Jumat, 25 Desember 2009

Permainan Masa Kecil


Permainan Anak Jaman Dulu....

Banyak cerita sewaktu aku kecil di sebuah perkampungan kecil tepatnya di Bulupayung kelurahan Mangunharjo Kecamatan Adimulnyo kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Di sana aku dilahirkan di besarkan dan di didik menjadi manusia yang tahan banting dalam menghadapi masalah, seperti anak-anak kampung sudah menjadi tradisi bila dalam keseharianya di habiskan untuk bermain, bekerja membantu Orang tua dan sekolah sebagai hal yang di haruskan pada waktu itu.

Sebagai anak kampung keseharianya di penuhi dengan alam yang masih asri jauh dari suara mesin, kecuali mesin Traktor pembajak sawah bila musim tanam. Banyak yang bisa kita ambil manfaat dari masa kecil di kampung seperti bentuk permainan yang sangat amat tradisional jauh dari produk toko. Kayanya sangat menikmati setiap musim permainan berganti dengan jenis lain dan itu sangat membahagiakan.

Kita sadar jaman telah berubah tanpa bisa kita mencegahnya, tak terkecuali bentuk permainan semasa kecil dulu di kampung. Bentuk permainan sedikit banyak akan mempengaruhi pola pikir anak, bukan berarti bentuk permainan yang sekarang ada semuanya jelek, pertanyanya adalah : apakah di era modern sekarang..Anak2 sudah tidak layak lagi tuk menikmati permainan2 yang kita rasain dulu ? gundu.karet.petak umpet, cabor, gambaran,,,,dll yang menurut saya sangat membahagikan...Anak2 sekarang cenderung mengalami DEWASA DINI...hingga banyak yang salah arah,info dan psikolog...apakah masa2 kecil mereka harus di isi dengan hal2 yang serius..

Sekedar mengingat masa kecil beberapa bentuk permainan yang merupakan macam-macam permainan anak jaman dulu (termasuk saya yang syukurlah pernah mengalami masa-masa bahagia itu). Permainan anak jaman dulu itu bisa dibilang kreatif. Bagaimana tidak, dengan alat seadanya malah ada yang tidak menggunakan alat sama sekali tapi rasa ‘excited’ itu tidak bisa digantikan oleh permainan virtual seperti yang ada sekarang, seperti Play Station / game dan sebagainya. Ini dia bentuk permainan waktu aku kecil:

Bekel: permainan menggunakan bola karet kecil dan lima buah ‘bekel’ . Ada lima tahap dilalui yaitu, tahap pertama sambil duduk , bola dilemparkan kira-kira setinggi kepala, selama bola di udara bekel diambil satu-satu, lalu diambil dua-dua, sampai lima limanya diambil. Tahap kedua: ‘pit’, Ketiga: ‘ro’, Keempat ‘klat’, kelima ’s’. Maksud saya disini, bekel harus diubah menurut posisi menurut urutan. Tahap keenam , Naspel. Waktu ‘naspel’, bekel diubah posisi seperti tadi hanya saja pemain tidak boleh terlihat gigi. Bila gagal, ganti pemain lain.

Engklek : Atau sebutan akrab di kampungku Sulamanda, merupakan permainan menggunakan ‘gaco’ dan ‘gambar engkle’ pada jalan atau tanah. “gaco’ bisa berupa batu, karet atau apa pun. “gambar engkle’k pada jalan biasanya digambar menggunakan batu bata atau kapur. Cara mainnya : pemain pertama melemparkan ‘gaco’ pada ‘gambar engkle’. lalu melompat dengan satu kaki mengikuti gambar itu sambil mengambil ‘gaco’ dan kembali ke awal / start.

Petak Umpet. Permainan dimana seorang anak pada suatu ‘markas’ menutup mata sambil menghitung angka misal dari satu sampai tiga puluh. Anak-anak lain bersembunyi. Anak yang kebagian menghitung tadi setelah selesai menghitung bertugas mencari anak lain. Bila anak lain ketahuan , anak penghitung tadi harus berlomba dengan anak yang ketahuan untuk memegang ‘markas’ sambil mengatakan ‘SKIT’. Bila anak penghtitung tadi terlambat, maka dia harus menjadi anak penghitung lagi, sebaliknya anak ketahuan harus jadi anak penghitung.

Dos-Dosan : Permainan dimana ada sekelompok anak terbagi menjadi dua kelompok biasanya di tempat yang luas, untuk mengawalinya kelompok pertama maju sebagai umpan kemudian di kejar oleh kelompak lawan apabila terpegang akan menjadi tawanan salah satu kelompaknya dan seterusnya, dan temennya akan berusaha membebaskan dengan cara memegang ujung tangan atau anggota badan yang lain. di nyatakan kalah bila salah satu kelompok bisa menerobos markas kelompok lain dengan berteriak "dos".

