Minggu, 04 September 2016

Ibuku Telah Tiada

.
Ya Allah, ampunilah ibuku, maafkanlah Dia, muliakanlah tempatnya, luaskanlah tempat masuknya, sucikanlah Dia dari segala kesalahan sebagaimana pakaian disucikan dari najis. Gantikan untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya. Masukanlah ke dalam surga dan lindungilah Dia dari azab kubur dan azab neraka. Hingga hari ini saya sangat menyesal belum sempat membuat Ibuku bahagia. Kehilangan beliau membuatku terasa hampa, tidak ada lagi suara lembut dari bibirnya
.
Sakit yang di derita ibuku selama tiga tahun terakhir yang tak kunjung membaik membuat ibu serasa putus asa, tetapi dengan dorongan semangat yang besar Ibu bisa bertahan dan bisa membuat suami dan anak anaknya tersenyum bahagia. Itulah kenapa sampai saat ini saya seolah tidak percaya bahwa Ibu telah tiada.
.
Hari Selasa tanggal 23 Agustus 2016 sekitar pukul 03:15 pagi adik saya menginfokan dari rumah sakit di Kebumen lewat group WA keluarga bahwa Ibu telah di panggil oleh sang Maha kuasa, yang memang pada malam itu saya tidak bisa tidur. Sesaat terdiam, tak terasa air mata keluar, ku bangunkan istiku, segera berkemas pulang kampung, dan seketika itu juga anak anaku terbangun mungkin karena terdengar suara gaduh. Setelah menempuh perjalanan dari ba'da sholat subuh, sekitar pukul 13:15 WIB sampailah dirumah dimana saya dilahirkan dan dibesarkan oleh kedua orang tuaku. Di halaman rumah sudah banyak kursi dan tamu, saya berusaha bersikap tenang jangan sampai air mataku keluar, seya sengaja lewat pintu samping karena belum siap melihat Ibu secara langsung, sambil berlalu setiap orang yang ku lewati memberikan salam. Setelah dirasa siap, baru saya berani menemui Ibu di ruang tamu.
.
Saat itu saya melihat tubuh terbaring tertutup rapat kain bermotif batik, saya berusaha menjaga air mata jangan sampai keluar ku dekati agar bisa melihat wajah ibuku untuk terahir kali, saya berusaha membuka ikatan tali kain kafan yang menutupi wajah Ibuku, hampir saya tidak bisa menguasai diri, tetapi adik saya dari belakang selalu mengingatkan jangan sampai nangis. Ikatan kain kafan yang begitu kuat saya tidak bisa melihat Ibu secara sempurna akhirnya saya sudahih, sudah cukup bisa melihat rambut, kepala, kening dan mata ibu, kemudian saya berlalu ke kamar mandi ku tumpahkan airmataku, toh ga ada yang liat.
.
Hari itu aku kehilangan orang nomor satu yang ku cintai dan tempatku mengadu, berkeluh kesah, bermanja hari itu telah benar benar tiada. Duh hai Ibu.........!!!!!!, perempuan yang baik hati dan penyabar kau telah pergi. Telah benar benar meninggalkan kami, aku harap Bapaku selalu sehat dan kuat. Tidak sakit sakitan seperti Ibuku. Bapakulah yang mendidiku dengan disiplin tinggi dalam segala hal.
.
Masih ku ingat dalam ingatanku ketika ku pulang ke rumah Ibulah yang paling sibuk menyambutku dengan mempersipakan makanan dan minuman, Begitu juga ketika saya kembali merantau beliaulah paling repot mempersiapkan ole ole dan bekal makanan selama di perjalanan.
.
Ibu.. masih ku kenang betapa gigihnya beliau mengasuh saya dan adik adiku, ketikaku mau berangkat sekolah Ibu pagi pagi sudah bangun terlebih dulu untuk mempersiapkan sarapan pagi, Ketika Bapaku pulang kerja Ibuku sudah mempersiapkan air minum kesukaanya dan makan siang tersusun rapi di meja makan.
.
Masih terbayang betapa perkasanya Ibuku mengangkut berbagai jenis sayuran dengan sepeda onthel untuk di jual kembali di rumah. Belum hilang di ingatanku ketika Ibuku berkeliling desa menjajakan baju daganganya dengan mengayuh sepeda ontel. Dua mesih jait dan satu mesin obras bukti kegigihan Ibuku dalam membantu Bapaku membesarkan dan mendidik anak anaknya, yang kini jadi barang bersejarah.
.
Ibu.. kau bagai lentera yg mampu terangi dan hangatkan jiwa anak anakmu, disaat anakmu gundah dan takut seperti ini biasanya kau temani dan kau berikan semangat sambil berucap “tetaplah bersabar dan berdoa”. Tak terhitung berpa banyak cinta yg kau berikan, tak terhitung berapa banyak nyanyian yg kau nyanyikan di kala anak anakmu akan terlelap, sungguh kasihmu telah membuaiku…
.
Ku anter jasad Ibuku sampai di peristirahatan terahir di desa dimana Ia di lahirkan dan di besarkan. Dengan kedua adiku, ku bopong, ku peluk dan ku baringkan di peristirahatan yang teahir kalinya, kembali air mataku ingin keluar dari kelopaknya tetapi sekuat tenaga ku tahan agar air mataku tidak menetes.
.
Sampai benar benar jasad Ibuku sudah tak terlihat lagi, orang orangpun sudah mulai meninggalkan tempat itu, hanya tersisa saya Bapaku dan adik adiku bersimpuh sambil melihat kayu bertulisan nama Ibuku. Lama kami tidak beranjak, terdiam, mungkin masing masing sedang membayangkan wajah Ibunya. Setelah beberapa waktu, akhirnya kami sekeluarga meninggalkan Ibu sendirian di tempat itu. Dari kejauan hanya terlihat tanah merah dengan dua kayu nisan dan taburan bunga di atasnya.

Oh ibu.. andai bisa kuputar kembali waktu.. aku ingin bersujud mencium kakimu.. atas apa yang telah engkau berikan selama ini padaku, yang telah merawat aku, yang telah mendidik aku, yang telah menyayangiku, yang telah mencintaiku tanpa terpupus waktu hingga ajal kini menjemputmu… maafkan aku ibu yg belum bisa berbuat banyak untukmu, yang belum sempat membalas segala kebaikan yang tak terkira sepanjang hariku..
Ya Allah.. ku menangis bukan karena ketidak ikhlasan akan kuasaMu. tapi ini adalah penyesalan yang dalam atas apa yang selama ini aku lakukan terhadap ibuku. Terkadang aku membantahnya. Terkadang aku juga menampakkan wajah cemberut di hadapnya, bahkan terkadang aku juga mengatakan kata-kata yang tak pantas untuknya. Aku mengira bahwa waktu ini terjadi nanti hingga ku ulur ulur waktu untuk tidak memeluknya.  Astaghfirullah...

Wahai Ibu yang telah di sisiNya, ini anakmu memohon maaf atas segala salah dan khilaf yang belum mampu membuatmu bahagia, yang belum mampu membuat engkau bangga. Ya Allah Engkau tempat meminta, kini aku meminta semoga Engkau berikan tempat yang terbaik untuknya, sebuah tempat yang tidak lagi ada duka, sebuah tempat yang penuh keindahan taman taman syurga, jadikan Dia ratu bidadari di syurgaMu. Dan berikan aku kekuatan untuk membuat dia bangga untuk menjadi anak yang sholeh yang mampu meneduhkan kehidupan kelak ketika tiba hari dimana tidak ada hari selain naunganMu. Ya Allah... beri aku kekuatan untuk baik yang kebaikanya akan kupersembahkan untuk Ibuku, sebagai rasa sesal dan salahku selama ini yang kurang begitu peduli padanya. Astagfirullah....

Ibu...., aku meminta maaf, dahulu sewaktu engkau masih ada di sini bersamaku. aku tidak menyadari betapa kehadiranmu adalah sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupanku, tetapi kini, ketika tak lagi kudengar suaramu, ketika tak lagi kulihat dirimu, betapa sepi hiduku, dulu ku selalu bercerita tentang keberhasilanku di perantauan. Ya.. Allah maafkan aku. Belum juga aku meminta maaf padanya atas segala salah dan ucap dan salah tingkah yang aku perbuat terhadapnya yang mungkin membuat Ibu menangis saat sendiri, dan tidak ditampakkanya tangis itu demi aku. Ya.. Allah ampuni aku, ampuni Ibuku.
.
.

