Selasa, 08 Desember 2015

Rindu Nasi Berkat Kenduri

Nasi kenduri dibungkus daun pisang
Sedulur semua, bagi orang desa pasti paham dengan istilah kenduri, ya... kenduri yang punya nama lain kepungan, atau selamatan yaitu suatu kegiatan doa bersama yang biasanya di lakukan oleh bapak-bapak di salah satu rumah warga atas undangan tuan rumah dengan tujuan untuk mendoakan atau meminta kelancaran dan keselamatan atas rencana dan kegiatan yang akan di lakukan. Kenduri biasanya dilakukan setelah waktu Asyar atau selepas waktu Isya, sesuai kondisi yang punya hajat. Undangan kenduri biasanya di lakukan secara langsung ke tiap rumah dan dilakukan oleh orang yang secara khusus di beri tugas untuk mengundang. Orang yang melakukan kenduri biasanya memakai pakaian lengan panjang/baju koko, memakai sarung dan peci / kopiah. 

Kalau membicarakan soal kenduri/kepungan tidak bisa lepas dari nasi berkat. Khususnya bagi seorang muslim asal Jawa yang masih kental keNUannya. Nasi berkat adalah hasil kearifan lokal. Di negara asal Islam sendiri tidak ada istilah yang mirip kenduri yang isinya tahlilan, dzikir, berdoa kemudian pulang membawa tentengan nasi berkat. Disini tidak membahas tentang hukum kenduri menurut ajaran Islam, saya hanya ingin mengenang indahnya dan nikmatnya suasana kenduri dengan segala rupanya. 

Di kampung saya desa Bulupayung Kebumen Kenduri sudah menjadi hal yang lazim, ketika salah satu warga mempunyai hajat atau syukuran. Teringat ketika saya masih kecil Bapak saya pulang kenduri membawa gulungan daun pisang, bentuknya antik dan khas, tentu isinya nasi, serundeng, thempleng/peyek, tempe goreng, tumis kacang panjang, kerupuk, dan tak ketinggalan beberapa potongan/suiran daging ayam ingkung. 

Nasi kenduri
Perkembangan jaman yang begitu cepat rupanya mempengaruhi juga terhadap tradisi kenduri ini, bukan cara atau doa yang berubah tetapi cara pelaksanaan kendurinya. Kalau dulu nasi berkat di bungkus dengan sebatang daun pisang yang digulung, sekarang makin praktis dengan ceting atau berupa wadah yang terbuat dari plastik. Dulu ada daging ayam ingkung sekarang di ganti dengan daging ayam goreng dan telur bulet yang direbus. 

Memang yang sekarang lebih praktis dibanding dengan menggunakan daun pisang, tetapi menurut saya nilai historisnya jauh sangat berbeda. Kenikmatan nasi kendurinya juga sangat berbeda. Dulu yang punya hajat kenduri menyediakan dahan daun pisang sebagai alas pembungkus nasi dan lauknya, beberapa tumpeng nasi, satu ayam daging utuh, beberapa piring lauk seperti sayur kacang panjang, serundeng, peyek, tempe, aneka macam lalaban dll. Kemudian semua itu dibagi ke peserta kenduri, biasanya yang membagi adalah orang-orang tertentu yang dianggap mampu, barulah undangan bisa makan bersama.

Isi nasi berkat kenduri bungkus daun pisang
Yang seperti itu sekarang di kampungku tidak bisa ditemukan lagi karena sudah di runbah. Orang yang menghadiri undangan kenduri cukup duduk manis mendengarkan sambutan dan doa dari orang yang di kasih amanat oleh yang punya hajat. setelah itu dibagikan nasi yang sudah tertata rapi dalam sebuah tempat, setelah itu pulang deh.... Sedikit sekali undangan yang mencoba menyantap nasi kendurinya mungkin malah tidak ada yang menikmati nasinya.

Begitulah, jaman telah merubah segalanya tak terkecuali tradisi kenduri yang penuh nilai history sudah tidak ada lagi...


Sabtu, 21 November 2015

Indahnya Hidup di Desa


Hidup di desa bagi sebagian anak muda merupakan alternatif berikutnya apalagi bagi mereka yang tidak mempunyai kemampuan bertani. Untuk orang yang asalnya dari kampung tidak menjadi hambatan dan sudah paham bagaimana rasanya hidup di desa. Saya yang terlahir dan besar di desa alias bukan berasal dari kota bisa merasakan kehidupan kampung. Berbeda dengan orang yang lahir dan besar di perkotaan yang kemudian harus hidup di desa akan butuh waktu untuk menyusaikan diri, bukan berarti tidak mampu tetapi butuh waktu.

Banyak kenikmatan yang di dapat bila hidup di desa seperti bisa menanam padi di sawah , sayur-sayuran, buah buahan atau memelihara ternak secara alami. Memelihara ayam kampung misalnya, apabila ingin makan daging ayam tinggal memotong sendiri, bila ayam berlebih bisa di jual sebagai penghasilan tambahan.

Saya merasa salut dan terkesan ketika ada orang yang terlahir dan besar di kota tapi mampu hidup di kampung. Hidup di desa sangat identik dengan kesederhanaan berbeda jauh dengan di perkotaan yang segalanya selalu di beli dari hal yang terkecil seperti air bersih bahkan hanya untuk membuang sampahpun harus di bayar dengan uang. Bagi orang yang tidak bisa berkompetisi jangan coba-coba hidup di perkotaan, kecuali mempunyai ketrampilan khusus. Atau mungkin wiraswasta/sesuatu yang bisa menghasilkan uang. 

Kebanyakan orang di desa mempunyai tanah walau mungkin hanya sedikit. Dengan tanah itu orang di pedesaan bisa memanfaatkan untuk bercocok tanam apalagi kalau tanahnya sangat subur. Seperti Bapaku yang menanam pohon kelapa, pisang, nanas. dll. Sampai buah kelapa dan nangka jatuh sendiri dari pohonya karena memang terlalu banyaknya dan apabila di jual sangat murah tidak sebanding dengan besarnya biaya perawatan, kalau dijual harganya sangat murah. Tapi walau harganya murah kelapa masih bisa menambah penghasilan dan mencukupi kebutuhan. 

Hidup di desa itu ibaratnya uang 5 ribu rupiah sudah cukup buat makan sehari. Misalnya makan cukup dengan lauk tempe/tahu atau mumgkin hanya dengan garam atau sambal itu nikmatnya sudah luar biasa. Boleh bandingkan dengan kehidupan di pekotaan. Tapi kenapa orang desa setelah selesai sekolah berbondong bondong pindah ke kota, jawabanya mungkin ingin merubah gaya hidup, ingin mencari kehidupan yang lebih baik atau memang di desa tidak mempunyai lahan garapan untuk hidup sehari hari. 



Hidup di desa memang indah dengan alamnya yang masih terjaga guyub rukunnya dan tradisi tepo sliro / saling menghormati masih terpelihara. Hidup gotong royong sebagai ciri khas yang sangat indah. Masyarakatnya yang sederhana dan "tidak termakan oleh pasar" semakin membuat saya tidak bosan bila saya saat berada di kampungku Bulupayung Kabupaten Kebumen Jawa Tengah suasana kedesaannya masih tetap terjaga... ga percaya .. boleh dicoba, pulang kampung sekarang...

Berbagai tanaman yang bisa kita tanam

Pohon Kelapa
 
Pohon Pisang
Pohon Nangka
elengkapnya : http://www.kompasiana.com/sihitam/indahnya-hidup-di-desa_55e5f70ff67a61500d9c80c5