Loncatan : Permainan menggunakan tali karet. Dimana peloncat tidak boleh kena karet. Cara meloncat bisa menggunakan gaya ‘wedo’an’ atau ‘lanangan’. Buat yang belum bisa loncat, biasanya anak kecil , dijadikan ‘pupuk bawang’. Dia boleh loncat mengenai karet. Atau ada istilah ‘ranjuk’ , buat mereka yang tidak bisa loncat . Tahapannya, pertama tali digoyang-goyang di atas mengenai tanah, lalu tali dinaikkan setinggi lutut / dengkul, lalu setinggi pinggang atau ‘ugil-ugil’, lalu setinggi dada, setinggi telinga/ kuping, setinggi kepala , diteruskan setinggi tangan yang dikepalkan ke atas / merdeka, terakhir istilahnya ‘ merdeka tim’ yaitu seperti merdeka ditambah ujung telunjuk mengarah ke atas.

Masih banyak bentuk permainan yang mengasikan di kampungku seperti : Tetek lele, Enggrang Panggalan, Dakon dsb. Selain permainan tersebut masih ada bentuk permainan yang sedikit lucu yaitu yang menyerupai mobil-mobilan : Dorong cumplung adalah bentuk permainan buah kelapa muda yang terjatuh dari pohon "cenkir" dengan ujungnya di masukan kayu kecil kemudian dorong deh.. Atau mainan menyerupai delman yang terbentuk dari kulit Kelapa atau jeruk bali dengan di kasih roda kiri kanan, dan ada lagi bentuk mobil-mobilan dengan menggunakan bambu dengan roda terbuat dari alas kaki/sandal bekas.

Dan permainan ini akan berganti terus menerus tanpa henti tentunya dengan bentuk yang berbeda. Rasa-rasanya, kalau permainan- permainan tersebut saat ini kembali hadir ditengah-tengah kita, bisa membuat dunia ini kembali penuh dengan tawa gembira, asik bener masa kecilku...

Atau yang tidak kalah menariknya keika aku kecil ada permainan yang sedikit menyerupai kegiatan seperti adu Jangkrik, lomba burung Merpati, berburu Kelelawar dengan ketapel. Yang paling heboh berburu Tupai (Bajing bahasa di kampungku) karena melibatkan orang banyak, dengan cara mencari tupai kemudian ditangkap dengan memanjat pohon tentu saja Tupai tidak diam saja akan lari ke pohon lain dan itupun tetap di kejar dengan di panjat pohonnya sampai tupai tersebut kelelahan. Bila Tupai tersebut tertangkap sebagai imbalanya maka kita akan memetik 2 buah kelapa di wilayah Tupai itu tertangkap. Biasanya hasil buah kelapa akan di gunakan untuk membeli bola kaki atau bola volly.....

Itulah masa kecilku waktu di kampung yang tidak bisa di jumpai di jaman sekarang. Tentunya anda punya bentuk permainan yang lebih heboh...!!!!! bentuk apa yang masih anda ingat ..???

Jumat, 11 Desember 2009

Bulupayung - Kebumen ....



“BULUPAYUNG“ kata yang aneh bagi orang yang pertama mendengarnya, dan banyak nama Bulupayung di berbagai daerah di Indonesia, tapi Bulupayung yang ini adalah Bulupayung nama sebuah desa kecil di sebelah baratdaya kota Kebumen Jawa Tengah tepatnya masuk wilayah Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Adimulyo. Desa yang berpanorama indah di apit oleh pegunungan.. Sebelah utara nampak indah berjejer bukit membentuk gugusan pegunungan serayu, di sebelah barat pegunungan kapur. Melengkapi keindahan Bulupayung, bila fajar datang matahari muncul di ikuti gunung merapi dan merbabu dari gugusan pegunungan menoreh di sebelah timur, tidak mau ketinggalan kemegahan Gunung Slamet nampak di sisi barat.

Kondisi dan suasana desa ini lajimnya desa-desa di Indonesia, jalan masih tanah dengan di lapisi pasir atau kerikil kecil untuk menahan becek ketika musim hujan, dengan di hiasi tumbuhan hijau sebagai pagar hidup. Tapi ada yang istimewa di desa ini yaitu adanya jalan yang cukup baik beraspal yang menghubungkan dengan wilayah lain terutama jalan menuju kota Karanganyar yang merupakan jalur jalan lintas selatan pulo jawa. Jalan tersebut di bangun oleh salah satu penduduk asli Bulupayung yang sukses di perantauan.

sebagian penduduk desa lain beranggapan warga Bulupayung mempunyai tradis kesuksesan hidup di peratauan. dan masih menurut crita penduduk desa sekitar bahwa Bulupayung merupakan desa yang sedikit angker / keramat, dengan di tandainya bangunan makam kuno di sisi utara desa mulai dari timur, tengah hingga ke barat desa, itu terbukti setiap orang di luar desa bulupayung yang melintas akan mendapat sedikit gangguan. Itu hanya cerita boleh percaya boleh tidak yang penting jangan menimbulkan Syirik….