Senin, 04 April 2016

Temu Kangen Warga Bulupayung se Jabodetabek dan Sekitarnya

Pintu masuk TMII di pagi hari

Alhamdulillah segala puji serta syukur kepada Alloh SWT kami warga desa Bulupayung Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Adimulyo Kabupaten Kebumen Jawa Tengah yang tinggal di wilayah Jabodetabek dan Kerawang pada tanggal 3 April 2016 bertempat di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta dapat menyelenggarakan Temu Kangen dan Silahturahim, berjalan secara lancar dan meriah.

Temu kangen tersebut hanyalah sebuah acara ringan dengan susunan acara yang tidak terlalu kaku/formal dalam format santai dan saling bertatap muka antar warga Bulupayung yang sudah lama tidak saling bertemu, bahkan ada yang lebih dari belasan tahun. Pertemuan tersebut diharapkan memberi inspirasi untuk melajutkan kedepan dengan mendengar, melihat, memahami, menampung aspirasi yang disampaikan dari beberapa anggota yang hadir pada saat itu.

Sebetulnya Desa Bulupayung sudah mempunyai perkumpulan sendiri yaitu Paguyuban Bulupayung dan Duduhan yaitu gabungan dari dua desa tersebut. Tetapi beberapa tahun terakhir ini paguyuban tersebut fakum tidak ada kegiatan. 

Berawal dari sekedar iseng dari salah satu warga Bulupayung yang tinggal di perantauan, dengan memanfaatkan kemajuan teknologi berupa media sosial seperti WhatsApp. Maka dapat mengumpulkan warga Bulupayung di Jabodetabek dalan satu komunitas bernama Bulupayung Family. Maka munculah gagasan untuk berkumpul.

Dengan dipandegani oleh Mas Wito Hadiwijaya dan Mas Nugrahono, Mas, Supriadi serta Mba Susi Anita Sari, Maka acara tersebut bisa berjalan lancar dan sukses. Peserta yang hadir ke Taman Mini Indonesia Indah tidak dipungut biaya alias gratis ditanggung panitia, serta kaos t-shirt yang eksklusif,  luar biasa....

Dalam acara tersebut lahirlah gagasan untuk membentuk wadah perkumpulan semacam paguyuban khusus untuk warga desa Bulupayung yang berada di sekitar Jabodetabek dengan struktur kepengurusan Paguyuban Putra Putri Bulupayung (P3B) sebagai berikut : 

Pembina & Penasehat   :   1. Sarjono
                                            2. Supriadi

Ketua                              :  Nugrahono   
Sekertaris                       :  Agus Priatmojo                     
Bendahara                      :  Susi Anita Sari
Humas                            :  Suwito Hadiwijaya

Koordinator Wilayah ;
Jakarta Pusat & Utara                : Imam Santoso
Jakarta Timur & Pondok Gede   : Supriono
Jakarta Selatan & Depok            : 
Jakarta Barat & Tangerang         : SG. Lubar Prastowo dan Tri Wahyono
Bekasi Utara                               : Istiko Subandono
Bekasi Selatan                            : Sutarjo
Cikarang                                      : Erwin Harsono
Karawang                                    : Azis Sutadi

Berikut Galeri Foto Pertemuan Temu Kangen :
    :
Mas Wito Hadiwijaya, membuka acara
Indahnya kebersamaan

