Sabtu, 10 Desember 2011

Benteng Van der Wijk Gombong



Kota Gombong adalah kota terbesar kedua di kabupaten Kebumen. Kota yang merupakan pusat pemerithana kecamatan ini adalah merupakan tempat transit ke berbagai obyek wisata diantaranya ke pantai Logending, pantai Karangbolong, pantai Pedalen, Goa Jatijajar, Goa Petruk dan waduk Sempor. Di kota ini juga terdapat pusat pendidikan militer milik AD TNI. Kota Gombong dalam sejarah perjungan kemerdekaan Indonesia juga mempunyai cerita penting, terbukti dari banyaknya bentuk bangunan di masa kolonial. Kalau kita berkeliling kota akan banyak di jumpai bangunan kuno peninggalan kolonial Belanda dan yang paling menarik terdapat bangunan benteng yang mempunyai nilai sejarah tinggi..

Benteng ini adalah benteng pertahanan Belanda yang di bangun sekitar abad ke 18, didirikan atas prakarsa Jendral Van den Bosch, sedang nama Van Der Wijck adalah berasal dari nama komandan militer yang saat itu mempunyai karier cemerlang karena mempu meredam perlawanan rakyat Aceh dan konon mampu memenangkan berbagai peperangan di Indonesia. Pada awal berdirinya  benteng ini diberi nama Fort Cochius (Benteng Cochius) yaitu nama seorang Jendral Belanda Frans David Cochius (1787-1876) yang pernah bertugas di daerah Bagelan (daerah Kutoarjo). Tidak ada catatan yang pasti dalam sejarah kapan dimulainya pembangunan benteng tersebut, tetapi ada yang memperkirakan sekitar tahun 1827.

Benteng ini adalah merupakan barak militer yang awalnya digunakan untuk meredam kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro. Karena kehebatan beliau yang juga didukung pemimpin pemimpin lokal de selatan Jawa. Belanda menerapkan taktik benteng stelsel yaitu pembangunan benteng di lokasi yang sudah dikuasainya. Tujuanya adalah untuk memperkuat pertahanan sekaligus mempersempit ruang gerak musuh, terutama di karsidenan Kedu Selatan. 

Pada saat terjadinya peperangan Pangeran Diponegoro sekitar 1825-1830, Benteng Van Der Wijck digunakan sebagai tempat pertahanan. Meski demikian ada sejumlah ahli yang yakin kalau benteng tersebut bukan merupakan benteng pertahanan, melainkan sebagai benteng logistic dan Puppilen School atau sekolah calon militer. Secara pasti memang tidak ada sejarah yang mencatat secara persis untuk apa benteng itu digunakan.

Pada saat Indonesia di kuasai Jepang Benteng ini pernah di fungsikan untuk tempat latihan tentara Indonesia bentukan Jepang yakni PETA sebagai pasukan tambahan menghadapi Sekutu Di jaman itulah seluruh tulisan yang ada di benteng dicat hitam. Kemudian dimanfaakan untuk tentara Indonesia. Bahkan semasa KNIL, penguasa Orde Baru, Soeharto menjadi salah satu penghuni benteng tersebut.

Ciri paling khas Benteng Van Der Wijck adalah segi delapan/octagonal dengan luas mencapai 7.168 meter persegi. Tinggi benteng mencapai 10 meter yang terdiri dari dua lantai. Teba dinding 1.4 meter dan tebal lantai1.1 meter. Hamper seluruh bangunan bentuknya adalah tembok. Termasuk atapnya yang berasal dari bata merah. Di lantai satu dan dua terdapat masing-masing 16 ruangan besar dengan ukuran 18 x 6.5 m. Sementara ruang kecil di lantai satu berbagai macam ukuran ada 27 ruangan, sementara di lantai dua terdapat 25 ruangan. Pada lantai satu terdapat empat pintu gerbang, 72 jendela, 63 pintu antar ruangan maupun pintu keluar benteng, 8 anak tangga ke lantai dua serta dua anak tangga darurat. Sedangkan di lantai dua, terdapat 84 jendala, 70 pintu penghubung dan empat anak tangga ke bagian atap.

Sekarang, kompleks benteng ini menjadi Sekolah Calon Tamtama dan barak militer TNI AD. benteng ini juga menjadi obyek wisata andalan daerah Gombong dan sekitarnya. Pihak pengelola melengkapinya dengan taman bermain anak seperti kincir putar, perahu angsa, mobil-mobilan dll. Selain itu, juga disediakan kereta mini yang mengangkut pengunjung dari pintu gerbang utama menuju benteng yang jaraknya lumayan jauh. Untuk lebih menarik minat pengunjung pengelola menambahkan patung dinosaurus raksasa yang membuat anak-anak menjadi senang dan gembira. Dan deretan warung-warung makan yang beragam untuk memanjakan pengunjung Benteng Van der Wijck.

yang paling menyedot perhatian pengunjung adalah kereta mini persis di atas benteng. Dengan kereta ini pengunjung bisa mengelilingi benteng dan menikmati pemandangan di sekitar benteng, seperti menyaksikan prajurit TNI yang sedang berlatih di lapangan tak jauh dari kompleks benteng. Cukup dengan tiket Rp 5000 per orang, pengunjung bisa menaiki kereta mini selama sekitar 15 menit. Pengunjung bias merasakan sensasi menaiki kereta di atas benteng yang hanya bisa Anda dapatkan di kota Gombong ini.

Selain itu pengunjung juga bisa berkeliling Benteng untuk meliat lihat setiap ruangan, dengan begitu kita bisa membayangkan betapa angkuhnya kaum penjajah pada saat itu dan sudah cukup untuk membayangkan bagaimana kehidupan nenek moyang kita. Ruangan-ruangan itu dulunya berfungsi sebagai barak militer, pos jaga, dan kantor. Ada pula ruangan yang khusus berisi foto-foto benteng jaman dulu, sebelum dipugar, dan sesudah dipugar.

Bagai sobat semua yang kebetulan sedang melintas di kota Gombong sangat sayang kalau hanya di lirik lewat jendela mobil atau kereta, sempatkanlah singgah walau hanya sebentar. Yang gemar wisata kuliner tidak salah kalau hanya sekedar untuk mencobanya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar