Rabu, 04 Februari 2015

Napak Tilas Tempat Bermain di Bulupayung

Jalan antara rumah Bp.Turiman dan Bp.Adi dilihat dari arah selatan
Kalau kita membayangkan masa kecil di kampung dulu, tentunya banyak hal yang indah dan mengharukan. Karena disitulah berbagai macam kenangan akan muncul terutama saat bermain bersama teman-teman. Permainan tempo dulu yang merupakan permainan tradisional yang merupakan warisan turun temurun. Kita mungkin sudah melupakan maupun tidak mengajarkan kepada generasi kita maupun anak kita, namun seiring kemajuan teknologi, saat ini anak-anak cenderung bermain dengan jenis permainan elektronik dan internet, apalagi dengan maraknya jejaring sosial dan BBM yang tidak menutup kemungkinan seusia anak-anak sudah menikmatinya.Banyak sekali permainan tradisional yang mungkin selama ini terlewatkan begitu saja seperti Main Kelereng, Petek Umpet, Bekel, Gobak Sodor, Main Engklek dll. 

Begitu pula dengan tempat dan sarana, tidak usah diragukan lagi untuk jaman sekarang tempat bermain, bisa di dalam gedung yang megah atau tempat-tempat yang butuh biaya sewa mahal. Beda saat jaman saya dulu waktu dikampung Bulupayung yang begitu menawan hatiku. Tempat bermain bisa dimana saja karena memang desaku banyak tempat yang cocok untuk bermain tanpa harus sewa ataupun ijin empunya. 

Tempat bermainku dulu sekarang sudah dibangun rumah.
Beberapa tempat favorit bermain tempo dulu didesakau antara lain yaitu jalan antara rumah Bapak Turiman dan Bapak Adi, dulu tempat itu adalah pelataran samping rumah Mbah Silah almarhum, tempat itu tiap sore selalu rame oleh anak-anak seusia SD. dari mulai tempat tongkrongan hingga main kelereng, karet gelang, gambar wayang dos-dosan, petak umpet, sulamanda, sepeda onthel dll. Tak jauh dari tempat itu masih satu area sedikit lebih kearah selatan yang sekarang menjadi rumah Bapak Yanto dulu adalah rumah Uwa Sindon dan samping rumah Bapak Jono yang sekarang menjadi rumah yang ditempati Bapak Salimun juga tak kalah meriahnya. Ditempat ini bahkan sering dijadikan tempat bermain sepak bola.

Perempatan jalan tengah desa yaitu depan rumah Bapak Sarjono (mas Jalu) dan Bapak Roso, disitu dulu juga rame, bahkan merupakan salah satu tempat yang sangat favorit dari mulai anak kecil, remaja, dewasa hingga orang tua, hanya sekedar duduk-duduk sambil ngobrol dari bermain karet gelang hingga petak umpet baik siang atau malam. Bahkan tempat itu sebagai tolak ukur keramaian desa Bulupayung.

Kalau kita bergeser sedikit kearah timur dari jalan peempatan tersebut dari mulai halaman rumah Bapak Sarjono (mas Jalu) hingga rumah Bapak Karto Saikan almarhum (Bapak Gondar) bahkan hingga sampai pinggir desa sebelah timur ditempat itulah tempat-tempat bermain yang sangat mengasikan jangankan saat musim kemarau saat musim hujanpun tempat itu selalu ramai oleh anak-anak untuk bermain. luar biasa..

Jalan setapak didepan dan samping rumah Bp.Somakaryo
Tak jauh dari tempat itu tepatnya depan rumah bapak Sutimin hingga samping rumah bapak Sumokaryo sampai halaman rumah bapak Nasimin, itu juga tempat bermain anak-anak seusiaku dulu saat masih kecil. Banyak jenis permainnan yang bisa dimainkan di tempat tersebut. Terus kalau kita lanjutkan lagi tidak jauh dari tempat bapak Nasimin tinggal bergeser sedikit kearah utara, ada tanah lapang tak jauh dari tempat pemakaman yang tidak begitu padat. Disitu dulu juga ajang bermain anak-anak kecil hingga orang dewasa karena dahulu ditempat itu ada lapangan volly ball yang rutin dipergunakan tiap sorenya, bahkan tidak sedikit untuk ajang pertandingan volly antar desa.