Wajah wajah ceria

Saling sapa dan bercanda

Keluarga Besar Bapak Suparmin

Lama tidak Jumpa

Rapat kecil pengurus

Indahnya kebersamaan

Rukun Kompak
Bersatu dalam keceriaan

Menjalin Silahturahim

Selalu berbagi
Saling berbagi cerita

Bercanda dan bercerita

Asal Mula Nama Desa Bulupayung 

Jumat, 18 Maret 2016

Membangun Silahturahmi dengan Media Sosial

Perkembangan teknologi yang semakin canggih di era globalisasi sekarang ini berdampak langsung bagi seluruh masyarakat di Indonesia. Sebelum perkembangan tersebut nampak jelas di dunia ini, tidak banyak masyarakat yang mengenal berbagai macam media telekomunikasi seperti internet. Berbeda dengan zaman sekarang di mana sebagian masyarakat bahkan masyarakat menengah ke bawah, sudah mengenal teknologi komunikasi seperti internet.
Internet memang memberikan banyak kemudahan bagi penggunanya. Dengan internet kita dapat mengakses informasi secara mudah, cepat, dan terkini. Berbagai situs dalam internet seolah menjadi candu masyarakat di mana mereka manjadi mengandalkan internet untuk kepentingan hidup mereka. Seperti WhatsApp. 
Hampir semua orang punya smartphone, dan aplikasi WhatsApp adalah aplikasi wajib yang terinstall di telepon pintar tersebut. Aplikasi besutan Brian Acton dan Jan Koum ini kemudian menjadi sangat lumrah digunakan. Walaupun banyak yang sejenisnya seperti Line atau Kakao, tapi nyatanya WhatsApp tetap menjadi pilihan utama. 
Salah satu fenomena yang kemudian menjadi relevan adalah grup WhatsApp. Sekarang orang-orang sekantor pasti punya grup WhatsApp. Grup WhatsApp juga digunakan oleh rekan-rekan segenerasi. Ada grup WhatsApp yang isinya orang-orang yang tumbuh dan besar di Kampung Bulupayung. Ada grup keluarga Bapak Turiman dan masih banyak lagi.

Berbicara tentang desa Bulupayung selalu tidak ada habisnya. Desa yang masuk wilayah kabupaten Kebumen ini rata rata dihuni oleh orang yang berusia sekolah dan sepuh, karena biasanya selesai sekolah menengah atas mereka akan merantau ke daerah lain atau perkotaan. Kalau kita iseng buka mbah Google sangat mudah menemukan desa Bulupayung di kabupaten Kebumen ini. Bahkan yang lagi trend sekarang ini WhatsApp-pun Bulupayung punya grup yang bernama Bulupayung Family, tujuanya simpel, berawal dari sekedar iseng hanya untuk candaan berkembang menjadi suatu kebutuhan untuk menyatukan Orang orang Bulupayung di seluruh antero Indonesia, Luar biasa.... Bahkan sudah menjadi suatu kebanggaan tersendiri.

Dengan WhatsApp kita bisa saling berbagi informasi atau sekedar mengucapkan ulang tahun, ucapan bela sungkawa dan yang pasti kita bisa ngobrol kapanpun tidak ada batasan baik siang dan malam. Yang tadinya tidak kenal menjadi kenal, yang tadinya biasa biasa saja menjadi akrab, itulah dampak dari chatting WhatsApp. Disadasri atau tidak, telah mengubah gaya hidup banyak orang.

Zaman dahulu kehidupan masyarakat tenang-tenang saja tanpa kehadiran teknologi chatting dan jejaring sosial di tengah-tengah mereka. Sedangkan di era ini sebagain besar remaja dan orang dewasa dapat diibaratkan tidak bisa hidup tanpa teknologi seperti internet, smartphone, dan jejaring sosial tersebut. Teknologi ini meningkatkan rasa ingin tahu yang besar di diri kita, ingin selalu update akan informasi dan trend saat ini, serta membuat lebih membuka diri dan keseharian mereka lewat situs sosial yang dapat dikunjungi oleh banyak orang.
Sudah menjadi candu bagai banyak Orang Indonesia. Kehadirannya membawa perubahan positif maupun negatif yang berdampak bagi kita dan hubungan sosial dengan orang lain. Penggunaanya sebaiknya dapat dilakukan sesuai porsi dan tempatnya. Mengumbar amarah dan hal-hal yang sifatnya pribadi dapat menurunkan kualitas diri kita di mata orang lain. Hal itu hanya akan membuat mereka menganggap bahwa kita hanyalah pribadi yang kurang percaya diri. Selain itu dengan menggunakannya dalam porsi berlebih akan membuat kita selalu dalam ketergantungan dan menomor duakan hal-hal yang justru lebih penting seperti pekerjaan, pelajaran, bahkan waktu bersama orang-orang terdekat, sehingga penggunaannya harus menyesuaikan. Perubahan teknologi yang besar berpengaruh pada perubahan gaya hidup yang besar juga. Maturnuwun niku mawon celotehane kulu.... salam sukses nggo wong Bulupayung dimana saja....


