Sabtu, 03 September 2011

Gua Jatijajar Kebumen dan Legenda Lutung Kasarung


Goa Jatijajar adalah Goa Alam yang terletak di desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Goa ini terbentuk dari batu kapur dan telah diketemukan pada tahun 1802 oleh seorang petani yang memiliki tanah diatas Goa tersebut yang Bernama "Jayamenawi". Pada suatu ketika Jayamenawi sedang mengambil rumput, kemudian jatuh kesebuah lobang, ternyata lobang itu adalah sebuah lobang ventilasi yang ada di langit-langit Goa tersebut. Lobang ini mempunyai garis tengah 4 meter dan tinggi dari tanah yang berada dibawahnya 24 meter. 

Soal asal muasal Goa Jatijajar memang tidak banyak orang yang mengetahui secara persis, ada dua versi mengenai asal usul Goa Jatijajar. 

Pertama, setelah Jayamenawi menemukan gua, tak lama kemudian Bupati Ambal, salah satu penguasa Kebumen waktu itu, meninjau lokasi tersebut. Saat mendatangi goa, dia menjumpai dua pohon jati tumbuh berdampingan dan sejajar pada tepi mulut gua. Dari kisah itu lalu ditemukan istilah Jatijajar, dari kata jati yang sejajar.

Versi kedua, saat Kamandaka dikejar-kejar, dari dalam gua ia menyebutkan jati dirinya. Ia mengaku sebagai putra mahkota Pajajaran. Dari kisah itu muncul kata sejatine (sebenarnya) dan Pejajaran. Nama Gua Jatijajar lalu terkenal hingga saat ini
.
Dari sejumlah tempat wisata di Kabupaten Kebumen, Goa Jatijajar masih menjadi primadona. Terletak 21 km sebelah barat daya Kecamatan Gombong setiap tahun ramai dikunjungi pengunjung terutama saat liburan sekolah atau hari raya Lebaran. Pengunjung yang datang tak selalu dari masyarakat di sekitar Kebumen. Mereka ada pula yang datang dari kota-kota besar di Indonesia, yang tujuannya ingin mengetahui pesona alam di dalam perut bumi.

Goa Jatijajar berada di kaki pegunungan kapur yang memanjang dari utara dan ujungnya di selatan menjorok ke laut berupa sebuah tanjung. Objek wisata ini sungguh sangat menarik. Sebagaimana umumnya objek wisata lain di Indonesia, yang hampir selalu menyimpan legenda, Goa Jatijajar pun tak terkecuali.

Menurut cerita rakyat, Goa Jatijajar ini pada jaman dahulu merupakan tempat bersemedi Raden Kamandaka, yang kemudian mendapat wangsit. Cerita Raden Kamandaka ini kemudian dikenal dengan legenda Lutung Kasarung. 

 
Visualisasi dari legenda tersebut dapat kita lihat dalam diorama yang ada di dalam goa. Ketika masuk ke dalam ada rasa degdegan. Betapa tidak! Karena merasa seperti masuk ke dalam mulut binatang purba Dinosaurus yang gelap dan lembab. Namun rasa cemas itu segera sirna, sebab ruangan diterangi oleh lampu listrik dari ujung ke ujung. Meski mulut goa cukup lebar, namun ruang perut dinosaurus lebih lebar lagi. Pada langit-langit terdapat sebuah lubang sebagai ventilasi. Di tengah-tengah terdapat kursi melingkar tempat duduk pengunjung sambil menikmati indahnya ornamen stalagtit dan stalagnit serta diorama legenda Lutung Kasarung.

Banyak keistimewaan yang ditawarkan dari obyek wisata Gua Jatijajar. Di dalam goa terdapat sungai bawah tanah yang masih aktif. Ada juga dua sendang, yakni Sendang Kantil dan Sendang Mawar. Di dua sendang yang bisa didekati pengunjung itu masih dipercayai, yang mau membasuh muka dengan air sendang bisa awet muda.

Aliran Sungai di Dalam Goa Jatijajar
Aliran air dari Sendang Mawar melewati lubang sempit hingga tembus luar goa. Namun pada dasar Sendang Kantil dijumpai lubang sempit memanjang, sehingga menelusuri goa itu harus melalui penyelaman. Masih ada lagi dua sendang, yakni Sendang Jombor dan Puserbumi. Kedua sendang ini dikeramatkan. Hanya dengan izin pengelola, lorong goa itu boleh dilalui. Orang tertentu yang punya keinginan, dengan menaruh sesaji di sendang itu, konon akan dikabulkan doanya.
 
Melihat potensi yang luar biasa maka pada tahun 1975 Gubernur Jawa Tengah waktu itu yaitu Bapak. Suparjo Rustam, Goa Jatijajar mulai dibangun dan dikembangkan menjadi Objek Wisata Budaya, sebagai pelaksananya ditunjuk langsung seorang seniman Deorama yang terkenal di Indonesia pada masa itu yang bernama Bapak Saptoto.
Pemda Kebumen membebaskan lahan penduduk setempat seluas 5,5 ha, dengan mengganti rugi tanah penduduk yang terkena lokasi pembangunan Objek Wisata Goa Jatijajar. Setelah selesai proses pembangunan Goa Jatijajar, pengelolaan Objek Wisata tersebut  diserahkan kepada Pemda Kebumen.
Objek Wisata Goa Jatijajar sangat identik dengan Objek Wisata Budaya, karena Goa Jatijajar ada hubungannya dengan sebuah cerita legenda Raden Kamandaka seorang putera makhkota Kerajaan Pajajaran yang bernama asli Banyak Cokro atau Banyak Cakra, yang lebih terkenal sebuah cerita legenda Lutung Kasarung.
Cerita  “Lutung Kasarung”  Di balik Goa JatiJajar
.
Lutung Kasarung adalah sebuah legenda masyarakat Jawa Barat yang cukup terkenal. Pada jaman dahulu kala di daerah Jawa Barat terdapat sebuah Kerajaan Hindu yang besar dan cukup kuat, yang berpusat di Kota Bogor sekarang ini. Kerajaan Itu adalah kerajaan Pajajaran,  Tetapi cerita Lutung Kasarung sendiri lebih banyak terjadi di daerah Banyumas. Jawa Tengah  Pada saat itu Raja yang memerintah di Kerajaan Pajajaran adalah Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi sudah lanjut usia saat Itu dan bermaksud untuk mengangkat Putra Mahkotanya untuk menggantikannya sebagai Prabu di Pajajaran.

Diorama yang menceritakan Kisah Lutung Kasarung
Prabu Siliwangi mempunyai tiga Orang Putra dan Satu Orang Putri, ke-3 Putera dan Seorang Puteri ini dia peroleh dari dua Orang Permaisurinya. Dari permaisuri yang pertama Ia mendapatkan dua Orang putra yaitu Banyak Cotro dan Banyak Ngampar. Namun sewaktu Banyak Cotro dan Banyak Ngampar masih kecil Ibunya telah meninggal.
Sepeninggal isteri pertamanya, maka Prabu Siliwangi akhirnya menikah lagi dengan permaisuri yang kedua, yaitu Dewi Kumudaningsih. Pada waktu Dewi Kumudangingsih diambil menjadi permaisuri oleh Prabu Siliwangi, Ia mengadakan sebuah perjanjian, bahwa jika kelak Ia mempunyai putra dari Dewi Kumudaningsih, maka putranyalah yang harus menggantikannya menjadi raja di Pajajaran. Dari perkawinannya dengan Dewi Kumudaningsih, Prabu Siliwangi mempunyai seorang putra dan seorang putri, yaitu Banyak Blabur dan Dewi Pamungkas.
Suatu hari Prabu Siliwangi memanggil putra mahkotanya Banyak Cotro dan Banyak Blabur untuk menghadap, maksudnya ialah Prabu Siliwangi akan mengangkat putranya untuk menggantikan menjadi Raja di Pajajaran karena beliau sudah lajut usia. Namun dari kedua putra mahkotanya belum ada satupun yang mau diangkat menjadi Raja di Pajajaran. Sebagai putra sulungnya Banyak Cotro mengajukan beberapa alasan, antara lain alasannya adalah: untuk memerintah di Kerajaan Pajajaran Dia belum siap, karena belum cukup ilmu. Untuk memerintah di Kerajaan seorang Raja harus ada Permaisuri yang mendampinginya, sedangkan Banyak Cotro belum menikah. Banyak Cotro mengatakan bahwa Dia baru akan menikah kalau sudah bertemu dengan seorang Putri yang parasnya mirip dengan paras mendiang Ibunya. Oleh sebab itu Banyak Cotro meminta ijin pergi dari Kerajaan Pajajaran untuk mencari Putri yang menjadi idamannya.
Kepergian Banyak Cotro dari Kerajaan Pajajaran melalui Gunung Tangkuban Perahu adalah untuk menghadap seorang Pendeta yang menjadi pertapa yang berdiam di sana. Pendeta itu tidak lain adalah Ki Ajar Winarong, seorang pendeta sakti yang tahu bagaimana agar keinginan Banyak Cotro mempersunting putri yang di idam-idamkannya dapat tercapai.
Setelah berhasil bertemu dengan Ki Ajar Winarong, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Banyak Cotro. Yaitu dia harus rela melepas dan menanggalkan semua pakaian kebesaran dari kerajaan dan hanya memakai pakaian rakyat biasa. Dan Ia juga harus menyamar dengan nama samaran Arya Kamandaka. Karena keinginannya yang sangat kuat agar mampu mempersunting seorang isteri yang memiliki wajah semirip mendiang Ibunya, maka semua itu Ia jalani dengan senang hati.
Arya Kamandaka mulai berjalan selama berhari-hari dari Tangkuban Perahu menyusuri ke arah timur hingga sampailah Arya Kamandaka di wilayah Kadipaten Pasir Luhur. Secara kebetulan ketika Arya Kamandaka sampai di wilayah Kadipaten Pasir Luhur, Arya Kamandaka betemu dengan Patih di Kadipaten Pasir Luhur itu yang bernama Patih Reksonoto. Karena Patih Reksonoto sudah tua ditambah lagi dia tidak mempunyai anak, maka Arya Kamandaka akhirnya dijadikan anak angkat oleh Patih Reksonoto. Patih Reksonoto sangat mencintainya merasa sangat bangga dan senang hatinya mempunyai putra angkat Arya Kamandaka yang gagah dan tampan.
Adapun waktu itu yang memerintah di Kadipaten Pasir Luhur adalah Adipati Kanandoho. Adipati Kanandoho mempunyai beberapa orang putri yang kesemuanya sudah bersuami terkecuali puterinya yang bungsu yaitu Dewi Ciptoroso. Ketika Arya Kamandaka melihat Dewi Ciptoroso, putri Adipati Kanandoho yang mempunyai wajah sangat mirip dengan mendiang Ibu dari Arya Kamandaka. Segeralah Arya Kamandaka tersadar bahwa dia telah menemukan apa yang dicarinya selama Ini.
Adalah suatu kebiasaan tahunan dari Kadipaten Pasir Luhur, bahwa setiap tahun di Kadipaten Pasir Luhur selalu diadakan upacara menangkap ikan di Sungai Logawa. Dalam upacara ini, semua anggota keluarga Kadipaten Pasir Luhur beserta seluruh pembesar dan pejabat pemerintah di Kadipaten Pasir Luhur turut menangkap ikan di Kali Logawa.
Pada waktu Patih Reksonoto pergi mengikuti upacara menangkap ikan di Kali Logawa, tanpa diketahui oleh sang patih, Arya Kamandaka secara diam-diam mengikutinya dari belakang. pada kesempatan inilah Arya Kamandaka dapat bertemu langsung dengan Dewi Ciptoroso dan bak gayung bersambut mereka berdua saling jatuh cinta. Dewi Ciptoroso meminta agar Arya Kamandaka pada malam harinya datang untuk menjumpai Dewi Ciptoroso di taman kaputren kadipaten Pasir Luhur tempat Dewi Ciptoroso berada. Pada malam harinya Arya Kamandaka dengan diam-diam tanpa seijin dan sepengetahuan Patih Reksonoto pergi menjumpai Dewi Ciptoroso yang sudah menanti kedatangan Arya Kamandaka.
Keberadaan Arya Kamandaka di taman kaputren Kadipaten Pasir Luhur bersama Dewi Ciptoroso, ternyata diketahui oleh para prajurit kadipaten, hal ini kemudian dilaporkan oleh kepala pasukan kepada Adipatih Kandandoho. Adipatih sangat marah dan memerintahkan prajuritnya untuk menangkap penyusup tersebut. Namun karena kesaktian yang dimiliki oleh Arya Kamandaka, maka Arya Kamandaka dapat meloloskan diri dari kepungan prajurit Kadipaten Pasir Luhur. Sebelum Arya Kamandaka meloloskan diri dari taman kaputren, Ia masih sempat mengatakan identitasnya. Bahwa Ia adalah anak angkat Patih Reksonoto yang bernama Arya Kamandaka.
Berita tentang pengakuan ini dilaporkan kepada Adipatih Kandandoho, maka kemudian Patih Reksonoto pun dipanggil dan diminta harus menyerahkan putranya Arya Kamandaka. Perintah ini walaupan dengan hati yang sangat berat akhirnya dilaksanakan juga oleh Patih Reksonoto. namun dengan siasat dari Patih Reksonoto, maka Arya Kamandaka berhasil lari dan selamat dari pengejaran para prajurit Kadipaten Pasir Luhur.
Arya Kamandaka terjun kedalam sungai dan terus menyelam mengikuti arus air sungai. Oleh Patih Reksonoto dan para prajurit kadipaten yang mengejar, dilaporkan kepada Adipati Kanandoho bahwa Arya Kamandaka sudah mati didalam sungai. Mendengar berita ini Adipatih Kanandoho merasa lega dan puas. Dewi Ciptoroso ketika mendengar berita ini sangatlah sedih mengetahui pria yang dicintainya telah tiada.
Sepanjang malam pengejaran itu Arya Kamandaka terus menyelam mengikuti arus sungai hingga bertemu dengan seorang yang bernama rekajaya yang sedang memancing di Sungai. Arya Kamandaka dan Rekajaya kemudian menjadi teman baik dan menetap di Desa Panagih. selama di Desa ini Arya Kamandaka kembali diangkat anak oleh Mbok Kertosuro, seorang janda miskin yang hidup di Desa tersebut.
Arya Kamandaka menjadi seorang penggemar Adu Ayam. Mbok Kertosuro mempunyai seekor Ayam Jago yang dia beri nama mercu. Dalam setiap penyabungan Ayam yang diikuti oleh Arya Kamandaka, Ia selalu menang. Nama Arya Kamandaka menjadi sangat terkenal dikalangan pebotoh Ayam. Hal ini akhirnya sampai juga ke telinga Adipatih Kanandoho, mengetahui kalau Arya Kamandaka belum mati membuatnya sangat marah dan murka. Adipatih Kanandoho kemudian memerintahkan prajuritnya untuk menangkap Arya Kamandaka baik hidup atau mati.
Pada saat itu datanglah seorang pemuda tampan yang mengaku dirinya bernama Silihwarni, Silihwarni berkeinginan mengabdikan diri kepada Adipati Pasir Luhur. Permohonannya di terima oleh sang sdipati dengan syarat Ia hanya akan diterima apabila berhasil membunuh Arya Kamandaka. Untuk membuktikan kalau Arya Kamandaka telah berhasil dibunuh maka Ia harus membawa darah dan hati Arya Kamandaka.
Silihwarni ternyata hanyalah sebuah nama samaran, Silihwarni bukan lain adalah Banyak Ngampar putra Prabu Siliwangi yang adalah adik kandung dari Banyak Cotro atau Arya Kamandaka. Silihwarni oleh Ayahnya ditugaskan untuk mencari Banyak Cotro saudara kandungnya sudah lama pergi dan belum kembali, Ia dibekali oleh ayahnya dengan pusaka keris Kujang Pamungkas sebagai senjatanya dan dalam menyamar Ia memakai nama Silihwarni dan berpakaian seperti rakyat biasa. Karena Silihwarni mendengar kabar bahwa kakaknya berada di wilayah Kadipaten Pasir Luhur, maka Ia pun pergi kesana. Setelah Silihwarni menerima perintah dari adipatih, pergilah Ia dengan diikuti beberapa orang prajurit Kadipaten dan Anjing pelacak menuju ke Desa Karang Luas, tempat arena penyabungan Ayam.
Ditempat inilah kedua kakak beradik ini bertemu, namun keduanya sama - sama sudah tidak saling mengenal lagi, karena Silihwarni yang menyamar menggunakan pakaian rakyat biasa sedangkan Arya Kamandaka memakai pakaian sebagai pebotoh Ayam. Terjadilah pertarungan sengit antara Arya Kamandaka dan Silihwarni, tanpa disadari oleh Raden Kamandaka tiba-tiba Silihwarni menikam pinggang Raden Kamandaka dengan Keris Kujang Pamungkasnya. Luka goresan keris itu menyebabkan darah mengalir dengan derasnya. Namun lagi - lagi Arya Kamandaka dapat meloloskan diri dari bahaya, tempat itu pun kemudian diberi nama Desa Brobosan, yang berarti ia dapat lolos dari bahaya.
Ketika luka Arya Kamandaka semakin mengeluarkan darah, Iapun memutuskan untuk beristirahat sebentar disuatu tempat, maka tempat itu dinamakan bancaran. Larinya Arya Kamandaka terus dikejar oleh Silihwarni dan prajurit kadipaten. Sampai suatu tempat Arya Kamandaka berhasil menangkap Anjing pelacaknya dan kemudian tempat itu di beri nama Desa Karang Anjing. Arya Kamandaka terus berlari kearah timur dan sampailah Arya Kamandaka pada sebuah jalan buntu dan tempat ini Ia beri nama Desa Buntu. Akhirnya Arya Kamandaka sampai disebuah goa. Didalam goa Ini Arya Kamandaka beristirahat dan bersembunyi dari Kejaran Silihwarni. Silihwarni yang terus mengejar akhirnya kehilangan jejak sampai di goa  tempat Arya Kamandaka beristirahat, kemudian Silihwarni berseru menantang Arya Kamandaka. Mendengar tantangan Silihwarni, Arya Kamandaka pun menjawab dan Ia mengatakan identitasnya yang sebenarnya, bahwa Ia adalah putra dari Kerajaan Pajajaran namanya Banyak Cotro. Silihwarnipun mengatakan identitasnya bahwa Ia juga adalah putra dari Kerajaan Pajajaran, bernama banyak ngampar. demikian kata-kata Ayang pengakuan antara Raden Kamandaka dan Silihwarni bahwa mereka adalah putra Pajajaran. Kemudian mereka berdua berpelukan dan saling memaafkan, goa itu akhirnya diberi nama GOA JATIJAJAR.
Namun karena Silihwarni harus pulang dan membawa bukti hati dan darah Arya Kamandaka, maka dibunuhnyalah Anjing pelacak kemudian dipotong diambil darah dan hatinya, sebagai bukti bagi Adipati Kanandoho kalau itu adalah hati dan darah Arya Kamandaka yang berhasil dibunuhnya. Arya Kamandaka kemudian bertapa di dalam Goa Jatijajar dan mendapat petunjuk bahwa niatnya untuk mempersunting Dewi Ciptoroso akan tercapai kalau Ia sudah mendapat pakaian lutung dan Arya Kamandaka disuruh supaya mendekat ke Kadipaten Pasir Luhur dan menetap di hutan Batur Agung, sebuah hutan sebelah barat daya dari Batu Raden.
Kegemaran dari adipatih Kadipaten Pasir Luhur adalah berburu. Pada suatu hari adipatih dan semua keluarganya pergi berburu, tiba-tiba bertemulah rombongan pemburu itu dengan seekor Lutung yang sangat besar dan jinak. Akhirnya di tangkaplah Lutung tersebut hidup-hidup. Sewaktu Lutung itu akan dibawa pulang, tiba-tiba datanglah Rekajaya dan mengaku bahwa Lutung itu adalah Lutung peliharaannya, dan mengatakan bersedia membantu merawatnya jika Lutung itu akan dipelihara di Kadipaten Pasir Luhur. Dan permohonan Rekajaya itu pun dikabulkan oleh sang adipati.
Setelah sampai di Kadipaten Pasir Luhur, para putri saling berebut ingin memelihara Lutung tersebut. Selama itupula Lutung tersebut tidak mau dikasih makan oleh siapapun juga. Akhirnya oleh Adipati Pasir Luhur, Lutung tersebut disayembarakan. Isi sayembara itu adalah barangsiapa dari para puterinya yang dapat memberi makan sang Lutung, maka dialah yang berhak memelihara Lutung tersebut. Dalam sayembara itu ternyata makanan yang diterima oleh Lutung tersebut hanyalah makanan yang diberikan oleh Dewi Ciptoroso. Maka Lutung Kasarung itupun menjadi peliharaan Dewi Ciptoroso. Pada malam hari Lutung Kasarung alias Arya Kamandaka tersebut berubah wujud aslinya menjadi Arya Kamandaka. Sehingga hanya Dewi Ciptoroso yang tahu tentang hal tersebut. Pada siang hari Ia berubah lagi kembali menjadi Lutung Kasarung. Maka keadaan Dewi Ciptoroso kini menjadi sangat gembira dan bahagia, yang selalu ditemani Lutung Kasarung alias Arya Kamandaka yang dicintainya.
Pada suatu hari ada seorang penguasa dari Nusa Kambangan bernama Prabu Pule Bahas menyuruh patihnya untuk meminang Dewi Ciptoroso dan mengancam apabila pinangannya pada Dewi Ciptoroso ditolak, maka Ia akan menghancurkan Kadipaten Pasir Luhur. Atas permintaan dari Lutung Kasarung, maka pinangan Raja Pule Bahas agar supaya diterima saja. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Raja Pule Bahas agar pinangannya itu diterima oleh Dewi Ciptoroso. Salah satunya ialah dalam pertemuan para calon pengantin nanti, maka Lutung Kasarung harus turut mendampingi Dewi Ciporoso. Pada waktu pertemuan para calon pengantin berlangsung, Raja Pule Bahas selalu diganggu oleh Lutung Kasarung yang mendampingi Dewi Ciptoroso. Hal ini menyebabkan Raja Pule Bahas marah dan memukul Lutung Kasarung yang memang telah siap bertarung melawan Raja Pule Bahas.
Pertarungan yang terjadi antara Raja Pule Bahas melawan Lutung Kasarung terjadi sangat seru. Namun karena kesaktian Lutung Kasarung, akhirnya Raja Pule Bahas gugur setelah dicekik dan digigit oleh Lutung Kasarung. Ketika Raja Pule Bahas telah gugur, Lutung Kasarung pun kemudian menjelma menjadi Arya Kamandaka dan langsung mengenakan pakaian kebesaran kerajaan pajajaran dan mengatakan bahwa namanya yang sebenarnya adalah Raden Banyak Cotro. Kini Adipatih Pasir Luhur pun mengetahui kalau Arya Kamandaka adalah Raden Banyak Cotro dan adalah Lutung Kasarung putra mahkota dari Kerajaan Pajajaran, akhirnya Ia dikawinkan dengan Dewi Ciptoroso.
Karena Raden Kamandaka sudah cacat terkena Keris Kujang Pamungkas sewaktu bertarung melawan adiknya yang menyamar sebagai Silihwarni, maka dia tidak dapat lagi menggantikan ayahandanya menjadi Raja di Pajajaran. Karena tradisi Kerajaan Pajajaran, bahwa setiap putra mahkota yang akan menggantikan posisi raja tidak boleh cacat terkena pusaka Kujang Pamungkas. Sehingga setelah Ia dinikahkan dengan Dewi Ciptoroso, Arya Kamandaka menjadi Adipatih di Pasir Luhur menggantikan mertuanya. Sedangkan yang menjadi Raja di Pajajaran adalah Banyak Blabur adiknya.
Itulah kisah Lutung Kasarung, yang sebenarnya cerita tersebut terjadi di wilayah Jawa Tengah tepatnya di Banyumas, karena Kerajaan Pasir Luhur berada di sekitar wilayah Purwokerto. Kebetulan Goa Jatijajar ada dalam cerita tersebut. Pada waktu itu Wilayah Gombong sampai dengan Sungai LukUlo menjadi kekuasaan Kerajaan Pajajaran, sedang sebelah timur Sungai LukUlo termasuk kota Kebumen menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Asal crita Lutung Kasarung tidak jadi soal, yang penting sudahkah Anda singgah di Goa Jaijajar. Anda akan di suguhi panorama alam yang luar biasa dengan di bumbuhi Biorama cerita Arya Kamandoko. Untuk fasilitas tempat jangan kuatir Pemda Kebumen sudah menatanya dengan rapi demi kenyamanan kedatangan Anda semua.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Waduk Sempor Kebumen



Terletak di Desa Sempor Kecamatan Sempor, tepatnya 7 Km sebelah utara kota Gombong. Waduk Sempor merupakan bendungan aliran air sungai Cincingguling yang mengalir dari kaki pegunungan serayu selatan dan bermuara di samudera Indonesia. Awal pembentukan bendungan Sempor adalah untuk menahan air yang datang dari arah timur dan utara yang merupakan daerah perbukitan agar di bagian barat dan selatan tidak terkena banjir bila musim hujan karena merupakan daerah rendah.

-->
Waduk yang diresmikan Presiden Soeharto pada tahun 1978, sebetulnya waduk tersebut memiliki sejarah panjang dan mulai dibangun sejak 1968. Bahkan, awal pembangunan menelan korban jiwa ratusan warga Sempor akibat waduk itu jebol.

Waduk Sempor mempunyai multi fungsi selain wisata, manfaat Waduk ini juga merupakan sumber untuk penyediaan air baku PDAM, karamba ikan, irigasi persawahan, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), transportasi dan sumber penghasilan bagi warga sekitar dengan pancing, jala, jaring hingga para pemilik perahu transportasi. waduk ini juga menyimpan potensi yang besar sebagai obyek wisata. Selain daya tarik alamnya yang begitu besar, obyek wisata ini juga dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung, antara lain wisma-wisma penginapan yang bisa disewa secara perorangan maupun rombongan. Selain sebagai obyek berwisata, tempat ini juga cocok dijadikan tempat untuk seminar, rapat keja dan kegiatan lainnya, karena selain tempatnya tenang, juga memiliki sarana yang memadai untuk kegiatan tersebut.

Obyek Wisata Sempor bisa kita nikmati dari dua arah. Arah yang pertama yaitu setelah pintu gerbang yang dijaga oleh petugas penarik retribusi, pada simpang tiga yang jaraknya beberapa ratus meter dari pintu gerbang. Sedangkan arah yang kedua, pada simpang tiga tadi belok kekiri.

Bila kita ambil arah yang pertama kita bisa menikmati keindahan waduk dari dekat. Dengan menyusuri jalan beraspal diatas bendungan, akan sampai di dermaga perahu. Kita bisa menikmati indahnya panorama  waduk sambil berkeliling naik perahu motor yang disewakan.  Selain itu juga bisa untuk memancing, atau berkeliling waduk menikmati Taman Dirgantara yang memajang aneka pesawat terbang tiruan serta permainan anak-anak.

Apabila kita mengambil arah yang kedua kita di suguhi pemandangan yang tidak kalah menarik . Selain jalannya berkelok-kelok dan menanjak, kita bisa menikmati saluran irigasi yng lebar menyerupai sungai. Di tempat inilah kompleks perkantoran milik instansi pengelola waduk lengkap dengan perumahan yang kadang dipakai sebagai penginapan bagi pengunjung. Tersedia juga Lapangan Pancasila dan di lengkapi Aula untuk pertemuan.
Apabila kita melihat ke arah selatan tepatnya di komplek penginapan terdapat gugusan bukit yang namanya mengambil dari tokoh pewayangan pandawa lima. Konon di beberapa puncak bukit itu, terdapat pula makam yang dikeramatkan dan dikunjungi peziarah. Selain itu, bila kita tak segan untuk sering bertanya kepada warga sekitarnya, berbagai cerita menarik yang berkaitan dengan bukit-bukit itu akan kita dapatkan. Hal itu tentu saja melengkapi arti kunjungan kita ke obyek wisata ini.