Masih banyak tempat-tempat yang sering digunakan untuk bermain seperti pelataran rumah mbah Wijaya, pelataran rumah bapak Kasijo dan masih banyak lagi. Begitulah indahnya masa kecilku yang begitu mudahnya mencari tempat bermain tanpa harus berebut hanya untuk sekedar bermain. Beruntung kita hidup dan besar di desa setiap jengkal tanah kosong selalu jadi ajang bermain. Coba kita lihat cerita-cerita orang yang hidup di kota besar hanya sekedar mencari tempat bermain saja sulitnya minta ampun, kadang harus berebut dengan pihak lain atau bermain dengan menantang bahaya... Alhamdulillah .... kita harus tetap bersyukur.....

Kamis, 15 Januari 2015

Tempat Tongkrongan Favorit di Bulupayung

Jembatan kecil di ujung selatan desa Bulupayung
Keindahan desa Bulupayung di kelurahan Mangunharjo kecamatan Adimulnyo kabupaten Kebumen, buat saya tidak pernah hilang dari ingatan. Desa yang tidak begitu luas, penduduknyapun tidak terlalu banyak. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mengelilingi semua penjuru desa. 

Setiap pulang kampung saya selalu menyempatkan mengelilingi kampung dengan sepeda onthel, sambil mengingat berbagai tempat dulu dimana saya dan teman-teman sering duduk-duduk ngobrol (nongkrong). Dari mulai ujung desa sampai ujung berikutnya selalu ada tempat favorit seperti jembatan kecil. Karena memang desaku setiap ujung desa selalu ada jembatannya. Jembatan tersebutlah dulu dimana saya dan teman-teman sebayaku duduk-duduk (nongkrong) ngobrol ngalor ngidul ga jelas.

Jalan simpang empat di ujung utara desa Bulupayung

Jalan perempatan ujung desa Bulupayung sebelah utara
Hampir setiap sore sehabis ashar hingga menjelang mahgrib jembatan itu selalu ramai oleh anak remaja, apalagi kalau kebetulan musim main layangan atau musim tanam padi, jembatan yang di ujung desa itu selalu ramai. Atau sambil menunggu anak pulang sekolah yang masuk siang, apalagi bagi anak prianya selalu mensortir anak gadis yang sekiranya mempunyai paras ayu tidak akan terlewatkan untuk menggodanya. Wajar dimanapun seorang laki-laki kalau melihat wanita cantik pasti akan tergoda. 

Bukan di pinggir sudut desa saja, dipusat desa seperti jembatan kecil di dekat rumah Bapak Sarjono (Mas Jalu) selalu menjadi tempat favorit. Mungkin tempat itu akan sepi bila penghuni desa lagi sibuk semua. dari mulai pagi, siang, sore hingga malam tempat itu selalu ramai oleh candaan anak kecil hingga orang dewasa. Karena memang tempatnya yang strategis juga sangat nyaman untuk sekedar nongkrong. Sampai sekarangpun tempat itu masih menjadi tempat favorit para remaja.. 
Jalan perempatan pusat desa Bulupayung
Begitulah desaku desa yang sangat kurindukan dimanapun dan kapanpun saya berada, Saya selalu berusaha mengingat dan melihatnya jangan sampai hilang dari ingatanku, paling tidak minimal setahun sekali.
Begitulah keindahan desaku yang luar biasa buat saya...

Rabu, 31 Desember 2014

Catatan Akhir Tahun Desaku

Wajah desaku yang bikin kangen
Desaku Bulupayung itulah nama desaku tempat saya dilahirkan dan dibesarkan, nama yang aneh di telinga tetapi itulah adanya, Desa yang terletak di kecamatan Adimulyo Kabupaten Kebumen Jawa Tengah adalah desa kecil kurang lebih 6 km dari jalan utama jalur selatan jawa. Jumlah penduduknya tak lebih dari 100 KK, 99,99 %  beragama muslim. Sebagaian besar masyarakat desaku bermata pencaharian sebagai petani, sawah adalah sumber pokoknya. 

Masih terbayang dalam ingatanku desaku ketika masa-masa kecilku, begitu banyak menyisakan kenangan. Akhir tahun 1993 saya meninggalkan desa itu untuk mencari pengalaman baru di tempat lain untuk belajar berbenah diri dan menemukan jati diri yang sesungguhnya. Kini dipenghujung tahun 2014 tersirat pertanyaan di benaku, Kapan saya bisa pulang ke desa untuk menghabiskan sisa umurku disana ?. Sering terbayang wajah suasana desaku ketika mengalami kesemerawutan di perantauan apalagi semacam kota besar seperti ibukota ini. Ingin rasanya sebulan sekali saya bisa jalan-jalan keliling desaku, dengan keramahan penduduknya, tapi itu tidak mudah bisa diwujudkan.

