Sabtu, 11 Juni 2011

Sungai "Kali" Luk Ulo Kebumen




Wilayah Kabupaten Kebumen tidak terlalu banyak di temukan sungai yang sangat panjang besar. Satu-satunya Sungai yang terkenal di wilayah ini hanyalah sungai Luk Ulo yang terletak di sebelah barat Kota Kebumen. Sebetulnya terlalu istimewa kalau di sebut sungai karena terlalu kecil, disebut Kali terlalu besar, terus enaknya disebut apa yah?. Biar agak keren dan mudah di cari di Google sebut Sungai aja. Dan lagi, melihat lebarnya memang lebih tepat di sebut Sungai.

Sungai Luk Ulo membelah dua wilayah Kabupaten Kebumen. Bagian barat mulai dari Pejagoan sampai dengan perbatasan Banyumas. Sedangkan bagian timur mulai dari Kota Kebumen sampai dengan perbatasan Kabupaten Purworejo. Masing-masing wilayah ini memiliki ciri tersendiri. Bagian barat lebih sedikit maju, karena untuk pertumbuhan bisnis wilayah ini lebih menjajikan semisal ada Desa Soka yang terkenal dengan Gentengnya yang berkualitas baik. Kota Gombong yang merupakan kota kedua terbesar di wilayah ini juga pantas di sebut sebagai kota bisnis. Sedangkan bagian timur cenderung agraris, bukan berarti ketinggalan dari segi pembangunan.

Sungai Luk Ulo di liat dari ketinggian
--> -->
Keistimewaan lain dari sungai Luk Ulo adalah sungai ini pernah menjadi batas wilayah kekuasaan antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Pajajaran. Pada waktu itu wilayah barat sungai Luk Ulo masuk kekuasaan Kadipaten Pasir Luhur yang berpusat di sekitar Purwokerto dan masuk daerah Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Bogor. Wilayah timur Sungai Luk Ulo adalah daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit dengan patihnya yang terkenal Gajah Mada.


Sejak jaman Mataram, Kebumen dikenal sebagai daerah lumbung padi, meski saat ini masih ada warga miskin. Swasembada beras layaknya sudah bisa terpenuhi. Tengoklah daerah lumbung padi di sepanjang wilayah Urut Sewu. Dengan adanya dua waduk sebagai penyuplay air ke persawahan yaitu waduk Wadaslintang di bagian timur dan waduk Sempor di bagian barat seharusnya Kebumen masih menjadi andalan penghasil Beras.

Sungai Luk Ulo sekaligus menjadi saluran irigasi yang mengaliri ribuan hektare persawahan penduduk. Ia pun menjadi pusat penelitian geologi (Karangsambung), home industri dari kerajinan bambu (misal sangkar burung, kurungan ayam, bangku panjang), dinding / atap rumah, pagar, anyaman, hingga , rumah bambu. Sunduk sate, bahan pembuat keramba (budi daya ikan) dan lampion pun terbuat dari bambu.

Sungai Luk Ulo, selain mengandung pasir berlimpah, dulu juga dikenal sebagai sungai yang ada emasnya. Hingga 1960-an masih banyak pendulang-pendulang emas yang mencoba mencari peruntungannya di sini. Adanya kandungan emas di Sungai Luk Ulo sebenarnya wajar saja, mengingat di bagian hulunya, sungai ini menerobos satuan batuan sedimen tua yang dinamakan formasi Totogan dan formasi Waturanda di Pegunungan Karangsambung, dua formasi yang banyak mengandung batuan-batuan beku vulkanik terobosan, dimana batuan jenis ini dikenal sebagai lokasi mineralisasi yang ekonomis dengan mengandung urat emas, perak maupun besi. Belum ada kajian tentang potensi emas di sini, namun bisa dikatakan, secara kasar tidak ekonomis untuk ditambang. Andaikata ekonomis, dengan status Karangsambung dan sekitarnya sebagai Taman Nasional Geologi, maka penambangan menjadi hal yang terlarang untuk di lakukan.

Kegiatan penambangan pasirdi Sungai Luk Ulo

Mengingat betapa penting sungai tersebut, serta makin banyaknya identitas daerah yang hilang, mengapa pemerintah daerah tidak menjadikan Luk Ulo sebagai identitas Kebumen? Dari segala jurusan, barat maupun timur, semua kendaraan pasti melewati jembatan di atas Kali Luk Ulo. Dengan demikian, Luk Ulo merupakan sungai yang sangat berguna sebagai sumber kemakmuran tirta kencana, seperti halnya Serayu, Musi, dan Bengawan Solo.

Jembatan Tembono menjadi bukti sejarah bangunan tua yang patut dicontoh untuk masa kini, supaya proyek jembatan yang ada di Kebumen bisa setangguh dan sekokoh jembatan itu.
Sungguh tepat kalau orang-orang bilang Luk Ulo ya Kebumen. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika Pemerintah Kabupaten Kebumen memiliki gagasan lebih kuat tentang identitas baru daerahnya.