dup di desa memang indah dengan alamnya dan ketentramannya. Gotong royong masih sering dan rutin saya temui di desa (kampung halaman) saya ini. Masyarakatnya yang sederhana dan "tidak termakan oleh pasar" semakin membuat saya tidak bosan di Kabupaten Bangkalan ini. Meski dekat dengan Kota Surabaya (tinggal lewat Jembatan Suramadu atau Pelabuhan Ujung di Kamal) namun suasana kedesaannya masih tetap terjaga. (AWI)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sihitam/indahnya-hidup-di-desa_55e5f70ff67a61500d9c80c5
Hidup di desa memang indah dengan alamnya dan ketentramannya. Gotong royong masih sering dan rutin saya temui di desa (kampung halaman) saya ini. Masyarakatnya yang sederhana dan "tidak termakan oleh pasar" semakin membuat saya tidak bosan di Kabupaten Bangkalan ini. Meski dekat dengan Kota Surabaya (tinggal lewat Jembatan Suramadu atau Pelabuhan Ujung di Kamal) namun suasana kedesaannya masih tetap terjaga. (AWI)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sihitam/indahnya-hidup-di-desa_55e5f70ff67a61500d9c80c5
Hidup di desa memang indah dengan alamnya dan ketentramannya. Gotong royong masih sering dan rutin saya temui di desa (kampung halaman) saya ini. Masyarakatnya yang sederhana dan "tidak termakan oleh pasar" semakin membuat saya tidak bosan di Kabupaten Bangkalan ini. Meski dekat dengan Kota Surabaya (tinggal lewat Jembatan Suramadu atau Pelabuhan Ujung di Kamal) namun suasana kedesaannya masih tetap terjaga. (AWI)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sihitam/indahnya-hidup-di-desa_55e5f70ff67a61500d9c80c5
Hidup di desa memang indah dengan alamnya dan ketentramannya. Gotong royong masih sering dan rutin saya temui di desa (kampung halaman) saya ini. Masyarakatnya yang sederhana dan "tidak termakan oleh pasar" semakin membuat saya tidak bosan di Kabupaten Bangkalan ini. Meski dekat dengan Kota Surabaya (tinggal lewat Jembatan Suramadu atau Pelabuhan Ujung di Kamal) namun suasana kedesaannya masih tetap terjaga. (AWI)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sihitam/indahnya-hidup-di-desa_55e5f70ff67a61500d9c80c5
Pohon Nanas
 
Pohon Kecombrang
Asal Mula Nama Desa Bulupayung



Kamis, 22 Oktober 2015

Kesenian Tari Kuda Kepang Desa Mangunharjo

penampilan Barong dalam tari kuda Kepang
Desa Mangunharjo Kebumen merupakan desa yang tergolong makmur dan tentram, masyarakatnya yang mempunyai sifat gotong royong adalah modal utama untuk membangun. Sebagai bagian wilayah pulau Jawa, Mangunharjo tidak bisa terlepas dari budaya Jawa, seperti tari kuda lumping. Tari ini biasa disebut juga dengan jaran kepang atau jathilan.

Kuda lumping adalah tarian tradisional jawa yang menampilkan sekompok prajurit yang tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda-kudaan yang terbuat dari kulit kerbau atau kulit sapi yang telah dikeringkan (disamak) dan ada juga yang terbuat dari anyaman bambu yang kemudian diberi motif atau hiasan dan direka seperti kuda. Selain itu kuda lumping juga identik dengan hal-hal magis. 

Tarian kuda lumping menampilkan adegan prajurit berkuda, namun dalam penampilannya terdapat juga atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Kuda tiruan yang digunakan dalam tarian kuda lumping dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang di gelung atau di kepang, sehingga masyarakat jawa menyebutnya sebagai jaran kepang. 

Tari Kuda Kepang dengan tarian baronganya
Tarian ini biasanya disuguhkan untuk menghibur tamu pada saat hajatan atau acara syukuran sedekah bumi. di desa Mangunharjo terdapat kelompok kesenian tari kuda lumping yang para anggotanya dari anak-anak muda desa setempat. Dan mereka selalu tampil ketika salah satu warga mengadakan hajatan atau syukuran.


AsaL Mula Nama Desa Bulupayung

Kamis, 24 September 2015

Aku Bangga Berbahasa Jawa Ngapak

Dalam setiap perkenalan atau ketika saya menyebut daerah asalku, orang akan selalu senyum ngeledek. Terlebih lagi ketika saya berbicara dengan bahasa daerah kelahiranku mereka kadang mentertawakanku, tidak masalah buatku, malah semakin ditertawakan semakin bangga terhadap bahasaku. Yah... saya memang sering menggunakan bahasa jawa ngapak apalagi kalau berjumpa dengan sesama jawa ngapak, semakin ditertawakan semakin ku kerasin intonasinya.