Asal Mula Nama Desa Bulupayung


Selasa, 08 Desember 2015

Rindu Nasi Berkat Kenduri

Nasi kenduri dibungkus daun pisang
Sedulur semua, bagi orang desa pasti paham dengan istilah kenduri, ya... kenduri yang punya nama lain kepungan, atau selamatan yaitu suatu kegiatan doa bersama yang biasanya di lakukan oleh bapak-bapak di salah satu rumah warga atas undangan tuan rumah dengan tujuan untuk mendoakan atau meminta kelancaran dan keselamatan atas rencana dan kegiatan yang akan di lakukan. Kenduri biasanya dilakukan setelah waktu Asyar atau selepas waktu Isya, sesuai kondisi yang punya hajat. Undangan kenduri biasanya di lakukan secara langsung ke tiap rumah dan dilakukan oleh orang yang secara khusus di beri tugas untuk mengundang. Orang yang melakukan kenduri biasanya memakai pakaian lengan panjang/baju koko, memakai sarung dan peci / kopiah. 

Kalau membicarakan soal kenduri/kepungan tidak bisa lepas dari nasi berkat. Khususnya bagi seorang muslim asal Jawa yang masih kental keNUannya. Nasi berkat adalah hasil kearifan lokal. Di negara asal Islam sendiri tidak ada istilah yang mirip kenduri yang isinya tahlilan, dzikir, berdoa kemudian pulang membawa tentengan nasi berkat. Disini tidak membahas tentang hukum kenduri menurut ajaran Islam, saya hanya ingin mengenang indahnya dan nikmatnya suasana kenduri dengan segala rupanya. 

Di kampung saya desa Bulupayung Kebumen Kenduri sudah menjadi hal yang lazim, ketika salah satu warga mempunyai hajat atau syukuran. Teringat ketika saya masih kecil Bapak saya pulang kenduri membawa gulungan daun pisang, bentuknya antik dan khas, tentu isinya nasi, serundeng, thempleng/peyek, tempe goreng, tumis kacang panjang, kerupuk, dan tak ketinggalan beberapa potongan/suiran daging ayam ingkung. 

Nasi kenduri
Perkembangan jaman yang begitu cepat rupanya mempengaruhi juga terhadap tradisi kenduri ini, bukan cara atau doa yang berubah tetapi cara pelaksanaan kendurinya. Kalau dulu nasi berkat di bungkus dengan sebatang daun pisang yang digulung, sekarang makin praktis dengan ceting atau berupa wadah yang terbuat dari plastik. Dulu ada daging ayam ingkung sekarang di ganti dengan daging ayam goreng dan telur bulet yang direbus. 

Memang yang sekarang lebih praktis dibanding dengan menggunakan daun pisang, tetapi menurut saya nilai historisnya jauh sangat berbeda. Kenikmatan nasi kendurinya juga sangat berbeda. Dulu yang punya hajat kenduri menyediakan dahan daun pisang sebagai alas pembungkus nasi dan lauknya, beberapa tumpeng nasi, satu ayam daging utuh, beberapa piring lauk seperti sayur kacang panjang, serundeng, peyek, tempe, aneka macam lalaban dll. Kemudian semua itu dibagi ke peserta kenduri, biasanya yang membagi adalah orang-orang tertentu yang dianggap mampu, barulah undangan bisa makan bersama.

Isi nasi berkat kenduri bungkus daun pisang
Yang seperti itu sekarang di kampungku tidak bisa ditemukan lagi karena sudah di runbah. Orang yang menghadiri undangan kenduri cukup duduk manis mendengarkan sambutan dan doa dari orang yang di kasih amanat oleh yang punya hajat. setelah itu dibagikan nasi yang sudah tertata rapi dalam sebuah tempat, setelah itu pulang deh.... Sedikit sekali undangan yang mencoba menyantap nasi kendurinya mungkin malah tidak ada yang menikmati nasinya.

Begitulah, jaman telah merubah segalanya tak terkecuali tradisi kenduri yang penuh nilai history sudah tidak ada lagi...


Sabtu, 21 November 2015

Indahnya Hidup di Desa


Hidup di desa bagi sebagian anak muda merupakan alternatif berikutnya apalagi bagi mereka yang tidak mempunyai kemampuan bertani. Untuk orang yang asalnya dari kampung tidak menjadi hambatan dan sudah paham bagaimana rasanya hidup di desa. Saya yang terlahir dan besar di desa alias bukan berasal dari kota bisa merasakan kehidupan kampung. Berbeda dengan orang yang lahir dan besar di perkotaan yang kemudian harus hidup di desa akan butuh waktu untuk menyusaikan diri, bukan berarti tidak mampu tetapi butuh waktu.

Banyak kenikmatan yang di dapat bila hidup di desa seperti bisa menanam padi di sawah , sayur-sayuran, buah buahan atau memelihara ternak secara alami. Memelihara ayam kampung misalnya, apabila ingin makan daging ayam tinggal memotong sendiri, bila ayam berlebih bisa di jual sebagai penghasilan tambahan.

Saya merasa salut dan terkesan ketika ada orang yang terlahir dan besar di kota tapi mampu hidup di kampung. Hidup di desa sangat identik dengan kesederhanaan berbeda jauh dengan di perkotaan yang segalanya selalu di beli dari hal yang terkecil seperti air bersih bahkan hanya untuk membuang sampahpun harus di bayar dengan uang. Bagi orang yang tidak bisa berkompetisi jangan coba-coba hidup di perkotaan, kecuali mempunyai ketrampilan khusus. Atau mungkin wiraswasta/sesuatu yang bisa menghasilkan uang. 

Kebanyakan orang di desa mempunyai tanah walau mungkin hanya sedikit. Dengan tanah itu orang di pedesaan bisa memanfaatkan untuk bercocok tanam apalagi kalau tanahnya sangat subur. Seperti Bapaku yang menanam pohon kelapa, pisang, nanas. dll. Sampai buah kelapa dan nangka jatuh sendiri dari pohonya karena memang terlalu banyaknya dan apabila di jual sangat murah tidak sebanding dengan besarnya biaya perawatan, kalau dijual harganya sangat murah. Tapi walau harganya murah kelapa masih bisa menambah penghasilan dan mencukupi kebutuhan. 

Hidup di desa itu ibaratnya uang 5 ribu rupiah sudah cukup buat makan sehari. Misalnya makan cukup dengan lauk tempe/tahu atau mumgkin hanya dengan garam atau sambal itu nikmatnya sudah luar biasa. Boleh bandingkan dengan kehidupan di pekotaan. Tapi kenapa orang desa setelah selesai sekolah berbondong bondong pindah ke kota, jawabanya mungkin ingin merubah gaya hidup, ingin mencari kehidupan yang lebih baik atau memang di desa tidak mempunyai lahan garapan untuk hidup sehari hari. 



Hidup di desa memang indah dengan alamnya yang masih terjaga guyub rukunnya dan tradisi tepo sliro / saling menghormati masih terpelihara. Hidup gotong royong sebagai ciri khas yang sangat indah. Masyarakatnya yang sederhana dan "tidak termakan oleh pasar" semakin membuat saya tidak bosan bila saya saat berada di kampungku Bulupayung Kabupaten Kebumen Jawa Tengah suasana kedesaannya masih tetap terjaga... ga percaya .. boleh dicoba, pulang kampung sekarang...

Berbagai tanaman yang bisa kita tanam

Pohon Kelapa
 
Pohon Pisang
Pohon Nangka
elengkapnya : http://www.kompasiana.com/sihitam/indahnya-hidup-di-desa_55e5f70ff67a61500d9c80c5

dup di desa memang indah dengan alamnya dan ketentramannya. Gotong royong masih sering dan rutin saya temui di desa (kampung halaman) saya ini. Masyarakatnya yang sederhana dan "tidak termakan oleh pasar" semakin membuat saya tidak bosan di Kabupaten Bangkalan ini. Meski dekat dengan Kota Surabaya (tinggal lewat Jembatan Suramadu atau Pelabuhan Ujung di Kamal) namun suasana kedesaannya masih tetap terjaga. (AWI)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sihitam/indahnya-hidup-di-desa_55e5f70ff67a61500d9c80c5
Hidup di desa memang indah dengan alamnya dan ketentramannya. Gotong royong masih sering dan rutin saya temui di desa (kampung halaman) saya ini. Masyarakatnya yang sederhana dan "tidak termakan oleh pasar" semakin membuat saya tidak bosan di Kabupaten Bangkalan ini. Meski dekat dengan Kota Surabaya (tinggal lewat Jembatan Suramadu atau Pelabuhan Ujung di Kamal) namun suasana kedesaannya masih tetap terjaga. (AWI)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sihitam/indahnya-hidup-di-desa_55e5f70ff67a61500d9c80c5
Hidup di desa memang indah dengan alamnya dan ketentramannya. Gotong royong masih sering dan rutin saya temui di desa (kampung halaman) saya ini. Masyarakatnya yang sederhana dan "tidak termakan oleh pasar" semakin membuat saya tidak bosan di Kabupaten Bangkalan ini. Meski dekat dengan Kota Surabaya (tinggal lewat Jembatan Suramadu atau Pelabuhan Ujung di Kamal) namun suasana kedesaannya masih tetap terjaga. (AWI)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sihitam/indahnya-hidup-di-desa_55e5f70ff67a61500d9c80c5
Hidup di desa memang indah dengan alamnya dan ketentramannya. Gotong royong masih sering dan rutin saya temui di desa (kampung halaman) saya ini. Masyarakatnya yang sederhana dan "tidak termakan oleh pasar" semakin membuat saya tidak bosan di Kabupaten Bangkalan ini. Meski dekat dengan Kota Surabaya (tinggal lewat Jembatan Suramadu atau Pelabuhan Ujung di Kamal) namun suasana kedesaannya masih tetap terjaga. (AWI)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sihitam/indahnya-hidup-di-desa_55e5f70ff67a61500d9c80c5
Pohon Nanas
 
Pohon Kecombrang
Asal Mula Nama Desa Bulupayung



Kamis, 22 Oktober 2015

Kesenian Tari Kuda Kepang Desa Mangunharjo

penampilan Barong dalam tari kuda Kepang
Desa Mangunharjo Kebumen merupakan desa yang tergolong makmur dan tentram, masyarakatnya yang mempunyai sifat gotong royong adalah modal utama untuk membangun. Sebagai bagian wilayah pulau Jawa, Mangunharjo tidak bisa terlepas dari budaya Jawa, seperti tari kuda lumping. Tari ini biasa disebut juga dengan jaran kepang atau jathilan.

Kuda lumping adalah tarian tradisional jawa yang menampilkan sekompok prajurit yang tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda-kudaan yang terbuat dari kulit kerbau atau kulit sapi yang telah dikeringkan (disamak) dan ada juga yang terbuat dari anyaman bambu yang kemudian diberi motif atau hiasan dan direka seperti kuda. Selain itu kuda lumping juga identik dengan hal-hal magis. 

Tarian kuda lumping menampilkan adegan prajurit berkuda, namun dalam penampilannya terdapat juga atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Kuda tiruan yang digunakan dalam tarian kuda lumping dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang di gelung atau di kepang, sehingga masyarakat jawa menyebutnya sebagai jaran kepang. 

Tari Kuda Kepang dengan tarian baronganya
Tarian ini biasanya disuguhkan untuk menghibur tamu pada saat hajatan atau acara syukuran sedekah bumi. di desa Mangunharjo terdapat kelompok kesenian tari kuda lumping yang para anggotanya dari anak-anak muda desa setempat. Dan mereka selalu tampil ketika salah satu warga mengadakan hajatan atau syukuran.


AsaL Mula Nama Desa Bulupayung

Kamis, 24 September 2015

Aku Bangga Berbahasa Jawa Ngapak

Dalam setiap perkenalan atau ketika saya menyebut daerah asalku, orang akan selalu senyum ngeledek. Terlebih lagi ketika saya berbicara dengan bahasa daerah kelahiranku mereka kadang mentertawakanku, tidak masalah buatku, malah semakin ditertawakan semakin bangga terhadap bahasaku. Yah... saya memang sering menggunakan bahasa jawa ngapak apalagi kalau berjumpa dengan sesama jawa ngapak, semakin ditertawakan semakin ku kerasin intonasinya.