Didesa itu dulu saat mandi di sungai, bermain layang-layang, main kelereng, main petak umpet dan masih banyak lagi, itu semua yang menimbulkan rasa rindu yang amat sangat. Belum lagi cerita lain ketika menginjak remaja ada saja yang perlu disesali dan tentu ada pula yang patut di syukuri, namun tetap saja indah bila dikenang. Apalagi jika melihat sudut-sudut desa yang masih saja serupa dulu, inilah desaku, tak banyak yang berubah. Entah, saya tidak bisa mengukur dan menggabarkan seberapa dalam dan besar rasa cinta saya pada desaku Bulupayung. 

Sudut Desaku
Mungkin benar kata orang, bahwa salah satu ikatan emosional yang paling mendasar dalam diri manusia adalah kenangan terhadap tempat dan lingkungan dimana dia dilahirkan dan dibesarkan. Seperti halnya peristiwa mudik. Seolah mempunyai kekutan tersendiri orang berlomba sekuat tenaga dengan berbagai cara agar bisa pulang kampung di hari raya lebaran. Jawabanya adalah "ingin kembali ke kampung halaman, tempat ia dilahirkan. Disitulah tersimpan segala kenangan manis masa kecil bersama orang tua, saudara2, dan teman2 sepermainan, dengan rumah dimana dia dilahirkan, dengan lingkungan yang akrab dia kenal sehari-hari. Pada dasarnya ia ingin kembali, ketempat dia lahir, seakan ada kekuatan yang luar biasa.

Itu juga yang berlaku pada diri saya. Walaupun telah meninggalkan rumah tempat kelahiran saya hampir 21 tahun. Namun ikatan emosional saya dengan tempat itu tidak pernah berkurang, bahkan dengan makin tambahnya umur terasa makin kuat. Begitu banyak kenangan manis yang tidak mungkin terlupakan yang terkait dengan rumah dan ligkungan tempat saya dilahirkan.

Tahun 2014 beberapa saat lagi akan berakhir, semoga ditahun berikutnya desaku yang kucinta akan lebih baik, maju dan makmur serta sejahtera...
.

Senin, 01 Desember 2014

Asal Mula Nama Desa Bulupayung

Desa Bulupayung
Desa Bulupayung adalah sebuah desa di kelurahan Mangunharjo kecamatan Adimulnyo kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Desa kecil berpenduduk sekitar 90-an KK, desa yang diapit oleh hamparan sawah yang luas. Dari kota Kebumen dapat ditempuh sekitar 17 km, hanya sekitar 10 km dari pantai selatan (Petanahan). Untuk menuju desa ini dari jalur selatan dari arah Purwokerto setelah Gombong akan menjumpai kota kecil Karanganyar, setelah sampai pasar karanganyar belok kanan menyusuri jalan kaleng sekitar 6 km sampailah di desa Bulupayung.

Bagi penduduk sekitarnya desa Bulupayung ditempo dulu terkenal dengan angker/seram, karena untuk menuju desa tersebut harus melalui jalan yang dikeramatkan, terutama yang dari arah timur, utara dan barat. Dari arah tersebutlah terdapat makam tua yang dikeramatkan. Banyak kejadian-kejadian aneh yang dialami oleh pejalan kaki atau pengendara yang melalu jalan tersebut.

Menurut cerita yang saya dapat dari para orang tua dan nenek moyang saya yang sudah lama mendiami desa tersebut, desa Bulupayung mempunyai kisah yang sedikit agak miris. Itu ditandai dengan adanya makam tua di sisi utara desa yang semuanya berjumlah tiga. Makam tersebut masih merupakan satu keluarga. Makam yang disisi utara sebelah tengah ada dua makam di sisi kanannya adalah makam P. Trenggono dan Nyai Maduretno sedang di sisi kirinya adalah makam anaknya Siti Sundari dan yang satu lagi di ujung timur sebelah utara adalah anak lelakinya P. Joyo Kusumo.
Jalan menuju makam sebelah timur desa
Awal kisahnya dahulu ada pasukan Pangeran Diponegoro yang habis bertempur melawan Belanda di daerah Gombong, mereka mengalami kekalahan dan melarikan diri ke arah tenggara yang bermaksud kembali ke markasnya di Gua Selarong Jogjakarta.  Karena sebagian pasukanya mengalami luka-luka mereka mencari tempat untuk beristirahat sambil mengobati lukanya. Berhentilah di suatu tempat yang banyak di tumbuhi pohon-pohon besar, mereka mendirikan peristirahatan semacam perkemahan.