Bila anda yang berwisata ke tempat ini dan kebetulan tidak membawa bekal makanan atau bingung mencari penginapan, jangan kuatir di lokasi ini tersedia jajanan yang di jamin sesuai ukuran kantong kita. Begitu pula dengan penginapan di sini banyak pilihan penginapan sesuai ukuran kemampuan kita.
Kalau hanya membaca tulisan ini, saya jamin Anda tidak akan puas, akan lebih baik cobalah tengok seberapa besar daya pikat Waduk Sempor?. Kita akan di suguhi panorama yang luar biasa bila anda pernah mengunjungi danau Toba di Sumatera Utara, Waduk Sempor tidak kalah…ga percaya ? silahkan datang…

Sabtu, 13 Agustus 2011

Waduk Wadaslintang


Bendungan kokoh Waduk Wadaslintang

Terletak di Desa Sumber Rejo Kecamatan Wadaslintang masuk Kabupaten Wonosobo dan di kecamatan Padureso yang masuk Kabupaten Kebumen. Air waduk yang menggenangi lebih banyak masuk wilayah Wonosobo karena sungai utama yang di bendung adalah sungai Bedegolan, sedang kali Gede sebagai sumber air utamanya dengan beberapa anak sungai kecil lainya.
Sedangkan sekitar 113 hektar termasuk kantor dan lokasi bendungan , PLTA beserta dua saluran induk masuk wilayah Kebumen. Objek wisata waduk Wadaslintang lebih banyak dikelola oleh dinas lingkungan hidup kabupaten Kebumen tetapi buka berarti Pemda Kabupeten Wonosobo tidak punya hak kelola, mereka berbagi pengelolaan setiap tahunya biar Adil...

Panorama Waduk dengan paduan bukit hijau
Dalam proses pembuatan Waduk Wadaslintang cukup lama, sekitar 7 tahun. Arealnya di lembah yang cukup curam tapi pemandangannya mengasyikkan. Tanah yang diperlukan untuk kawasan waduk tersebut mencapai 2.626 ha. Sehingga pada awal pembangunannya harus memindahkan sekitar 7.000 penduduk di perbatasan Kabupaten Kebumen-Wonosobo di eks Karesidenan Kedu. Genangan airnya mencakup sembilan desa, Whoo….sepantasnyalah warga dua Kabupaten tersebut berterimakasih kepada penduduk yang rela rumahnya di genangi.
Waduk Wadaslintang dilaksanakan oleh kontraktor Hydro Resource Coorporation Filipina, bekerja sama dengan PT Brantas Abipraya. Mulai dikerjakan tahun 1982, dan diresmikan oleh Presiden Soeharto awal tahun 1988. Diproyeksikan mampu berusia sampai sekitar 200 tahun. Waduk Wadaslintang termasuk cukup dalam. Tinggi bendungan 116 m lebar 10 m dan panjang 650 m, berisi air maksimal 443 juta M3.

Sungai penyuplay waduk dan baik juga untuk arum jeram
Waduk ini terletak di daerah perbukitan yang masuk dalam wilayah gugusan pegunungan serayu, dengan dikelilingi beberapa bukit yang menjulang tinggi. Wajar bila tempat ini memiliki udara yang sejuk. Bukit-bukit yang berjejer melengkapi pesona panorama Waduk Wadaslintang. Sungai Pejengkolan melengkapi daya tarik pengunjung dengan aliran air cukup bagus. Di bagian bawah kini dibangun Bendungan Pejengkolan. Debit airnya sepanjang tahun tetap, karena bisa diatur dari pintu turbin PLTA. Sehingga sangat cocok untuk olah raga petualang seperti arung jeram. Aliran arusnya menghasilkan perpaduan jeram yang memutih kebiru-biruan dengan batu-batu besar, serta alam pedesaan sekitarnya yang menghijau. Pokoknya tidak kalah dengan pesona Green Canyon di Ciamis Jawa Barat.

Bila ingin sekedar berkeliling Waduk tersedia perahu kecil
Waduk Wadaslintang sangat bermanfaat untuk kemakmuran dua Kabupaten yaitu Kebumen dan Wonosobo selain sebagai tempat wisata juga menghasilkan tenaga Listrik. Tenaga yang dihasilkan 16 MW. sedang transmisi jaringan lebih kurang 30 km. Masalah erosi tak begitu menjadi ancaman, lantaran sekitar waduk merupakan tanah pegunungan yang menghijau. Belum lagi hasil ikan, karena di sana juga dimanfaatkan untuk budidaya ikan.
Dari segi pertanian sangat bermanfaat terutama untuk Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Purworejo. Sebab, waduk tersebut mampu mensuplai kebutuhan irigasi bagi areal persawahan seluas 30.345 hektar sepanjang tahun. Dampak lansung mampu memberikan tambahan hasil sekitar 210.000 ton beras setahun. Kabupaten Kebumen dan Purworejo, mampu menjadi salah satu lumbung padinya Jawa Tengah. Kebumen dengan dukungan irigasi Waduk Wadaslintang dan Sempor, mampu surplus beras 150 ribu ton per tahun. Sedangkan Purworejo mampu surplus beras 110.000 ton per tahun. Pola tanamannya dua kali padi dan sekali palawija. 

Tempat yang indah untuk bersantai
Bila anda yang mau berkunjung ke tempat ini jangan kuatir, sarana angkutan cukup mudah. Sebab, jalur Kebumen-Wonosobo lewat Wadaslintang dilayani angkutan umum jenis minibus. Dengan jalan yang berkelok berpanorama indah tidak kalah dengan di Puncak Bogor maupun Brastagi di Sumatera Utara, cukup menjadi daya pikat tersendiri.
Perpaduan panorama yang serasi
Dari Kota Prembun di Kebumen hanya sekitar 8 km ke utara. Jalannya beraspal hotmix dan tersedia angkutan umum. Sekitar kawasan genangan waduk dan objek wisatanya banyak dilindungi pepohonan rindang. Karena merupakan kawasan hutan pinus dan hutan milik perhutani, serta sebagian tanah dan permukiman penduduk. Kalau tidak percaya silahkan datang ke obyek wisata Waduk Wadaslintang….