Karena sering ditertawakan dan dipandang rendah saya berfikir kenapa logat bahasaku di rendahkan dan selalu ditertawakan apa yang membuat mereka tertawa, toh setiap mereka bicara bahasanya standar banget, bagus banget juga engga, sombong sekali mereka... Saya coba mencari tau tapi jawabanya tidak masuk akal.

Ketika tak sengaja saya mampir ke sebuah toko buku di Purwokerto, saya menemukan buku tentang bahasa jawa ngapak. Dalam buku tersebut di jelaskan bahwa bahasa jawa ngapak itu bermula ketika kedatangan orang-orang Kalimantan tepatnya Kutai pada masa pra Hindu sekitar abad ke 3 sebelum Masehi yang mendarat di daerah Cirebon. Kemudian mereka menetap di sekitar Gunung Slamet dan Sungai Serayu, dan mendirikan sebuah kerajaan yang disebut Galuh Purba, mungkin kerajaan tersebut merupakan kerajaan pertama di Pulau Jawa, mengingat Kutai adalah kerajaan pertama di Indonesia, yang menurut buku tersebut nantinya dari kerajaan Galuh Purba-lah akan lahir penguasa-penguasa di kerajaan Jawa selanjutnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh E.M Uhlenbeck, tahun 1964, bahasa yang digunakan oleh keturunan Galuh Purba masuk ke dalam rumpun basa jawa bagian kulon yang meliputi: Sub Dialek Banten Lor, Sub Dialek Cirebon/Indramayu, Sub Dialek Tegalan, Sub Dialek Banyumas, Sub Dialek Bumiayu. Dialek inilah yang sering disebut bahasa jawa ngapak. yang sering ditertawakan orang... karena lucunya.

Bahasa Jawa menjadi berbagai tingkatan yaitu ngoko, kromo dan kromo inggil. tingakatan tersebut di pengaruhi oleh situasi politik pada masa kerajaan Mataram. Dalam sejarahnya bahasa Jawa ngapak merupakan turunan dari bahasa Jawa tengahan/kawi. Jawa ngapak juga adalah budaya tanggung atau marginal artinya dalam mengadopsi budaya Jawa dan sunda sama-sama dangkal. Makanya orang yang berlogat bahasa Jawa ngapak tidak lagi memperdulikan status sosial di masyarakat seperti ningrat atau priyayi. pengguna bahasa Jawa ngapak lebih suka bersikap kesetaraan atau netral. Etika ini dibangun atas dasar etika kemanusiaan yang dapat memunculkan kekuatan solidaritas yang membedakan antara Jawa ngapak dan Jawa lainnya.

Karakter bahasa Jawa ngapak inilah yang membentuk orang menjadi diri sendiri tanpa harus terpengaruh dengan budaya lain. Karena itulah Orang yang mengunakan bahasa Jawa ngapak jarang sekali mengolok olok ataupun merendahkan bahasa Orang lain. Malah mungkin justru sebaliknya karena sikap feodalisme sebagai orang Jawa menganggap dialek bahasa Jawa ngapak sering dianggap bahasa yang lucu dan rendahan. Ada pandangan yang menganggap sebagian besar orang yang menggunakan bahasa Jawa ngapak merasa rendah diri ketika menggunakan bahasa Ngapak. Hal ini didasari dari, bagaimana bahasa yang digunakan saat berinteraksi dengan orang Jawa Wetan. Kalau tidak menyesuaikan diri dengan membandhekan ke-ngapakanya dipastikan menggunakan bahasa Indonesia. Menurut saya, ini bukanlah suatu hal yang negatif tetapi sebagai bentuk adaptasi.

Jangan malu berbahasa Jawa Ngapak, karena itu jati diri kita, malah seharusnya kita lestarikan dan kembangkan terus bila perlu dirikan pusat pengembangan bahasa Jawa Ngapak. Biar saja mereka menrendahkan dan mentertawakan kita...