Karena sering ditertawakan dan dipandang rendah saya berfikir kenapa logat bahasaku di rendahkan dan selalu ditertawakan apa yang membuat mereka tertawa, toh setiap mereka bicara bahasanya standar banget, bagus banget juga engga, sombong sekali mereka... Saya coba mencari tau tapi jawabanya tidak masuk akal.

Ketika tak sengaja saya mampir ke sebuah toko buku di Purwokerto, saya menemukan buku tentang bahasa jawa ngapak. Dalam buku tersebut di jelaskan bahwa bahasa jawa ngapak itu bermula ketika kedatangan orang-orang Kalimantan tepatnya Kutai pada masa pra Hindu sekitar abad ke 3 sebelum Masehi yang mendarat di daerah Cirebon. Kemudian mereka menetap di sekitar Gunung Slamet dan Sungai Serayu, dan mendirikan sebuah kerajaan yang disebut Galuh Purba, mungkin kerajaan tersebut merupakan kerajaan pertama di Pulau Jawa, mengingat Kutai adalah kerajaan pertama di Indonesia, yang menurut buku tersebut nantinya dari kerajaan Galuh Purba-lah akan lahir penguasa-penguasa di kerajaan Jawa selanjutnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh E.M Uhlenbeck, tahun 1964, bahasa yang digunakan oleh keturunan Galuh Purba masuk ke dalam rumpun basa jawa bagian kulon yang meliputi: Sub Dialek Banten Lor, Sub Dialek Cirebon/Indramayu, Sub Dialek Tegalan, Sub Dialek Banyumas, Sub Dialek Bumiayu. Dialek inilah yang sering disebut bahasa jawa ngapak. yang sering ditertawakan orang... karena lucunya.

Bahasa Jawa menjadi berbagai tingkatan yaitu ngoko, kromo dan kromo inggil. tingakatan tersebut di pengaruhi oleh situasi politik pada masa kerajaan Mataram. Dalam sejarahnya bahasa Jawa ngapak merupakan turunan dari bahasa Jawa tengahan/kawi. Jawa ngapak juga adalah budaya tanggung atau marginal artinya dalam mengadopsi budaya Jawa dan sunda sama-sama dangkal. Makanya orang yang berlogat bahasa Jawa ngapak tidak lagi memperdulikan status sosial di masyarakat seperti ningrat atau priyayi. pengguna bahasa Jawa ngapak lebih suka bersikap kesetaraan atau netral. Etika ini dibangun atas dasar etika kemanusiaan yang dapat memunculkan kekuatan solidaritas yang membedakan antara Jawa ngapak dan Jawa lainnya.

Karakter bahasa Jawa ngapak inilah yang membentuk orang menjadi diri sendiri tanpa harus terpengaruh dengan budaya lain. Karena itulah Orang yang mengunakan bahasa Jawa ngapak jarang sekali mengolok olok ataupun merendahkan bahasa Orang lain. Malah mungkin justru sebaliknya karena sikap feodalisme sebagai orang Jawa menganggap dialek bahasa Jawa ngapak sering dianggap bahasa yang lucu dan rendahan. Ada pandangan yang menganggap sebagian besar orang yang menggunakan bahasa Jawa ngapak merasa rendah diri ketika menggunakan bahasa Ngapak. Hal ini didasari dari, bagaimana bahasa yang digunakan saat berinteraksi dengan orang Jawa Wetan. Kalau tidak menyesuaikan diri dengan membandhekan ke-ngapakanya dipastikan menggunakan bahasa Indonesia. Menurut saya, ini bukanlah suatu hal yang negatif tetapi sebagai bentuk adaptasi.

Jangan malu berbahasa Jawa Ngapak, karena itu jati diri kita, malah seharusnya kita lestarikan dan kembangkan terus bila perlu dirikan pusat pengembangan bahasa Jawa Ngapak. Biar saja mereka menrendahkan dan mentertawakan kita...