Diceritakan pohon tersebut memiliki ranting dengan dahan yang menjulur hampir menyentuh tanah dan sangat ridang, dari rantingnya memiliki cabang-cabang ranting kecil membentuk seperti daun pisang, andai hujan turun airnya tidak akan dapat menembus ranting tersebut. Kalau dilihat dari kejauhan nampak seperti payung yang sedang mengembang, dengan ranting daun yang menjulur menyerupai bulu ayam. Mungkin kalau digambarkan hampir mirip seperti pohon beringin, tetapi menurut orang-orang tua di desa itu, pohon itu bukan pohon beringin, terus pohon apaan ?. wis pikir deweklah....

Setelah dirasa pulih dan kuat untuk melanjutakan perjalanan pasukan P. Diponegoro melanjutkan perjalanan menuju markasnya di Jogjakarta. Salah satu prajuritnya yang bernama P. Trenggono ditinggalkan ditempat itu, tidak tau apa maksudnya dan apa pangkatnya (tumenggung, demang, senopati atau panglima). Dari situlah tempat itu makin banyak didatangi orang dan bahkan dijadikan tempat tinggal. Karena banyaknya orang yang mendiami maka seiring waktu si prajurit tersebut  memberi nama daerah itu dengan nama Bulupayung yang sampai saat ini menjadi sebuah desa masih dengan nama tersebut. 

Sedang kisah mirisnya terjadi pada anak perempuanya yang bernama Siti Sundari. Siti Sundari mempunyai paras yang cantik dengan rambut panjang hitam lebat hampir menyentuh tanah. Dari kecantikanya banyak pemuda yang terpesona dan jatuh cinta. Banyak raja, tumenggung dan pangeran yang ingin mempersuntingnya. diceritakan juga karena kulitnya sangat putih dan bersih sampai-sampai ketika minum aliran airnya terlihat dari tenggorokanya. Bisa dibayangkan seperti apa putihnya putri tersebut, silahkan boleh percaya boleh tidak ?.

Tragis nasib Si Gadis ini, Dia meninggal dengan cara bunuh diri. Dia galau dan risau karena banyak pemuda yang ingin mempersuntingnya tetapi Dia tidak bisa menentukan mau memilih pemuda yang mana. Mungkin pikir Dia daripada menyakiti salah satu dari pemuda tersebut lebih baik mengahiri hidupnya saja.. Whow...kaya crita sinotron baelah... Tetapi sebelum mengahiri hidupnya Dia sempat mengeluarkan kalimat semacam sumpah isinya  kira-kira seperti ini :

"Kelak di desa ini tidak akan ada wanita cantik yang rambutnya panjang dan lebat, kalaupun dia cantik rambutnya tidak akan panjang dan lebat, kalau ada wanita yang cantik dengan rambut panjang maka umurnya tidak akan lama"  

Semoga saja sumpah itu tidak berlaku lagi. Dan banyak saya liat di desa Bulupayung wanita-wanita cantik, Alhamdulillah mereka baik-baik saja atau memang juga yang cantik kebetulan tidak berambut panjang, paling cuma sebahu atau sepunggung belum ada yang panjangnya sampai lutut apalagi sampai menyentuh tanah. Entahlah....yang jelas jangan menjadikan kita Syirik....

Itulah sedikit cerita terbentuknya desa Bulupayung yang masih erat dengan keberadaan tiga makam tua di desa tersebut silahkan boleh percaya boleh tidak.... Tulisan ini hanya berdasarkan cerita dari orang-orang tua, belum ada penelitian secara ilmiah untuk mendukung cerita tersebut.
Yang jelas sebagai orang yang terlahir dan besar didesa Bulupayung saya sangat bangga menjadi salah satu bagianya.