Sabtu, 16 Juli 2011

Pantai Logending atau Ayah Kebumen


Indahnya pantai Logending

Indonesia Negara yang berbentuk kepulauan memiliki banyak obyek wisata pantai. Banyak orang mengenal pantai sanur atau kutai di Bali. Tapi pernahkah Anda mendengar pantai Logending ?. Bagi yang belum pernah mendengar atau berkunjung bolehlah baca celotehanku ini kalau kurang bagus mohon di maafin. Pantai Logending tidak kalah menariknya dengan pantai yang selama ini terkenal di Dunia. Mungkin di pantai ini tidak di temukan suasana ramai bahkan bising, karena belum banyak di ketahui turis asing. 
Pantai Logending, sekitar 8 km selatan Gua Jatijajar, atau 53 km dari kota Kebumen, tepatnya di Desa/Kecamatan Ayah makanya sering juga di sebut dengan pantai Ayah, merupakan obyek wisata pantai yang memiliki keindahan alam sangat menawan. Yang paling menarik untuk diperhatikan adalah batu karang berbentuk pintu gerbang. Pintu gerbang penuh misteri ini adalah Pintu Gerbang Nyi Roro Kidul. Dari kejauhan, pintu gerbang yang memikat ini terlihat seperti seekor beruang yang sedang minum air laut. Keberadaan pintu gerbang yang satu-satunya itu, semakin mencuatkan nama Pantai Logending sebagai objek wisata di Gombong.

Dari kondisinya, yang berada di antara laut selatan dengan kawasan hutan jati milik Perum Perhutani KPH kedu selatan ini, merupakan kombinasi atau perpaduan antara pantai dan hutan, seperti itu jarang kita jumpai. Untuk di Jawa Tengah mungkin hanya ada di kota yang berslogan “BERIMAN” ini.
Bagi anda ingin berkunjung ke tempat ini, tidak usah kawatir dengan keberadaan para pedagang liar karena pemerintah Kebumen sudah mengatur sedemikian rupa. Karena para pedagang sudah di tempatkan secara kusus sehingga tidak menganggu keindahan pantai Logending. Selain pantainya yang cukup lapang, para wisatawan juga bisa menikmati indahnya muara sungai Bodo, dengan perahu-perahu pesiar yang disediakan para nelayan setempat. Dengan perahu-perahu tradisional, maupun perahu tempel, kita bisa menelusuri muara sungai Bodo yang merupakan pemisah antara wilayah Kabupaten Kebumen dengan Kabupaten Cilacap. Selain air sungai Bodo yang tenang, rimbunnya pohon-pohon playau di tepian sungai, serta lebatnya hutan jati milik perhutani, menambah indahnya pemandangan…mboten percaya monggo kulo aturi mrisani piambak (ga percaya silahkan anda lihat sendiri).

Selain itu juga wilayah pantai Logending juga sering di jadikan tempat perkemahan, karena tempatnya yang begitu asri dengan fasilitas alam yang lengkap. Disini juga asyik untuk menguji andrenalin dengan sarana panjat tebing mengingat pantai ini bersentuhan langsung dengan perbukitan yang merupakan bagian dari pegunungan kapur. Berbagai tanaman dapat di jumpai di sini seperti tanamana mahoni Afrika. Makanya tidak heran banyak mahasiswa maupun perhutani sering mengadakan penelitian di tempat ini.

Obyek wisata pantai Logending, lokasinya sangat strategis, karena berada pada jalur lalulintas umum yang menghubungkan masyarakat di atas pegunungan, seperti, Argopeni, Karangduwur dan sebagainya dengan masyarakat di bawah pegunungan. Sarana jalan, dari Gombong hingga wilayah pegunungan yang melewati obyek wisata Logending, sangatlah mudah. Jalan beraspal hotmik, dengan bahu badan lebar, sangat memungkinkan untuk dilalui bus-bus besar dengan parkiran yang luas. Tersedianya fasilitas penginapan, wisma lengkap dengan tempat beribadah. Juga fasilitas permainan anak-anak, perahu-perahu nelayan yang difungsikan sebagai perahu pesiar, dan hampir setahun sekali obyek wisata ini diadakan lomba perahu tradisional.
Untuk yang ingin sekedar memiliki kenang-kenagan dari kunjungan ke pantai ini, jangan kuatir disini banyak tersedia souvenir tinggal pilih aja. baik itu makanan khas berupa grobi, gula kelapa, maupun ikan hasil tangkapan para nelayan, juga tersedia aneka souvenir berupa kerajinan anyaman-anyaman pandan, kerajinan kece dan sebagainya. Untuk mendapatkan souvenir cukup mudah, karena toko-toko souvenir letaknya berada di lokasi parkir, berjajar dengan rumah sederhana yang murah, meriah, namum penuh gizi, karena banyak menyediakan ikan segar.

Riwayat Singkat
Menurut juru kunci makam Selo Kabut Bapak Sastro yang di yakini oleh penduduk setempat sebagai makam Ki Ajar Tonggo. Ki Ajar ini adalah seorang yang pintar yang bermukim di Pantai Ayah atau Logending. Saat Ayah dikuasai dan diperintah oleh Adipati Suronegoro dan Kartonegoro I. Dan pada saat Jepang menduduki Indonesia, wilayah Ayah, merupakan salah satu tempat strategis yang dijadikan tempat pengintaian dan pos penjagaan, hal itu bisa dibuktikan dengan masih adanya peninggalan bangunan semacam benteng, baik di tepi pantai, maupun di atas pengunungan Gajah. Menurut penduduk setempat, bangunan-bangunan tadi merupakan tempat pengintaian untuk mengetahui tentara-tentara musuh dari arah barat, yaitu dari arah Cilacap dan Nusakambangan dengan mempergunakan perahu. Begitu pula, saat terjadi pergolakan revolusi di tahun 48 – 50, kawasan hutan setempat dijadikan tempat pelarian dan persembunyian tentara-tentara pejuang. namun sampai saat ini belum ada data yang menunjukkan, bahwa di kawasan itu dijadikan markas.
 