Penduduk desa Bulupayung yang mayoritas bertani dengan komoditas utamanya Padi dengan di bantu aliran dari irigasi Sempor dan Wadaslintang, cukup membuat penduduk untuk hidup nyaman. Bukan berarti yang bekerja di pemerintahan tidak ada, kaloupun ada kebanyakan sebagai pengajar / Guru itupun sangat sedikit dan yang lainya terbagi merata sebagai pegawa kantoran, dan itupun sudah paripurna / pensiunan.

Para pemuda desa Bulupayung sebagaimana umumnya daerah lain selepas sekolah biasanya akan merantau ke daerah lain (perkotaan) ada yang melanjutkan sekolah atau dengan tujuan mencari pekerjaan. Maka tidak heran desa ini jarang sekali di jumpai pemuda usia produktif. Desa ini akan sedikit marak apabila datang Hari Raya Lebaran seperti di daerah lain Desa Bulupayung juga mempunyai tradisi yang sama. Yaitu tradisi mudik/pulang kampung bagi yang merantau ke daerah lain. Maka akan terasa banget nuansa keakraban antar warga yang begita lama tidak berjumpa. Maka di bentuklah suatu perkumpulan "Paguyuban Bulupayung & Duduhan" (silahkan baca blognya).

Itulah sedikit gambaran tentang desaku yang ku cintai tempat aku di lahirkan dan masa kecilku yang penuh kisah....

Asal Mula Nama Desa Bulupayung
Paguyuban Bulupayung & Duduhan
Makam P. Trenggono dan Nyai Maduretno di Desa Bulupayung

Minggu, 03 Mei 2009

Paguyuban Bulupayung & Duduhan

Paguyuban ini terbentuk atas dasar kepentingan bersama penduduk Dusun Bulupayung Desa Mangunharjo Kecamatan Adimulnyo Kabupaten Kebumen Propinsi Jawa Tengah Indonesia. Sudah menjadi kebiasaan para pemuda/pemudi di dusun ini bahwa selepas sekolah (SMA) akan meninggalkan kampungnya untuk melanjutkan studinya ataupun mencari pekerjaan ke daerah lain (perkotaan), karena di Dusun Bulupayung ini tergolong daerah agak terpencil untuk ukuran pulao jawa. Itulah yang mendasari pembentukan Paguyuban Bulupayung & Duduhan, kenapa ada Duduhan, dan bukan paguyuban Mangunharjo? (lengkapnya baca di Bulupayung Kenbumen)

Dari 5 Dusun yang ada di Desa Mangunharjo yaitu Dusun Bulupayung, Duduhan, Cangkringan, Karangkambang dan Criwik, pemuda Bulupayunglah yang paling banyak merantau sebetulnya ada keinginan untuk menggabungkan kelima dusun tersebut, tetapi banyak hambatan ataupun pertimbangan. Kemudian Dusun Duduhan ikut bergabung karena lebih disebabkan adanya ikatan emosional yang lebih dekat dengan Dusun Bulupayung dan punya kesamaan.

Paguyuban Bulupayung & Duduhan dibentuk atas dasar kebersamaan atau merasa senasib hidup jauh dari kampungnya, dengan demikian silahturahmi dan komunikasi akan tetap terjalin. Selain itu juga yang terpenting dapat ikut berperan membantu pembangunan di kampunnya semisal perbaikan jalan, membangun sarana-sarana umum dan masih banyak lagi yang berhubungan dengan usaha kemajuan kampung halamannya.

Untuk menjalin silahturahmi diantara anggota, Paguyuban Bulupayung & Duduhan juga membuka kantor perwakilan yaitu di Dusun Bulupayung dan di Jakarta dan kedepan akan membuka kantor cabang lagi di kota lain sesuai perkembangan, kegiatan untuk mempererat silahturahmi paguyuban ini biasa melakukan pertemuan sesuai kebutuhan atau yang sudah menjadi agenda rutin adalah mengadakan acara Halal bi Halal setiap tahun yang dilakukan setiap bulan Syawal selepas Idhul Fitri, dan tempatnya bergantian antara Bulupayung dan Jakarta, dan selalu di ikuti dengan acara kesenian semisal pagelaran Wayang Kulit atau yang lainya.
Ok kan...!!!
 
Asal Mula Nama Desa Bulupayung
Bulupayung - Kebumen ....
Makam P. Trenggono dan Nyai Maduretno di Desa Bulupayung
Makam P. Joyo Kusumo di Desa Bulupayung