Bulupayung - Kebumen ....
Paguyuban Bulupayung & Duduhan
Makam P. Trenggono dan Nyai Maduretno di Desa Bulupayung


Rabu, 19 November 2014

Desa Mangunharjo Kebumen

Kantor kepala desa Mangunharjo
Desa Mangunharjo adalah sebuah kelurahan di kecamatan Adimulnyo kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Kelurahan ini membawai empat dukuh/desa yaitu Pecangkringan, Karangkambang-Criwik, Bulupayung dan Duduhan. Dengan letak geografis yang cukup strategis yaitu dekat dengan pusat pemerintahan Kecamatan dan dilalui jalur lalu lintas wisata antara Gombong-Pantai Petanahan, Karanganyar-Pantai Suwuk dan juga Karanganyar-Petanahan menjadikan kelurahan ini menjadi jalur yang cukup sibuk.
 
Kelurahan ini berbatasan langsung dengan enam desa kelurahan yaitu sebelah barat dengan Desa Kemujan dan Caruban, sebelah utara Desa Meles, sebelah timur Desa Banyuroto dan Adimulnyo dan sebelag selatan Desa Adiluhur.

Papan nama kantor Kelurahan Mangunharjo

Desa Mangunharjo mempunyai panorama alam yang cukup elok karena di kelilingi dua bukit yaitu di sebelah barat nampak gugusan pegunungan kapur dari mulai daerah Gombong hingga pantai Karangbolong. Sebelah utara nampak gugusan pegunungan Serayu. Ketika subuh apabila cuaca lagi cerah nampak puncak gunung Selamet menjulang di sebelah barat laut, sedang di sebelah timur laut akan nampak puncak gunung Merapi dan Merbabu dari gugusan pegunungan menoreh.

Hamparan sawah yang luas menandakan bahwa penduduknya mengandalkan bercocok tanam padi sebagai penghidupan utamanya. Dengan ditopang waduk Sempor dan Wadaslintang yang dialirkan melalui sungai Ketek di sisi barat dan sungai Balo disisi timur kelurahan ini mampu memanen padi dua kali dalam setahun. Sedang pada musim kemarau biasanya ditanami Kacang hijau atau Kedelai, atau bahkan dimanfaatkan untuk membuat bata merah karena memang tanahnya sangat mendukung.

Kontor BPD desa Mangunharjo
Rata-rata penduduk kelurahan Mangunharjo yang berusia produktif untuk ukuran kelurahan sangat sedikit. ketersediaan lapangan kerja yang kurang dan kurangnya minat usia muda untuk bertani membuat kelurahan ini ditinggal para pemudanya, mereka lebih senang merantau untuk mencari kehidupan yang dianggap lebih baik di tempat lain terutama di kota-kota besar. Atau juga mereka meninggalkan desanya untuk mencari ilmu ke jenjang yang lebih tinggi, karena di kelurahan ini hanya ada satu sekolah dasar. Untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP dan SMA harus menyeberang ke wilayah lain walaupun tidak terlalu jauh jaraknya. Sedangkan untuk pendidikan jenjang akademi dan perguruan tinggi mereka harus ke kota besar seperti Purwokerto, Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, Bandung, Jakarta atau kota-kota lain.
 

Dengan keterbatasan usia produktif tidak menjadi hambatan untuk membangun desa ini. Desa inilah tempat saya dilahirkan dan di besarkan, terlalu sayang untuk dilupakan begitu saja..

Jumat, 17 Oktober 2014

SD Negeri Mangunharjo Adimulyo Kebumen

Tampak depan SDN Mangunharjo
Sekolah merupakan tempat mendidik anak dan berfungsi mengajarkan anak agar menjadi pribadi yang unggul yang dikemudian hari dapat memajukan bangsanya. Di Kelurahan Mangunharjo hanya terdapat satu sekolah dasar, tepatnya di desa Pecangkringan. 

Sekitar tahun 1970 s/d 1990an Kelurahan ini mempunyai dua sekolah dasar yaitu SDN I Mangunharjo di desa Pecangkringan dan SDN II Mangunharjo di desa Bulupayung. Karena SDN II sudah tidak ada lagi maka namaya cukup dengan SDN Mangunharjo. SDN II Mangunharjo pada tahun 1997 resmi telah ditutup dengan berbagai alasan.