Ayoooo….kalau Anda kebetulan atau sedang berada di Kebumen nikmati indahnya wisata pantai Logending, Pedalen Suwuk, Petanahan dan masih banyak lagi atau bentuk-bentuk Goa seperti Goa Jatijajar dan Goa Petruk…  

Sabtu, 11 Juni 2011

Sungai "Kali" Luk Ulo Kebumen




Wilayah Kabupaten Kebumen tidak terlalu banyak di temukan sungai yang sangat panjang besar. Satu-satunya Sungai yang terkenal di wilayah ini hanyalah sungai Luk Ulo yang terletak di sebelah barat Kota Kebumen. Sebetulnya terlalu istimewa kalau di sebut sungai karena terlalu kecil, disebut Kali terlalu besar, terus enaknya disebut apa yah?. Biar agak keren dan mudah di cari di Google sebut Sungai aja. Dan lagi, melihat lebarnya memang lebih tepat di sebut Sungai.

Sungai Luk Ulo membelah dua wilayah Kabupaten Kebumen. Bagian barat mulai dari Pejagoan sampai dengan perbatasan Banyumas. Sedangkan bagian timur mulai dari Kota Kebumen sampai dengan perbatasan Kabupaten Purworejo. Masing-masing wilayah ini memiliki ciri tersendiri. Bagian barat lebih sedikit maju, karena untuk pertumbuhan bisnis wilayah ini lebih menjajikan semisal ada Desa Soka yang terkenal dengan Gentengnya yang berkualitas baik. Kota Gombong yang merupakan kota kedua terbesar di wilayah ini juga pantas di sebut sebagai kota bisnis. Sedangkan bagian timur cenderung agraris, bukan berarti ketinggalan dari segi pembangunan.

Sungai Luk Ulo di liat dari ketinggian
--> -->
Keistimewaan lain dari sungai Luk Ulo adalah sungai ini pernah menjadi batas wilayah kekuasaan antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Pajajaran. Pada waktu itu wilayah barat sungai Luk Ulo masuk kekuasaan Kadipaten Pasir Luhur yang berpusat di sekitar Purwokerto dan masuk daerah Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Bogor. Wilayah timur Sungai Luk Ulo adalah daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit dengan patihnya yang terkenal Gajah Mada.


Sejak jaman Mataram, Kebumen dikenal sebagai daerah lumbung padi, meski saat ini masih ada warga miskin. Swasembada beras layaknya sudah bisa terpenuhi. Tengoklah daerah lumbung padi di sepanjang wilayah Urut Sewu. Dengan adanya dua waduk sebagai penyuplay air ke persawahan yaitu waduk Wadaslintang di bagian timur dan waduk Sempor di bagian barat seharusnya Kebumen masih menjadi andalan penghasil Beras.

Sungai Luk Ulo sekaligus menjadi saluran irigasi yang mengaliri ribuan hektare persawahan penduduk. Ia pun menjadi pusat penelitian geologi (Karangsambung), home industri dari kerajinan bambu (misal sangkar burung, kurungan ayam, bangku panjang), dinding / atap rumah, pagar, anyaman, hingga , rumah bambu. Sunduk sate, bahan pembuat keramba (budi daya ikan) dan lampion pun terbuat dari bambu.

Sungai Luk Ulo, selain mengandung pasir berlimpah, dulu juga dikenal sebagai sungai yang ada emasnya. Hingga 1960-an masih banyak pendulang-pendulang emas yang mencoba mencari peruntungannya di sini. Adanya kandungan emas di Sungai Luk Ulo sebenarnya wajar saja, mengingat di bagian hulunya, sungai ini menerobos satuan batuan sedimen tua yang dinamakan formasi Totogan dan formasi Waturanda di Pegunungan Karangsambung, dua formasi yang banyak mengandung batuan-batuan beku vulkanik terobosan, dimana batuan jenis ini dikenal sebagai lokasi mineralisasi yang ekonomis dengan mengandung urat emas, perak maupun besi. Belum ada kajian tentang potensi emas di sini, namun bisa dikatakan, secara kasar tidak ekonomis untuk ditambang. Andaikata ekonomis, dengan status Karangsambung dan sekitarnya sebagai Taman Nasional Geologi, maka penambangan menjadi hal yang terlarang untuk di lakukan.

Kegiatan penambangan pasirdi Sungai Luk Ulo

Mengingat betapa penting sungai tersebut, serta makin banyaknya identitas daerah yang hilang, mengapa pemerintah daerah tidak menjadikan Luk Ulo sebagai identitas Kebumen? Dari segala jurusan, barat maupun timur, semua kendaraan pasti melewati jembatan di atas Kali Luk Ulo. Dengan demikian, Luk Ulo merupakan sungai yang sangat berguna sebagai sumber kemakmuran tirta kencana, seperti halnya Serayu, Musi, dan Bengawan Solo.

Jembatan Tembono menjadi bukti sejarah bangunan tua yang patut dicontoh untuk masa kini, supaya proyek jembatan yang ada di Kebumen bisa setangguh dan sekokoh jembatan itu.
Sungguh tepat kalau orang-orang bilang Luk Ulo ya Kebumen. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika Pemerintah Kabupaten Kebumen memiliki gagasan lebih kuat tentang identitas baru daerahnya.