Rabu, 26 Agustus 2015

Berburu Lanting Khas Kebumen

Lanting makanan khas daerah Kebumen
Kebumen, adalah daerah kabupaten di Jawa Tengah bagian selatan, selain terkenal dengan penghasil sarang burung walet, yang diabadikan dalam lambang / logo Kabupaten. Kabupaten Kebumen juga terkenal dengan makanan khasnya yaitu lanting.

Lanting merupakan makanan jajanan yang terbuat dari singkong. Menurut cerita masyarakat Kebumen lanting awalnya berasal dari daerah desa Lemahduwur, Kuwarasan, Kebumen, tetapi kabar tersebut belum bisa dikuatkan karena belum ada penelitian yang sesungguhnya. Awalnya lanting hanya terbuat dari singkong yang digoreng dengan bentuk angka delapan dan berwarna merah - putih, mungkin sebagai ciri khas Indonesia. Awalnya makanan ini sebagai makanan harian atau pelengkap keluarga namun seiring berkembangnya jaman Lanting menjadi makanan favorit masyarakat Kebumen.
.
Banyak pilihan rasa
Sekarang bukan lagi dibuat oleh penduduk desa Lemahduwur saja tetapi hampir pelosok Kabupaten Kebumen terdapat industri rumahan makanan Lanting. Malahan sekarang berbagai rasa bisa di temukan dari mulai yang manis, gurih hingga pedas dan berbagai macam rasa seperti rasa bawang, rasa balado, rasa keju dan masih banyak lagi.

Setiap saya pulang kampung selalu membeli lanting untuk ole-ole baik untuk tetangga maupun unrtuk teman kerja. Andai saya tidak membawa makanan ini, akan banyak yang komplain terutama teman kantor. Rasa pedas cabe merah adalah pilihan favorit saya untuk ole-ole karena itu yang banyak di tunggu. tidak sampi tiga hari untuk ukuran kontong plastik besar "5 kg" sudah habis. Dengan harga yang terjangkau dan rasa yang nikmat serta mudah di dapat sangat membantu dalam memanjakan teman-teman saya di tempat kerja.
.
Pas untuk Ole-ole
Tempat langganan saya untuk berburu ole-ole lanting biasanya di rumah Bu Ning desa Jemajar, Jatiluhur, Karanganyar, Kebumen. Bu Ning biasa saya mermanggilnya orangnya ramah dan yang terpenting setiap saya beli selalu di kasih discount, mungkin karena sudah langganan dan belinya juga agak banyak.

Bagi sobat semua yang kebetulan lewat atau mampir di daerah Kabupaten Kebumen jangan lupa untuk sekedar mencoba makanan Lanting, sangat cocok untuk ole-ole... di jamin rasanya mantab beda dengan lanting di daerah lain... ga percaya ???  Boleh dicoba !!!!...


AsaL Mula Nama Desa Bulupayung

Rabu, 01 Juli 2015

Tradisi Sungkeman Hari Raya Indul Fitri

Apa kabar sobat semua ? Alhamdulillah sebentar lagi kita akan merayakan hari raya lebaran, hari yang teristimewa buat kita semua umat Islam. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa menahan nafsu, lapar dan dahaga. Di hari raya Idul Fitrilah kita tumpahkan dan lampiaskan rasa kegembiraan dan kemenangan. Sudah jadi hal yang lajim bagi kita umat muslim, Idul Fitri adalah moment penting dan indah. Apalagi saat waktu acara sungkeman.

Sungkeman adalah istilah yang sudah sangat populer terutama bagi orang Jawa dan umumnya bagi masyarakat Indonesia. Tradisi ini sudah ada sejak jaman nenek moyang dulu, Orang Jawa menggunakan istilah ini untuk menggabarkan aktivitas ritual keagamaan, terutama umat Muslim. Tradisi sungkeman ini pada umumya biasanya dilakukan di kalangan kerabat dekat, yang punya tujuan saling meminta maaf antar kerabat. Sungkeman bukan semata-mata berjabat tangan ada autaran atau tata caranya.