Sebelum SDN II lahir SDN ini mendidik semua anak-anak satu kelurahan, Seiring dengan gencarnya program wajib belajar 6 tahun maka berdirilah SDN II. Saya sempat merasakan nikmatnya sekolah di SDN ini walaupun hanya kelas satu. Masih terbayang saat itu saya duduk bertiga dalam satu kursi panjang bahkan kadang 4 anak. dengan dinding anyaman bambu sebagai penyekatnya. 

Sekolah ini banyak meninggalkan kenangan yang tidak pernah dilupakan buat saya dan anak-anak Desa Bulupayung tentunya. Disinilah awal saya bersekolah belajar menulis, membaca dan berinteraksi dengan teman dan guru. Setiap pulang sekolah saya dan teman-teman bergerombol berjalan kaki tanpa alas kaki kadang disetiap perjalanan mampir kesawah hanya sekedar memetik buah padi yang belum mekar untuk di santapnya. Pada saat musim kemarau mencari jangkrik dengan seragam lengkap masih menempel di badan.Yang pada akhirnya tahun 1978 saya dipindahkan ke sekolah baru SDN II Mangunharjo yang berada di desa Bulupayung.

Walaupun sudah pindah ke SDN II ikatan kekeluargaan masih terjaga dengan baik terbukti setiap ada kegiatan atau pertunjukan hiburan selalu diadakan bersama antara SDN I dan SDN II. Buat saya pribadi tidak ada bedanya kedua sekolah tersebut, mungkin karena Bapak saya saat itu masih menjadi guru di SDN I jadi tidak ada pengaruhnya saya sekolah di SD II, karena hampir setiap minggu ke sekolah SDN I.

Pada tahun-tahun tersebut adalah tahun dimana perekonomian dan pembangunan desa masih sangat lamban, kesejahteraan guru juga bisa di ukur berbeda dengan sekarang kesejahteraan guru mengalami peningkatan yang luar biasa. Maka tidak heran saat itu sering Bapak saya membawa oleh-oleh pisang ambon dari kebun pekarangan sekolah SDN I. Atau bahkan pernah memanen kayu hasil tebangan dari pohon sekitar sekolah untuk dibawa pulang untuk dijadikan kayu bakar memasak. Yang memang pada saat itu pekarangan SDN I ditanami berbagai tanaman seperti pisang, pepaya dan kelapa.
SDN Mangunharjo
Itu dulu, berbeda dengan sekarang seiring waktu sekolah SDN Mangunharjo tumbuh menjadi sekolah yang unggul, dambaan dan kebanggaan setiap anak di wilayah Mangunharjo. Bangunan gedung yang mewah, dengan gapura masuk yang menawan menjadi nilai lebih. Geografi yang strategis di tengah-tengan wilayah kecamatan Adimulnyo dengan jalur lalu lintas wisata SDN ini nampak anggun menghiasi sisi jalan utama kecamatan.

Begitulah sekelumit tentang sekolah dasar negeri Mangunharjo kecamatan Adimulyo kabupaten Kebumen, Sekolah yang pernah membimbing saya walaupun tidak lama tetapi masih ku ingat deretan nama guru yang selalu membimbingku seperti Bapak Wasio, Bapak Tuslan, Bapak Sudarjo, Bapak Sutarno, Bapak Marsudi, Bapak Jaelani, Bapak Salimin, Bapak Suyudi dan yang sangat teristimewa untuk Bapak Turiman yang luar biasa buat saya .... Majulah terus SDN Mangunharjo.. !!!

 

Jumat, 03 Oktober 2014

SD Negeri II Mangunharjo Kebumen Riwayatmu Kini

Sisa-sisa peninggalan SDN II Mangunharjo
Sore itu langit bersih sinar matahari sudah mulai berubah warna menjadi kejinggaan, bertanda hari akan berganti menjadi malam. Saya masih asik melihat burung merpati yang ada dalam sangkar dan keceriaan orang-orang sambil memainkan burung merpati. Tampak beberapa burung merpati terlihat menukik dari angkasa sementara seseorang sibuk mengibaskan tanganya sambil memegang burung merpati. Begitulah suasana di halam bekas sekolah setiap sorenya.

Yah.... halaman sekolah yang cukup luas, sesekali pandangan mataku berkeliling kepenjuru sudut halaman. Terdapat sebuah bangunan yang berantakan dengan puing berserakan di sekitanya, pikiranku menerawang ke masa lalu. Bangunan itu dulu adalah ruangan kelas yang pernah ku tempati ketika saya masih kelas IV SD. Kemudian bangunan di belakanganya  adalah bekas kamar mandi / kamar kecil, disumur itulah ketika ku kecil saat musim kemarau Bapak saya dan saudara-saudaraku sering mengambil air, karena sumur dirumah kering. 

