sebagai sebuah Kadipaten yang besar dan ramai.
Panjer Zaman Majapahit
Maha Patih Gajah Mada yang konsisten dengan Sumpah Palapanya memilih mokhsa di tempat ini, jauh dari pusat kerajaan Majapahit di Trowulan.
Panjer Zaman Pajang
Ki Gedhe Karang lo yang menjamu Ki Ageng Pemanahan dan Rombongannya sebelum mendirikan Desa Mataram yang kemudian menjadi Kerajaan Mataram Islam membuktikan bahwa Panjer telah menjadi suatu daerah yang memiliki kedaulatan konvensional dalam rahan pemerintahan saat itu.
Panjer Zaman Sultan Agung
  1. Sebagai Lumbung padi, Pusat Logistik serta basis militer Pasukan Mataram
  2. Sebagai Kotaraja Kabupaten Panjer (yang tentunya telah memiliki kelengkapan fasilitas seperti kesehatan, transportasi, budaya, ekonomi, pendidikan dan lain – lain meskipun masih bersifat sederhana)
  3. Sebagai Basis Militer Mataram
Panjer Zaman Kolonial Balanda (kemudian diteruskan oleh Jepang)
  1. Sebagai Pusat logistik yakni dengan didirikannya Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati ( seluas 4 Ha ).
  2. Sebagai desa yang memiliki berbagai fasilitas seperti Transportasi ( dengan didirikannya stasiun ), Perumahan Belanda ( lebih dikenal dengan sebutan Kongsen lengkap dengan sarana dan prasarananya baik sarana pendidikan anak – anak, Kesehatan ( Zending / Sendeng ) gedung Pertunjukan ( Gedung Bioskup Gembira ), gedung olahraga dan aula yang terdapat di dalam lokasi pabrik, dan lain – lain.
  3. Basis Militer Belanda
Panjer Zaman Kemerdekaan
  1. Sebagai Pusat Logistik ; dengan didirikannya Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati oleh Belanda yang setelah tutup sekitar tahun 1985 kemudian beralih fungsi sebagai gudang penampungan tebu sementara sebelum diolah menjadi gula pasir di Pabrik Gula Yogyakarta; disewakan kepada pabrik rokok untuk menampung cengkeh ( sekitar tahun 1989 ), disewakan sebagai gudang penyimpanan bijih Plastik ( sekitar tahun 1990 ), disewakan sebagai gudang beras Bulog, disewakan sebagai lahan perkebunan semangka; disewakan sebagai kantor Pajak; disewakan sebagai tempat penyimpanan sementara alat – alat berat kesehatan RSU; Sebagai tempat penampungan sementara Kompor dan tabung gas dalam rangka program konversi gas pada tahun 2009.
  2. Terdapatnya pusat transportasi Kereta Api (stasiun Kereta Api Kebumen)
  3. Bertempatnya Markas TNI / Kodim Kebumen
  4. Terdapatnya tempat pertunjukan Film (gedung Bioskop Gembira, yang kini telah dibangun dan dialihkan fungsi)
  5. sebagai tempat RSUD Kebumen
  6. Terdapatnya tempat pendidikan Taman Kanak – Kanak PMK Sari Nabati
  7. Terdapatnya Lapangan Tenis dan Bulutangkis, serta menjadi tempat latihan Beladiri berbagai Perguruan yang ada di wilayah Kebumen (sekitar tahun 1990 an)
  8. terdapatnya Perumahan Nabatiasa
  9. Pernah didirikan pula sekolah SLTP/ MTS Sultan Agung
  10. Berdiri pula PGSD sebagai cabang dari Universitas Sebelas Maret
  11. dan lain – lain.
Dilihat dari fakta – fakta di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Panjer dari masa ke masa tidak memiliki perubahan fungsi, hanya saja terus menyesuaikan dengan perkembangan peradaban dan budaya.
Perbaikan Situs Pamokshan dan Pertabatan


Setelah terkubur sejarahnya selama beberapa abad, akhirnya Situs Pamokshan Gajah Mada dan Pertabatan Panjer dihidupkan kembali dan dirawat oleh para pemuda dan tokoh masyarakat setempat. Bukti – bukti tertulis dari kitab – kitab dan babad – babad serta literatur yang ada pun telah dikumpulkan, disamping petunjuk yang diperoleh dari sasmita para leluhur yang menemui saat bertirakat sebelum kegiatan perbaikan situs tersebut dimulai. Pembersihan dan perbaikan situs dimulai pada hari selasa Kliwon tanggal 12 April 2011. Sejak saat itulah situs berharga di Panjer yang telah telah dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah oleh masyarakat setempat akibat ketidaktahuan mereka itu kembali muncul. Situs yang dahulu kala menjadi salah satu Pancernya Panjer kembali muncul dari pengkebumiannya.
Bangsa Yang Besar adalah bangsa yang mengenal kepribadiannya serta selalu mengingat dan menghargai jasa para pendahulunya, dengan mengenal dan menjaga sebaik mungkin sejarahnya, serta melestarikan budaya warisannya. Bangsa Yang Besar selalu menyimpan Rahasia Kejayaannya dalam Pekuburan Tulang Naga ( kebudayaan adalah kuburan “Rahasia Kejayaan” para leluhur ). Meski kebenaran yang hakiki tidak akan pernah bisa dipastikan, menjaga sejarah, kesenian dan budaya adalah wujud dari cinta tanah air dan bangsa. Semoga desa Panjer yang penuh sejarah tersebut segera mendapat perhatian yang serius dari pemerintah dan pihak – pihak yang terkait lainnya, dalam rangka menghidupkan kembali Kearifan Budaya Lokal. Situs Kerajaan Panjer Kuno yang senasib dengan situs kerajaan Kediri milik Prabu Jayabaya tersebut (kedua situs kerajaan tersebut dihapus jejaknya oleh VOC dengan diubah menjadi Pabrik : Pabrik Gula Mamenang untuk Situs Kediri dan Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati untuk Situs Panjer) sangat memungkinkan untuk dikembangkan dengan menjadikan puing – puing Pabrik Sari Nabati menjadi tempat wisata sejarah dan spiritual layaknya Benteng Vander Wijk Gombong yang pastinya akan menambah aset pariwisata dan pemasukan bagi Kabupaten Kebumen. Panjer yang menyimpan sejarah kebesaran masa lalu mungkin bisa dikebumikan dan dikuburkan riwayatnya akan tetapi Panjer sebagai tempat para leluhur bersemayam akan tetap abadi dayanya mendukung Jejer/ Lenggahnya Pancasila. Panjer yang mengandung makna Pancasila Jejer akan selalu ikut mendayai bangsa demi kembalinya wahyu Pancasila yang akan mendamaikan dunia. Semoga keluhuran Pancasila segera lenggah dan semoga semua yang menghalang – halangi murube daya kaluhuran Pancasila segera binengkas oleh Tuhan Yang Maha Esa melalui daya alam dan para leluhur bangsa.
Salam Pancasila!

ditulis oleh :
R. Ravie Ananda, S. Pd.
Jln. Garuda 13 Kebumen Jawa – Tengah Indonesia

Sumber :  http://kebumen2013.com/sejarah-cikal-bakal-kabupaten-kebumen/