Acara sungkeman ini dilakukan setelah menjalankan sholat sunah Idul Fitri secara berjamaah di tempat terbuka atau didalam Masjid. Kemudian secara tradisi yang merasa lebih muda akan berkunjung kekerabat terdekat untuk mengucapkan ucapan selamat hari raya Idul Fitri dan mengucapkan permohonan maaf kepada yang lebih tua dari dirinya, baik dari segi umur ataupun secara kedudukanya dalam sisilah keluarga atau didalam masyarakat. Tentunya terlebih dulu ke orangtua kandung dulu. Dalam proses berkunjung itu orang yang lebih muda menyatakan permohonan maafnya baik yang disengaja maupun yang tidak secara bersimpuh dan berjabat tangan kepada yang lebih tua. Untuk kemudian orang yang dianggap lebih tua dengan kebesaran hatinya mengabulkan permohonan maaf tersebut.

Sungkeman sendiri dilakukan secara berurut dari yang dituakan. Misalnya dalam keluarga besar ada Kakek, Nenek, Budhe, Om, Anak Budhe, Anak Om, maka urutanya adalah : Budhe sungkem ke kakek lalu ke nenenk. Om sungkem ke kakek lalu ke nenek, lalu ke budhe. Anak budhe sungkem ke kakek lalu ke nenek, lalu budhe kemudian ke om. Dan terus bergilir hingga semua anggota keluarga besar sudah melakukan sungkeman.

Sungkeman dilakukan dengan menundukan kepala ke lutut kerabat yang dituakan, dan biasanya akan terucap kalimat dalam bahasa jawa seperti ini ;

Ngaturaken sembah pangabekti kawulo sepinten kelepatan kulo ingkang mboten angsal idining sarak, dalem nyuwun pangapunten. Mugi lineburo ing dinten riyadi puniko.

atau

Ngaturaken sembah pangabekti kawulo, sepinten kelepatan kulo, lampah kulo setindak, paben kulo sakecap ingkang mboten angsal idining sarak, kulo nyuwun pangapunten mugi lineburo ing dinten riyaya puniko.

atau yang lebih sederhana

Ngaturaken sugeng riyadi, nyuwun pangapunten sedoyo kelepatan kulo, nyuwun pangestunipun.

Yang maksudnya adalah yang muda meminta maaf dihari lebaran ini agar semua kesalahan baik yang sengaja maupun yang tidak sengaja karena sebagai anak muda kadang tingkah lakunya kurang sesuai dengan aturan norma-norma yang ada.

Biasanya kalimat tersebut akan dijawab dengan permohonan maaf kembali dan disambung dengan doa harapan dari kerabat yang dituakan dan diamini oleh yang sungkem. Dan semua itu dilakukan dengan menggunakan bahasa jawa sesuai tingkat usianya.

Dengan tradisi sungkeman ini pula, kita dapat mengetahui bahwa masyarakat Jawa masih memiliki kebutuhan untuk hidup bermasyarakat. Selain itu tradisi ini juga menunjukan bahwa mereka memiliki kemampuan meredam egoitas yang bersifat individualis dan cenderung primitif. Mereka memiliki pandangan dan keyakinan bahwa dengan ketulusan meminta maaf dan memaafkan orang lain maka jiwa akan kembali suci seperti bayi yang baru lahir dengan tidak membawa dosa. Sekiranya tradisi mulia ini akan terus langgeng dan lestari agar tercipta masyarakat yang rukun dan damai

Tetapi dalam kenyataanya saat ini tradisi sungkeman secara perlahan sudah mulai ditinggalkan, kurang jelas apa penyebabnya . Apakah tradisi ini terlalu ribet atau memang penguasaan bahasa jawa yang kurang. Dibutuhkan kepedulian dari semua pihak terutama para orang tua agar selalu mengajarkan atau menguri-uri agar tradisi sungkeman ini tidak hanya sebagai cerita atau tulisan-tulisan diartikel koran atau blog di internet. karena dampak tradisi sungkeman sangat luar biasa besar manfaat yang ditimbulkanya. Demikian celotehan saya, tak lupa saya mengucapkan Taqobbalallahu Minna wa Minkum, mohon maaf lahir bathin.

Minggu, 07 Juni 2015

Menyambut Romadhon di Kampungku


Tidak lama lagi bulan Romadhon atau bulan puasa akan segera datang kalau menurut kalender, akan jatuh pada sekitar tanggal 18 juni. Bulan yang sangat istimewa bagi umat muslim di seluruh dunia. Disitulah pintu amalan di buka lebar-lebar dan Allah SWT memberikan obral pahala yang luar biasa bagi umatnya yang taat akan segala perintahnya. 