SDN II Mangunharjo adalah sekolah impres dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan,. Saat itu pemerintah sedang menggalakan wajib belajar 6 tahun maka tidak heran setiap kelurahan bermunculan sekolah-sekolah baru. SDN II Mangunharjo di prioritaskan untuk anak-anak desa Bulupayung dan Duduhan. Sekolah pada saat itu hanya ada di Desa Pecangkringan untuk ukuran pada jaman itu sangatlah jauh jarak tempuhnya. Saat itu moda transportasi adalah sesuatu yang mahal walaupun hanya sekedar Sepeda ontel.
.
Pintu gerbang sekolahanku dulu

Seingat saya SDN II Mangunharjo berdiri tahun 1977 tapi resmi digunakan tahun 1978. Saat itu semua anak-anak Bulupayung bersekolah ke desa Pecangkringan dengan berjalan kaki tanpa sepatu. Pada saat peresmianya anak-anak kelas satu sampai kelas empat yang tinggal di desa Bulupayung dan Duduhan yang bersekolah di SDN I Mangunharjo dianjurkan pindah ke SDN II. Dengan diiringi kesenian kuda lumping dan Barongan saya dan teman-teman seusiaku berjalan kaki dari SDN I ke SDN II. Kegembiraan terpancar dari setiap wajah-wajah kami, karena kami akan bersekolah ke yang lebih dekat.

Banyak manfaat dengan keberadaan sekolah tersebut, selain kami tidak lagi jauh berangkat sekolah, gedung sekolah tersebut juga sering dimanfaatkan oleh masyarakat desa Bulupayung untuk mengadakan pentas seni atau berbagai kegiatan yang bersekala besar karena memang desa kami tidak mempunyai gedung pertemuan. Selain itu juga ketika penduduk desa Bulupayung mempunyai hajat sering memanfaatkan kursi dan meja sekolah tentunya melalui ijin dulu kepihak sekolah.

Seiring waktu berjalan sekolah tersebut berkurang jumlah siswanya, bukan karena tidak ada peminantnya tetapi usia wajib sekolah semakin sedikit. Mungkin juga usia keluarga muda di desa Bulupayung sedikit akibat dari banyaknya urbanisasi anak-anak muda, atau juga berhasilnya program KB yang digiatkan oleh pemerintah. 

Sekitar tahun 1997 resmilah SDN II Mangunharjo ditutup selain jumlah siswanya berkurang bangunanya juga tidak layak untuk ditempati. Karena berbagai alasan bangunan sekolah tersebut tidak diperbaiki atau bahkan direnovasi.

Banyak cerita yang bisa diingat, disitulah saya dan temen-teman belajar, bermain dan bercanda, berantem dan bersahabat. Di belakang sekolah itu saya dan teman-teman memetik buah salam ketika waktu istirahat, menikmati jajanan milik Wa Suwuh dan Wa Sudi. Di halaman sekolah itu saya dan teman-teman bermain gelang karet, bermain pentak umpet, berlari-larian. Di sekolah itulah saya dan teman-teman melakukan kegiatan Kepramukaan dengan bimbingan pak Suratman, belajar menari dengan bimbingan pak Daryan melakukan pentas seni tari dan sempat belajar beladiri setiabudi dengan bimbingan pak Sugeng.

Apapun namaya sekarang SDN II Mangunharjo tidak akan kulupakan, buku rapot dan ijazah yang kusimpan dilemari saat ini masih tertera namamu dan ku kenang selalu guru-guru yang mengajar dulu seperti Bapak Wasio, Bapak Sri Budiono, Bapak Jaelani, Bapak Tuslan, Bapak Saheri, Bapak Suratman, Bapak Sudarjo, Bapak Samingun dan masih banyak lagi.

Karena hari mulai gelap akhirnya kami membubarkan diri dan kembali lagi pada esok sorenya masih dalam rangka kegiatan yang sama yaitu main burung Merpati. Begitulah suasana halaman sekolah SDN II Mangunharjo sekarang, tidak ada penyesalan sekolah runtuh tetapi disitulah kami dibentuk, yang akhirnya saya menjadi sekarang ini... BANGGA.?, itu pasti..