Awal Romadhon dikampung saya biasanya di awali dengan tradisi nyekar sebutan untuk ziarah ke makam leluhur, maka tidak heran saat menjelang Romadhon tempat pemakaman umum penuh dengan orang-orang yang berziarah ke pemakaman  untuk mendoakan para leluhur dan sanak saudara yang telah almarhum.

Suara bedug di berbagai suro dan masjid yang bersautan sebagai tanda awal puasa, menjadi ciri khas. Masih ku ingat ketika masih SD banyak tradisi yang bertujuan membangkitkan semangat Romadhon seperti membuat oncor, oncor adalah alat penerang yang terbuat dari bambu yang di isi minyak tanah dengan dikasih kain bekas sebagai sumbunya makhlum saat itu listrik belum ada di kampung saya. Oncor itulah untuk menerangi saat pergi sholat teraweh, tempat terawehpun tidak di suro atau masjid tetapi di tempat pak kaum, (kaum adalah sebutan perangkat desa yang membidangi keagamaan). Entah kenapa sholat teraweh tidak di mushola padahal waktu itu mushola tersedia, saya sendiri juga bingung.

Yang sangat memalukan bila teringat masa kecil dulu saat waktu sholat teraweh tiba, bukanya sholat malah bermain petak umpet di halaman sekitar pak kaum, dan akan kembali ketika jaburan telah keluar biasanya saat sholat teraweh sudah selesai. Jaburan adalah makanan penutup sholat teraweh semacam snack. Walau cuma makanan kecil seperti singkong, ketela, jagung yang di rebus atau nasi tumpeng sudah sangat luar biasa disaat itu.

Selain itu juga ada permainan unggulant saat bulan Romadhon sambil menunggu waktu buka puasa dikampungku ada permainan mercon bambu yaitu bambu yang sudah tua dan berkulit tebal agar tahan dari tekanan dan suaranya nyaring. Bambu dipotong diujung dikasih lubang sebagai sumbunya, untuk menghasilkan suara bambu diisi karbit dicampur air secukupnya, tutup semua lubang dengan kain, tunggu sesaat kemudian sulut dengan api ujung lobang kecil tersebut maka akan terjadi letupan yang sangat keras, cukup menghibur sambil menunggu jam buka puasa.

Ada mercon karbit yang lebih keras suaranya dari mercon bambu yaitu dengan membuat lubang ditanah dengan kedalaman ujung sekitar satu jengkal tangan dewasa kemudian tutup dengan papan yang ujung papanya dilubangi dan disambung dengan carang (bambu kecil) sebagai sumbunya kemudian timbun dengan tanah. Untuk menyulutnya masukan karbit yang sudah dicampur air letakan pada tempat wadah kecil yang di kaitkan pada sebuah bambu yang dirakit tutup semua lubang dengan kain bekas tunggu beberapa saat. Kemudian sulut dengan api sumbunya, maka akan menghasilkan suara yang menggelegar lebih keras dibanding dengan mercon bambu.

Masih banyak cerita di bulan Romadhon dikampung saya yang saat ini agak sedikit sulit ditemukan karena tergeser dengan permainan yang lebih moderen. Tanpa tidak harus mengurangi rasa khusu beribadah di bulan puasa, itulah tradisi dan permainan yang membanggakan buat saya dan anak kecil pada waktu itu sebagai hiburan untuk menghilangkan rasa dahaga dan lapar.

Kini di tahun ini sepekan lagi bulan itu akan datang sebagai umat Islam yang taat seharusnyalah kita menyambut dan menjalankan ibadah tersebut. Bulan yang datang setahun sekali, bulan dimana pintu syurga terbuka lebar, bulan dimana ada peristiwa obral pahala yang luar biasa di sepuluh hari terahir yang desebut Lailatur Qodar.

Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan suci Romadhon semoga dibulan tersebut sebagai tempat intropeksi dan belajar menahan segala nafsu keserakahan...